Journal

-- the pilgrim journey --

Home / film / Catatan Kecil dari Film Cahaya dari Timur, Beta Maluku!
Jun 22 2014

Catatan Kecil dari Film Cahaya dari Timur, Beta Maluku!

Pernahkah kamu masuk sebuah wilayah dan ditanya identitasmu, apa agamamu dan harus membuktikannya dengan doa dan pernyataan sesuai agama di daerah itu? Pernahkah kau rasakan betapa kuatirnya ketika ada keluarga yang bertemu di daerah perbatasan untuk berbagi kabar dan membawa makanan atau pakaian? Atau ketakutan dan kepanikan setiap mendengar tiang listrik atau kentongan dipukul? Atau keluarga yang harus hidup terpisah karena berbeda keyakinan dan harus menumpang kapal pengusngsian dengan ketar ketir penuh kekuatiran kalau pertikaian pun bisa pecah di kapal? Atau melihat teman yang pernah dekat dipenjara karena pilihan dan ekses dari pilihannya yang menghilangkan nyawa orang lain?

Saya pernah mengalami sebagian dan keluarga saya pernah mengalaminya semasa di Ambon.

Cahaya dari Timur Beta Maluku

Konflik di Ambon memang merupakan episode kelam yang pernah mengisi cerita kehidupan banyak orang yang mengalaminya di sebuah daerah konflik bernama Maluku.  Buat saya cerita ini hanya satu babak pendek ketika saya pulang ke Ambon tahun 1999. Tapi bagi keluarga saya yang sempat bertahan lama dan juga teman-teman yang tak pernah keluar, kisah pilu itu menjadi catatan sejarah dan kenangan pahit yang mungkin masih membayangi.

Kisah pertikaian itu memang sudah selesai, berganti dengan mimpi dan harapan untuk membangun kembali apa yang pernah hancur dan menata kembali jalinan saudara yang luluh lantak.

Sepenggal episode dari perjalanan kehidupan di masa pertikaian itu yang kemudian  dipaparkan lewat film Cahaya dari Timur Beta Maluku.

Film ini dibuka dengan titipan iklan pemkot Ambon yang membangkitkan kerinduan kembali ke Ambon buat pattimura-pattimura muda yang sedang tersebar di seluruh pelosok negeri. Ambon yang indah dan menawan. Ambon yang ramah… ambon yang sudah menata kembali kehidupannya, dan pantai-pantainya yang ciamik!!! lo pikir Bali doank yang bagus..? Buat saya, pantai-pantai di Ambon dan deburan ombaknyalah yang memberi semangat untuk terus mengayun langkah dan bergerak maju.

Nah, setelah iklan… film CdT pun dimulai dengan paparan latar belakang kisah ini.  Konflik horisontal di Ambon! Bagian inilah yang mungkin paling berpengaruh untuk saya. Kilasan masa lalu menyeruak membuat saya harus mengakui.. ini film indonesia pertama yang membuat saya menitikkan air mata. Mungkin saya yang kelewat sentimentil dan mencampur adukkan cerita ini dengan memori masa lalu. Tapi setidaknya kita disadarkan bahwa kita pernah berada pada realita kelam.

Pemaparan awal yang apa adanya membuat saya kembali mengingat bahwa kisah ini adalah bagian dari sejarah kehidupan masyarakat Maluku. Sejarah ketika kita kehilangan begitu banyak teman dan keluarga… dan episode dimana satu generasi dibesarkan dalam konflik. Generasi yang menjadi sentra dari cerita di film ini.

Dan … cerita utama CdT Beta Maluku ini tak lain tak bukan adalah kisah diseputar Sepak Bola! Cocoklah ditayangkan saat gempita Piala Dunia 2014 sedang dilangsungkan.

Alm. papa saya pernah berkata… “kalau mau tau Belanda kalah atau menang kalau main bola, liat aja besok pagi di pinggir jalan. Kalau anak-anak muda pesta itu artinya Belanda menang. Kalau dorang (mereka) duduk kaya tusa piatu di pinggir jalan ( kalau tampangnya kusut) artinya Belanda kalah!”. Apalagi seperti sekarang, piala dunia dan piala eropa akan memberikan pemandangan berbeda.  Kota Ambon justru dipenuhi bendera negara lain terutama Belanda sebagai bentuk kecintaan pada tim Belanda yang sedang bermain di kompetisi tersebut.

Hubungannya apa? Film ini membuka ruang bagi kita untuk melihat realita lain dari sekelompok masyarakat yang sangat menggemari olahraga yang satu ini.

Sepak Bola merupakan olahraga yang juga sangat digemari anak-anak Maluku, dan percayalah  cerita tentang Bola tidak ada matinya. Sepak bola bukan sekedar pembangkit semangat dan mimpi tapi juga alat perdamaian dan pengalih perhatian untuk berkarya dari pada ikut tenggelam dalam arus konflik.

Film ini memaparkan kisah nyata perjalanan Sani Tawainella untuk menjadikan sepak bola sebagai sekolah kehidupan bagi anak-anak di Tulehu agar mereka tidak ikut berperang dalam konflik horisontal yang terjadi di sana. Sekolah kehidupan yang mendisiplinkan mereka untuk tidak ikut ke perbatasan saat gaung konflik dan sekolah yang memupuk mimpi dan perjalanan untuk menggapai mimpi itu.

Kala itu eskalasi konflik bukan hanya terjadi di tengah kota tapi menyebar ke seluruh wilayah. Sejak konflik itulah masyarakat jadi lebih akrab dengan embel-embel kampung islam dan kampung kristen. Saat kentongan atau tiang listrik dipukul, itu artinya ada penyerangan. Dan lagi-lagi ketika konflik terjadi, korbannya jelas pemuda-pemuda yang seharusnya menjadi tumpuan masa depan bangsa. Percayalah tak ada yang suka dengan suara tiang listrik dipukul dan teriakan ada yang menyerang. Saya pernah terhenyak ketakutan dan tak bisa berbuat apa-apa saat menghadapinya. Mau lari? lari kemana?

Disinilah peran Sani yang menjadi sentra cerita sekaligus juga menebar semangat untuk tetap optimis meraih mimpi. Bertahun-tahun, Sani melatih anak-anak Tulehu bermain bola sambil bergulat dengan kehidupan keluarganya yang jelas butuh uang. Masa kerusuhan, pekerjaan itu tidak mudah karena perekonomian sempat lumpuh. Banyak yang kehilangan pekerjaan. Dan banyak juga yang memilih meninggalkan ambon. Dalam film ini, Sani bekerja sebagai tukang ojeg. Hmm… karir yang satu ini tampaknya meningkat dan jadi populer setelah kerusuhan. Jaman saya di Ambon yang paling laku sih tukang becak.

Pelatihan bertahun-tahun memang berbuah manis. Setidaknya ia kemudian harus melatih tim Maluku untuk pertandingan nasional U15. Bukan pekerjaan mudah apalagi harus menyatukan pemain bola muda dari Tulehu dan Passo yang notabene islam dan kristen untuk bekerjasama.

Tapi ini soal Bola bukan agama!

Gong Perdamaian

Gong Perdamaian

Bagaimanapun, ada kepercayaan yang hilang dan luka yang tersisa. Kepercayaan yang pernah hilang itu harus ditumbuhkan kembali. Luka itu tak bisa hlang tapi bisa diobati ketika kepercayaan bisa ditumbuhkan di antara para pelakunya. Bukan pekerjaan mudah. Dan Sani berhasil melakukan itu. Mimpi untuk bangkit dan menjadi pemain bola yang pernah ia miliki ia salurkan pada pemain-pemain muda binaannya.

Film ini bukan cuma tentang bagaimana sebuah tim berbeda agama dalam konflik disatukan, tapi juga tentang bagaimana masyarakat melewati batas – batas yang pernah mereka bangun untuk bersama-sama kembali. Bahwa Sepak Bola memang bisa menyatukan masyarakat yang pernah luluh lantak karena perang. Semua pernah kehilangan seseorang pada masa itu. Tapi disinilah CdT menghadirkan bagaimana pelaku harus menghadapi konflik di dalam dirinya untuk kembali menjalin kerjasama. Berpadu menjadi sebuah tim yang solid, yang tidak lagi terkungkung dalam kenangan pahit.

Dari cerita dan penokohan, buat saya semuanya bagus dan film ini layak ditonton karena bisa menjadi refleksi bagi kita semua akan perjalanan kehidupan manusia. Atau lebih tepatnya refleksi sejarah meski cuma sekilas dari apa yang pernah terjadi di negeri ini, ketika keangkuhan atas nama agama dibiarkan berlarut-larut dan menjadikan masyarakat sebagai korban. Film yang menginspirasi .. hmm ok yang ini sedikit berlebihan mungkin karena buat saya, jarang-jarang loh bisa nonton film dalam bahasa ibu aka bahasa ambon yang masih dan terus menjadi bahasa sehari-hari saya di rumah meski saat ini hidup di perantauan.

Tapi sebenarnya saya agak terganggu atau tepatnya gregetan dengan tokoh Haspa, istri Sani dan mamanya Salim aka Salembe. Mereka tampak kurang “sangar” ups. Terutama saat Haspa mengungkapkan kekecewaan saat melihat prioritas Sani pada bola atau mamanya Salembe saat dipanggil ke sekolah karena kenakalan anaknya. Harusnya lebih dramatis! dengan teriakan-teriakan khas. 😀 Bukan sinetron… bahkan lebih oke dibanding sinetron. Setidaknya begitulah drama di sekitar rumah saya kalau ada suami yang gak kerja tapi sibuk dengan hobi atau anak yang juga males-malesan ke sekolah. Saya bahkan bisa bayangin sendiri seperti apa mama mama di ambon kalau mengahadapi masalah seperti itu!  No you don’t want to see it! Kalau dulu, setidaknya ada kaca dan genteng pecah di depan rumah keesokan harinya.

Tapi apa yang ditampilkan sudah sangat baik dan tidak perlu dibuat lebih baik lagi karena ini sudah yang terbaik. Pergulatan seorang istri yang mendukung mimpi sang suami dan bagaimana seorang ibu tunggal harus berjualan ikan untuk menyekolahkan sang anak, menjadi sisi lain kehidupan yang juga dipaparkan.

Melihat Haspa mempertanyakan Sani akan pilihan hidupnya, mengingatkan saya akan mereka dan mungkin juga saya yang memilih cara hidup yang penuh mimpi yang tidak dapat dipahami oleh masyarakat mayoritas. Orang-orang yang juga berhadapan dengan pergulatan yang sama. Menggapai mimpi atau mengubah haluan hidup demi realita kehidupan.

Dan seperti quote film ini, kasih satu ingatan manis, setelah semua yang pahit.

Tidak mudah memang menjalin tali persaudaraan yang pernah putus dalam konflik tapi sisakan satu ingatan manis yang bukan hanya menjadi kenangan tapi juga menjadi pemicu untuk melangkah kembali merajut masa depan dalam ikatan saudara. Karena tidak ada Tulehu atau Passo hmm gue Rumahkay sih hehehehe. Tidak ada islam atau kristen. Cuma ada satu Maluku! Beta MALUKU.

Setelah menonton film ini, saya pun punya setumpuk ide untuk ikut berbagi dengan anak-anak Maluku lewat goresan karya astronomi. Apalagi Maluku juga akan menikmati Gerhana Matahari Sebagian di tahun 2016 dan Ternate, Tidore, Halmahera di Maluku Utara akan jadi jalur yang dilewati Gerhana Matahari Total di tahun yang sama. Setidaknya selain sepak bola, musik, anak-anak muda Maluku juga harusnya bisa berkarya lewat sains.

Share this entry
1 Comments
  1. Muchlis abdillah

    Seng ada yang bisa biking katong hancur, kalau katong punya satu keninginan PAR BIKING HIDOP LABE BAE….

    Reply

Leave a Reply

Whenever you are arrested and brought to trial, do not worry beforehand about what to say. Just say whatever is given you at the time, for it is not you speaking, but the Holy Spirit.
Tentang Saya
avivah yamani

avivah yamani

- a pilgrimage -
tukang cerita astronomi. tukang main game. yuk kenalan
dari balik kamera
Kategori
Ingin tau coretan terbaru? Daftar yuk!

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

%d bloggers like this: