Journal

-- the pilgrim journey --

Home / notes / Kisah Tembok Si Muka Buku
May 5 2014

Kisah Tembok Si Muka Buku

Yang di atas adalah status yang saya publikasikan di dinding Facebook saya beberapa hari lalu. Dan tentu saja menuai komentar meski tak banyak.

Pertanyaannya, apa yang ada di benakmu saat membaca tulisan itu? Apa yang tersirat disana?

Tampaknya komentar yang tertulis dan tidak tertulis alias yang bertanya langsung mengarah pada satu pokok bahasan yang sama. Kisah Asmara. Tulisan ambigu tersebut dipahami sebagai kegalauan akan kisah asmara penulis.

Tanpa perlu menuliskan maksud dan tujuan status tersebut, kesimpulan bisa diambil. Si penulis sedang galau dan mungkin sudah lelah dengan hubungannya dengan seseorang.

Kesimpulan tersebut justru melahirkan pertanyaan untuk saya. Mengapa kesimpulannya mengarah pada masalah pribadi si pemilik status. Ok lebih jelas lagi, mengapa ketika seseorang mempublikasikan sesuatu di media sosial kemudian dikaitkan dengan kehidupan pribadinya? Entah itu urusan asmara yang lagi pacaran atau bahkan tentang rumah tangga. Atau kadang malah menyasar pada keyakinan dan kepercayaan akan Tuhan.

Hal tersebut terjadi beberapa minggu lalu saat saya menuliskan tentang pencarian dana. Hal sederhana tentang perbedaan pola pencarian dana yang pernah saya lakukan dan alami plus penerimaan masyarakat justru diarahkan tentang bagaimana seharusnya kita bersikap terhadap kesulitan mencari dana dan hubungan dengan Tuhan.

Atau jika ada publikasi status yang sedikit nyeleneh maka bisa disimpulkan kalau orang tersebut sudah tidak dekat dengan Tuhan. Dan masih banyak lagi.

Pertanyaannya, bagaimana mungkin sebaris kalimat yang ambigu bisa memberikan kesimpulan tentang kehidupan orang lain? Saya tidak tahu dan tidak punya jawabannya.

Tapi sebagai seseorang yang bertahun-tahun hidup di dunia maya, bahkan sejak sebelum semua media sosial dibuat ada fenomena menarik yang menjadi perhatian saya.

Dari pengalaman pribadi, dulu ketika masih sering malang melintang di berbagai forum, para pengguna cenderung memilih untuk menggunakan alter ego-nya dalam berinteraksi. Sangat amat jarang menemukan seseorang menggunakan nama asli apalagi untuk kemudian bercerita tentang hal-hal pribadi. Jika ada lebih banyak ditampilkan dari sisi orang ketiga yang bercerita ataupun diceritakan tanpa merasa kuatir karena menggunakan nama samaran.

Ketika media sosial perlahan-lahan atau mungkin dengan cepat mengambil alih pola komunikasi masyarakat modern, para pengguna lebih sering menggunakan nama asli. Tidak salah mengingat tujuan dari media sosial memang untuk membangun jejaring dan berbagi ide.

Media sosial merupakan situs web atau aplikasi yang memampukan pengguna untuk mempublikasikan dan berbagi konten serta ikut berpartisipasi aktif dalam jejaring sosial.

Dari Wikipedia, Media sosial diartikan sebagai interaksi antar pengguna dimana terjadi penyediaan informasi, pembuatan konten, berbagi atau bertukar informasi dan ide dalam komunitas dan jejaring maya.

Lebih sederhananya lagi kalau untuk para pengguna umum, media sosial seperti Facebook dan twitter merupakan wadah untuk berbagi informasi sekaligus menjalin kembali hubungan dengan rekan dan keluarga yang berada jauh. Maupun untuk membangun hubungan pertemanan baru dan atau berjualan!

Dan dalam prakteknya, apa yang terjadi? Para pengguna sering kali menuliskan tidak hanya ide tapi juga problematika pribadi untuk disebarkan pada teman-temannya atau bahkan di ruang publik. Tak jarang ketika membaca isi lini masa media sosial seperti Facebook, saya justru menemukan curahan hati para penggunanya entah itu keluhan, kebahagiaan, pertengkaran, kemarahan, romansa dan berbagai ekspresi lainnya. Kadang berupa monolog, kadang ada juga yang melakukannya dalam bentuk dialog.

Menarik karena dari sini mungkinkah kita memaknai mengapa fenomena seperti ini bisa terjadi? Para pengguna memilih untuk terbuka di media sosial tanpa perlu menggunakan alter ego untuk menutupi identitas pribadi.

Menurut Profesor Komunikasi S. Shyam Sundar, yang juga co-director dari Media Effects Research Laboratory, Penn State, tipe aksi atau aktivitas yang dilakukan pengguna dan jenis informasi yang dibagikan pengguna di dinding Facebook mereka merupakan sokongan/dukungan/pengabsahan dari identitas mereka. Kamu adalah Facebook-mu. Sepertinya media sosial yang satu ini sudah menjadi media pribadi bukan sekedar penyambung hubungan yang lama terputus atau untuk berbagi ide tapi juga untuk berbagi kehidupan pribadi entah itu dalam kondisi sedang baik-baik saja ataupun terpuruk.

Masih menurut Sundar, pengguna dengan kepercayaan diri yang rendah cenderung peduli dengan apa yang dikatakan orang lain tentang dirinya dan pengguna dengan kepercayaan diri yang sangat tinggi akan memberikan lebih banyak usaha untuk membagikan informasi terkait profil pribadi di jejaring sosialnya. Pengguna dengan kepercayaan diri yang rendah akan secara terus menerus memonitor dinding FB mereka dan menghapus tulisan yang tidak diinginkan dari pengguna lainnya. Facebook merupakan legitimasi eksistensi pribadi.

Pada akhirnya media sosial seperti Facebook digunakan sebagai pengganti waktu tatap muka untuk menceritakan semuanya. Bahkan meskipun sudah disediakan fasilitas yang lebih personal seperti fasilitas pesan, tetap saja kita akan menemukan kisah-kisah pribadi berseliweran di tembok ratapan model baru di dunia maya.

Tampaknya ruang pribadi dan ruang publik sudah tidak punya sekat di dunia maya. Ataukah memang ada kesengajaan untuk membagi hal-hal pribadi untuk memperoleh perhatian? pengakuan? pembenaran? dukungan? ataukah mencari opini yang berbeda? Apakah mempublikasikan hal-hal pribadi bisa menyelesaikan masalah atau justru menambah problematika?

Media sosial tidak hanya digunakan oleh para pengguna untuk saling berhubungan. Media sosial adalah cerita yang ingin kamu tampilkan tentang dirimu. Dan itu tidak hanya dilihat oleh teman-temanmu tapi juga oleh rekan-rekan kerja.

Apakah dengan menampilkan problema keluarga dan pertengkaran atau hal-hal negatif lainnya maka kamu ingin dikenal sebagai pribadi yang belum bisa mengatasi dirinya sendiri? Ataukah memang sekedar ingin mencari pembenaran atas tindakan yang diambil? Apapun alasannya hanya si pengguna yang mengetahuinya.

Melihat kecenderungan perilaku pengguna tersebut, jadi tak mengherankan kalau publikasi status seseorang kemudian dikaitkan dengan hal-hal pribadi. Ya karena bagi sebagian pengguna, Facebook merupakan tempat untuk menceritakan segalanya.

Hal lain yang juga salah kaprah dari penggunaan Facebook adalah penggunaan akun pribadi untuk berjualan. Jika kamu ingin membangun brand, silahkan gunakan laman FB aka page yang memang sudah disediakan untuk itu. Disitu kamu bisa menganalisa kekuatan brand  dan juga pengaruhnya pada pengguna lain. Saya sendiri banyak berkecimpung dalam media sosial sekaligus juga menganalisa dampaknya pada komunikasi sains khususnya astronomi.

Jadi, bagaimana kamu dikenal di dunia maya tergantung pada dirimu sendiri. Oya, terkait status saya di atas. Sayang sekali itu bukan tentang hubungan pribadi saya dengan seseorang, tapi dinamika petualangan saya selama 7 tahun dengan server yang menjadi rumah bagi situs saya yang kebetulan saat status itu dibuat sedang mengalami problema.   Ada banyak cerita dan pengalaman menarik yang terjadi selama 7 tahun yang bisa saya tuliskan sebagai pengguna biasa yang kemudian harus memahami juga seluk beluk dunia web dan server ketika menjadi pembuat konten sekaligus bertindak sebagai sysadmin.

Status di atas sengaja dituliskan untuk mengetahui persepsi dan asumsi para pembaca. Dan tampaknya saya pun sudah menemukan jawabannya.

Share this entry

Leave a Reply

The commandments, “You shall not commit adultery,” “You shall not murder,” “You shall not steal,” “You shall not covet,” and whatever other command there may be, are summed up in this one command: “Love your neighbor as yourself.”
Tentang Saya
avivah yamani

avivah yamani

- a pilgrimage -
tukang cerita astronomi. tukang main game. yuk kenalan
dari balik kamera
Kategori
Ingin tau coretan terbaru? Daftar yuk!

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

%d bloggers like this: