Journal

-- the pilgrim journey --

Home / notes / Kelas Inspirasi, Merajut Mimpi Menggapai Cita
Feb 24 2014

Kelas Inspirasi, Merajut Mimpi Menggapai Cita

Kemarin-kemarin sih semangat ingin menulis testimoni eh sepenggal kisah tentang Kelas Inspirasi. Tapi begitu punya waktu malah bingung mau nulis apa.

Cerita ini dimulai tahun 2013 waktu saya daftar kelas inspirasi di Bandung tapi ternyata tidak diterima. Waktu itu nyadar sih pasti yang daftar banyak tapi di satu sisi sempat terpikir jangan-jangan karena profesi saya yang aneh. Gimana nggak aneh coba. Astronom Komunikator. Profesi apa pula itu? Jangankan yang baca profil saya, kayaknya saya sendiri kalau tidak mengalami tidak akan pernah menyadari ada yang namanya komunikator. Taunya cuma edukator aka pendidik doank.

Waktu berlalu dan tahun 2014, ada lagi Kelas Inspirasi 2 di Bandung. Kali ini pun saya mendaftarkan diri dan pendaftaran baru berhasil dilakukan di batas akhir pendaftaran.  Sebelumnya saya beberapa  kali mencoba melakukan pendaftaran, tapi saat dimasukkan, eh itu web katanya database error. Kali ini pun waktu mendaftar saya tidak terlalu berharap akan diterima. Kalau diterima syukur kalau tidak pun tidak masalah. Tujuan mendaftar, seperti biasa saya hanya ingin berbagi tentang pekerjaan saya dan ilmu yang saya dalami sekaligus menantang diri sendiri apakah saya mampu mengajar anak SD untuk bisa memahami profesi saya. Sudah terbayang sebenarnya kelas seperti apa yang akan saya hadapi. Dan justru itu yang membuat saya cukup bersemangat.

Briefing di Pendapa Kota Bandung
Tanggal 9 Februari, seluruh relawan Kelas Inspirasi 2 Bandung melakukan briefing di Pendapa Kota Bandung. Ternyata kali ini yang daftar juga luar biasa banyaknya. Dari 800 pendaftar, hanya 500 lebih yang diterima dengan penempatan 40 sekolah.  Untuk KI2 ini saya ditempatkan di SD Sejahtera 4 bersama 19 rekan inspirator, 3 Fotografer, 2 Videografer dan ditemani 1 fasilitator. Di antara semua inspirator, hanya 1 yang saya kenal, karena memang beliau ini merupakan kawan saya saat kuliah sampai sekarang. Jadilah kami mungkin yang paling senior di antara relawan yang lain. Taunya dari mana? Gampang… tanya aja ke semua inspirator dan fotografer plus videografer, saat AADC di bioskop kalian kelas berapa? Tapi ternyata setelah saling menambahkan teman di facebook, kok yah mutual friendnya lumayan. Ternyata dunia itu sempit yak?

Balik lagi ke briefing, hari itu selain bertemu rekan baru yang akan bekerja bersama menginspirasi para siswa, kami juga diberi pelajaran singkat bagaimana cara mengajar siswa dan bagaimana membuat mereka tetap fokus pada sang guru. Di antaranya yah tips dan trick mengajar, ice breaker game, bagaimana mengajak siswa untuk tenang, dan bagaimana menghargai siswa ketika dia menjawab.Sebelum briefing berakhir, setiap kelompok pun berdiskusi apa yang mau dilakukan, yel-yelnya seperti apa dan yang pasti kenalan dulu donk!

Di kelompok saya ada Andalusia yang berprofesi sebagai Content Creative Bahasa Indonesia, Angga sang pelatih marching band, Dewi yang profesinya jadi Project Leader dan selalu sibuk mengorganisir kegiatan, juga ada Fitria penerima beasiswa Dikti dan pemilik toko online. Martina yang berprofesi sebagai Konseling Gizi, Krismiyati yang saat ini bekerja sebagai peneliti, Gun Gun yang berprofesi sebagai trainer, Hinny yang berkecimpung dalam dunia administrasi, Guntur yang sehari-harinya bekerja sebagai model, Shulby yang juga model dan penyiar, Nofha Rina yang sehari-harinya bekerja sebagai dosen, Tinna yang tiap hari teriak-teriak karena harus menjadi Scientific Training Officer, juga Yuliyanti yang berkecimpung dalam dunia Research & Development di Wardah Kosmetik, Puja yang profesinya paling digemari sekarang yaitu sebagai orang IT plus penulis, Noprizal yang berprofesi sebagai PNS dan fasilitator kami Aji yang berprofesi sebagai coboy.

Di kelompok Sejahtera 4, tergabung juga fotografer yang punya ide brilian buat rame-rame senam Yang Iya Iyalah yakni Mussoli, dua fotografer cantik Fika dan Bernadeta serta Videografer yang datang dari jauh aka dari Jakarta Bob Adrians. Sebenarnya ada Bu Esther yang berprofesi sebagai pilot dan 2 inspirator lagi yang pada akhirnya batal ikut. Dari rekan-rekan yang saya sebut juga Andalusia dan Nofha Rina batal untuk ikut karena alasan kesehatan.

Uniknya tim kami jadi bertambah dengan hadirnya tim Damkar yang akan datang membawa 1 mobil damkar dan 10 personel untuk menginspirasi siswa. Saya sih senang sekali ada damkar yang dateng. Disini siswa bisa diajar pentingnya menjadi petugas damkar karena pekerjaannya juga berhbungan dengan nyawa manusia dan kelangsungan hidup masyarakat sehari-hari. Di Indonesia, petugas Damkar mungkin cuma dikenal sebagai petugas pemadam api saat kebakaran. Padahal mereka punya tugas lain yakni bagian penyelamatan yang fungsinya adalah menolong masyarakat. Tapi ternyata mendatangkan Damkar bukan perkara mudah!

Persiapan
Untuk persiapan acara, seperti biasa harus ada survey lapangan aka mengunjungi sekolah yang akan menjadi tempat kami mengajar. Setelah survey kami diberitahu hanya akan mengajar kelas 4 dan 5 tapi ternyata ini malah jadi berubah dan akhirnya kami pun mengajar kelas 2-5. Dan jam mengajar hanya 2 jam pelajaran per kelas dikarenakan SD Sejahtera 4 akan melaksanakan  latihan persiapan ujian untuk kelas 6. Kelas 1 tidak diikutsertakan karena inspirator yang hanya 14 plus 1 fasilitator jadi kami ber-15. Persiapannya pun seru sekali! Karena dari pihak Damkar ingin mengadakan simulasi kebakaran dan penyelamatan! Bayangkan, siang-siang ada kebakaran dan Damkar pun langsung datang memadamkan api dan menyelamatkan yang pingsan. Skenarionya sih oke punya, tapi untuk bisa melaksanakan acara tersebut rupanya perlu ada jalan berliku penuh drama!

Dari pihak Damkar meminta panitia untuk mengajukan surat pemberitahuan kepada pihak kepolisian kalau akan ada acara tersebut. Jadi kami pun membuat surat pemberitahuan ke polsek, eh ternyata menurut pak intel di Polsek Sukajadi, suratnya kurang. Harus ada Surat Ijin dari sekolah tembusan ke dinas pendidikan, surat ijin rt/rw dan surat pernyataan dari Damkar yang akan datang. Dan itu kejadiannya pas H -1. Percayalah.. gak usah nanya besok mau ngajar apa karena yang ada di pikiran hari itu, bagaimana bisa memperoleh surat ijin keramaian dari Polsek! Saat mencari surat ijin RT/RW ada juga “tragedi” sekolah tidak diakui masuk di RT tersebut dan akhirnya ke RW. Dan Puja yang bertugas meminta surat ijin di RW merasakan “bully” ala Pak RW dan sekretaris RW.  Saat itu mungkin saya, Dewi, Puja “puyeng” dengan kericuhan hari itu, tapi hari ini pengalaman itu jadi cerita menarik yang pastinya juga seru untuk diceritakan kembali. Terimakasih juga untuk Ibam sang Ketua KI2 Bandung yang akhirnya ikut turun tangan menyelesaikan masalah perijinan di Polsek. Yaiii Damkarnya jadi simulasi!

Berdasarkan briefing, malam sebelum ngajar adalah saat untuk mempersiapkan besok akan mengajar apa. Dan fasilitator kami pun sudah mengirimkan tip dan juga cara mengatur waktu mengajar. Tapi rasa lelah sepanjang hari itu ternyata memenangkan pertarungan. Jadilah malam itu saya sendiri tidak bisa berpikir akan melakukan apa. Yang pasti, mengandalkan daya ingat mengajar anak TK dan SD kelas 1 & 2 untuk memperkenalkan astronomi, rasanya sudah bisa dibayangkan kehebohan dan pertanyaan-pertanyaan spontan yang terlontar. Jadi…..

Idenya hanya satu. Mari kita berimprovisasi! Atau memang ini kebiasaan saya yah? Kalau kata teman-teman saya di konferensi sih… We are professional structured procrastinator! aka deadliner!

Rencana kasarnya sih ingin mengajak siswa menikmati pengalaman melihat dari teleskop dan mengamati Matahari. Jadi mereka bisa merasakan pengalaman menjadi astronom dan menceritakan kembali apa yang mereka lihat ke teman-temannya. Tapi karena masih random jadilah saya mempersiapkan Universe in the Box, kacamata Matahari, 3 teleskop You Are Galileo dan 1 teleskop Meade 8cm. Saya juga meminta ijin dari ketua KI dan fasilitator untuk mengajak seorang rekan untuk menangani instrumentasi. Perhitungan saya, untuk satu jam pelajaran 35 menit dengan 40 siswa dan 3 teleskop tak mungkin dikerjakan sendiri. Plus nggak mungkin juga teleskop saya tinggal sendirian di lapangan atau bolak balik diangkat dan diarahkan ke Matahari. Dan saya bersyukur diijinkan mengajak rekan saya. Tapi yah di kelas jelas saya yang akan bercerita. Bisa dipentung rame-rame kalau saya malah ga ngajar. Kebetulan memang waktu itu, saat bercengkrama eh ngobrol dengan Ronny dari HAAJ dia tertarik untuk ikut dan melihat dan bersedia membawa proyektor dari Jakarta. Jadilah malam itu saya juga mempersiapkan materi untuk presentasi.  Tapi ya tetap saja .. lebih banyak tentatifnya..

Hari Inspirasi telah tiba
Saat hari inspirasi tiba, kami semua berkumpul di Snack Corner di dekat sekolah untuk berlatih senam yang iya iyalah. Heboh dan tampaknya Pak Satpam jadi terusik. Dan akhirnya acara hari itupun dimulai. Pembukaan yang dipimpin oleh Guntur dan Shulby sebagai MC memeriahkan suasana. Apalagi ditambah nyanyian yel SD Sejahtera 4 dengan nada Halo Halo Bandung. Tapi sayangnya senamnya dibatalin dengan suara bulat karena waktu sudah menunjukkan jam pelajaran dimulai. Masing-masing pun menuju kelasnya. Saya sendiri kebagian kelas 3B dan 5C.

Jam pelajaran pertama saya mengajar di kelas 3B. Acara dimulai dengan perkenalan dan karena sekolah kehabisan kabel maka saya pun presentasi hanya menggunakan ipad untuk menunjukkan gambar-gambar dan menjelaskan pekerjaan astronom dan astronom komunikator sekaligus bercerita apa yang dipelajari astronom. Para siswa pun diajak untuk terkagum-kagum dengan skala alam semesta dari Bumi ke Alam Semesta. Sayangnya tak banyak yang tahu tentang astronomi disini. Nama-nama planet saja masih pada gak hafal.  Mereka juga tidak tahu tentang Observatorium Bosscha, salah satu landmark eh tempat wisata terkenal di Bandung ini. Tapi banyak juga yang ingin jadi astronaut. Ada juga yang bertanya bagaimana menjadi seorang astronom ? Apakah harus sekolah tinggi? Hmm… jawaban saya saat itu, kalau kamu ingin menjadi seorang astronom maka kamu memang harus terus rajin dan bersekolah di bidang astronomi. Tapi.. uniknya astronomi, kamu pun bisa memulai karir dari hobi. Kuncinya hanya: sukailah apa yang kamu lakukan dan tekunlah bekerja! Kehadiran Ronny juga menjadi contoh yang baik karena saya bisa bercerita seperti apa menjadi astronom amatir.

Setelah itu, para siswa pun berbaris menuju lapangan dengan tertib untuk “menjadi astronom” me-noong bintang yang sedang menyinari Bumi. Apalagi kalau bukan Matahari. Yang menarik mereka tertib banget membentuk barisan dan satu persatu bergantian melihat Matahari dari kacamata Matahari dan teleskop. Setelah itu mereka juga diijinkan mencoba menggunakan teleskop You Are Galileo untuk melihat bulan dan bintang di kubah mesjid dan menjelaskan pada teman-temannya apa perbedaannya. Inilah pekerjaan astronom! Mengamati benda langit dan mempelajari si benda langit dari informasi yang ia terima. Dan pekerjaan saya sebagai astronom komunikator adalah menceritakan kembali apa yang dilihat dan diteliti astronom kepada masyarakat. Jadi ketika si anak bisa bercerita kepada temannya setidaknya dia bisa menikmati bagaimana bekerja sebagai komunikator sains.  Para guru dan siswa kelas 6 yang masih ada di lapangan juga akhirnya ikut menoong Matahari menggunakan kacamata Matahari. Bahkan ada siswa kelas 6 yang membawa sendiri kacamatanya.

Dari lapangan ke kelas, para siswa ini masih malu-malu untuk bercerita tapi mereka justru rajin bertanya, terkait mengapa teleskop membuat bayangan terbalik. Mengapa Matahari tampak kecil di kacamata dan lebih besar di teleskop. Plus mengapa juga Matahari tampak lebih kecil dari Bumi.  Ada insiden kecil ketika akan kembali ke kelas, seorang siswa menangis karena “disuruh” berbaris paling belakang.  Kami pun mengobrol sejenak dan saya meyakinkan dia bahwa menjadi yang paling belakang bukan berarti kamu paling terakhir tapi kamu bisa jadi yang terdepan. Temannya yang menyuruh dia ke belakang juga saya ajak ngobrol untuk memberi pesan kata-kata sama menyakitkannya dengan pukulan. Dia sih menjawab “tapi kan dia gak saya pukul”.

Akhirnya jam pertama pun selesai, dilanjutkan ke jam pelajaran berikutnya di kelas 5B. Kali ini para siswa sudah lebih mengenal Tata Surya meskipun masih juga menganggap bahwa Alien dan UFO adalah benda langit. Dan kami pun bercerita sambil bertanya jawab. Disini pun saat ditanya banyak yang ingin jadi astronaut. Siswa kelas 5 ini sepertinya lebih cepat bosan dibanding kelas 3. Mungkin dikarenakan waktu yang sudah mendekati jam pulang dan makan siang juga. Tapi mereka masih tetap tertarik dengan foto-foto yang saya tunjukkan terutama foto bisa jalan-jalan ke luar negeri. Pertanyaannya saat itu, apa dengan jadi astronom komunikator bisa jalan-jalan ke luar negeri? Mungkin saya bukan seorang inspirator yang baik yang bisa mempengaruhi anak untuk tertarik hanya pada satu profesi. Saya memang memperkenalkan profesi saya tapi saya juga menanamkan dalam diri mereka bahwa profesi itu dimulai dari kecintaan akan sesuatu yang dijalani dengan tekun. Profesi sebagai astronom atau astronomi komunikator bisa lahir dari kecintaan dan hobi. Bahkan dari hobi memotret pun si anak bisa masuk dunia astronomi, meskipun untuk jadi astronom profesional yang sibuk meneliti memang dibutuhkan pendidikan astronomi.

Dan kami pun menuju lapangan untuk melanjutkan pengajaran hari itu dengan mengamati Matahari.  Ada sih yang berkomentar kok cuma segitu? Dan menyatakan pekerjaan astronom membosankan. Tapi mereka justru antusias dengan cara kerja teleskop yang menyebabkan bayangan bisa terbalik tapi mengapa saat melihat Matahari tidak terbalik.

Sayangnya sesi dengan kelas 5 tidak sempat diakhiri dengan cerita cita-cita masing-masing anak karena sesuatu dan lain hal, tiba-tiba datang siswa-siswa kelas lainnya yang bergabung dan ikut antri di teleskop. Akhirnya kami pun ikut melayani mereka menikmati obyek langit yang menerangi Bumi tersebut. Dan sebelum kami selesai, datanglah para petugas yang memulai pembakaran di tong untuk simulasi kebakaran. Akhirnya para siswa pun dikondisikan untuk bertemu di titik pertemuan dan bersiap untuk dilatih bagaimana menangani kebakaran.

Kebakaran.. kebakaran! Api menjilat naik ke angkasa dan ada yang pingsan (bagian ini beneran ada yang simulasi pingsan gak sih? lupa). Para siswa yang berkumpul ada yang bertanya.. ini pura-pura kan kak? Atau kami mau dibakar? Tak lama kemudian setelah ditelpon ke 113, datanglah pemadam kebakaran! Dan lagi-lagi ada siswa yang komen, ihhh cepet banget petugas pemadamnya!

Beneran cepet ga yah kalau kejadian? Para petugas damkar dan rescue pun beraksi memadamkan api dan menyelamatkan yang pingsan serta memberi penjelasan kepada para siswa tentang pekerjaan mereka. Plus bagaimana menangani kebakaran. Acara hari itu diakhiri dengan foto bersama dan disiram eh dihujani air oleh petugas damkar! Seru dan asik!

Setelah Kelas Inspirasi Berakhir…
Hari itu evaluasi dilanjutkan di Pendapa Kota Bandung. Sayangnya karena satu dan lain hal saya pun terlambat datang dan hanya kebagian bikin janji bareng-bareng. Tapi apa yang jadi perhatian saya adalah perbedaan antara siswa siswa di sekolah negeri dan swasta yang pernah saya sambangi. Siswa di SD Sejahtera 4 mengingatkan saya pada siswa di Ambon yang pada awalnya lebih banyak diam dan sulit untuk bertanya sementara fenomena di sekolah swasta yang pernah saya kunjungi, siswa sejak TK sudah dibiarkan untuk bertanya dan dibiarkan berimajinasi. Setidaknya dari pertanyaan yang mereka sampaikan, seringkali justru membuat saya terperangah.  Sayangnya waktu yang saya miliki tak banyak untuk bisa bercengkrama dengan siswa, seperti halnya di sekolah lainnya setelah sesi pengajaran berakhir.

Dari kacamata saya, para siswa yang saya temui cenderung diam dan kurang membiarkan imajinasi liar mereka keluar untuk dipertanyakan. Apakah karena sistem yang seringkali menyebabkan siswa takut atau kuatir mengeluarkan pertanyaan? Kalau mengingat kembali masa saat saya sekolah, bertanya merupakan hal yang dihindari karena kuatir dibilang bodoh. Bahkan ketika para siswa yang saya ajar ini menyebutkan Pluto sebagai planet dan ada temannya yang menegur menyatakan pluto bukan planet dia cepat-cepat merubah jawabannya. Dari interaksi sekilas, saya melihat siswa takut untuk melakukan kesalahan. Berbeda sekali dengan siswa yang pernah saya ajar, yang seringkali bercerita tentang imajinasi liar mereka dan teori “unik” yang mereka bangun tentang alam semesta. Atau tak segan menjawab dan bertanya meskipun jawabannya tidak tepat atau bahkan jauh melenceng sekalipun. Karena pada akhirnya yang ingin mereka dengar bukan jawaban benar atau tidak tapi cerita si pengajar.

Apapun itu 70 menit mengajar di dua kelas belum tepat untuk memberi penilaian menyeluruh akan sistem pendidikan. Apalagi tampaknya SD Sejahtera 4 juga aktif dalam kegiatan-kegiatan seperti marching band dan juga olimpiade sains. Yang pasti, tampaknya SD Sejahtera 4 sering menerima penghargaan kalau dilihat dari piala yang menghias ruangan kepala sekolah.

Yang jadi pertanyaan saya, apakah olimpiade itu memang karena siswa tersebut menyukai sains atau lagi-lagi hanya untuk memenangkan sebuah perlombaan dan menjadikan siswa sebagai manusia-manusia instan  dan menempatkan mereka yang tidak memiliki nilai tinggi sebagai orang tak berprestasi.  Ini bukan penilaian pada sekolah yang saya kunjungi tapi sebuah simpulan kasar dari perjalanan dan pertemuan dengan siswa dan guru yang memuja kemenangan olimpiade sebagai tolok ukur keberhasilan pengajaran sebuah sekolah, daerah dan negara!

Get real! and wake up from your dream! Perjalanan pendidikan di Indonesia masih sangat panjang! Selama saya masih terus menerima pernyataan bahwa isi kitab suci merupakan fakta sains, maka itu artinya pendidikan kita masih punya banyak PR dan masih harus meniti perjalanan yang sangatttttt jauh. Apalagi dengan kehadiran kurikulum 13 menuju surga saat ini.

Dan inilah tugas dari para profesional di berbagai bidang untuk terus menginspirasi generasi berikutnya untuk melihat kesuksesan dan cita-cita dari sisi yang berbeda. Bukan sekedar menginspirasi siswa untuk mengejar cita-cita tapi juga menginspirasi siswa untuk tekun, bekerja keras, mampu berpikir kritis dan memiliki kemampuan logika yang baik aka punya pemikiran saintifik! Kehadiran inspirator dari berbagai profesi tidak saja membuka wawasan cita-cita untuk para siswa, melainkan juga memberi mereka cerita bahwa profesi bukan saja lahir dari bangku sekolah dan selalu berhubungan dengan sains atau ekonomi atau teknologi. Tapi seringkali profesi justru lahir dari hobi dan kreativitas.

Yang pasti Kelas Inspirasi juga menginspirasi saya dan saya yakin seluruh rekan-rekan inspirator untuk terus berkarya dan berjalan di jalan yang sunyi ini…

Saya akhiri tulisan  ini dengan parafrase dan simpulan saya pribadi dari IAU Strategic plan: “Astronomy provides an exciting gateway into physics, chemistry, biology, mathematics, technology, art and culture. Astronomy also inspires teenagers to choose their career in science and technology”.

___

Kredit foto bersama yag menjadi fitur : Mussoli
Kredit foto saat saya mengajar dan pengamatan Matahari di lapangan  Bernadeta Victoria Menur

Share this entry
4 Comments
  1. waw, ada noprizal temen tpbku

    Reply
  2. Pingback:Kenangan Yang Terangkum dari KI di SD Sejahtera 4 | simplyvie

  3. Pingback:Kenangan Yang Terangkum dari KI di SD Sejahtera 4 | simplyvie

  4. Pingback:Satu Hari Sebagai Inspirator Pengganti | simplyvie

Leave a Reply

And we all, who with unveiled faces contemplate the Lord’s glory, are being transformed into his image with ever-increasing glory, which comes from the Lord, who is the Spirit.
Tentang Saya
avivah yamani

avivah yamani

- a pilgrimage -
tukang cerita astronomi. tukang main game. yuk kenalan
dari balik kamera
Kategori
Ingin tau coretan terbaru? Daftar yuk!

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

%d bloggers like this: