Journal

-- the pilgrim journey --

Home / notes / Satu Hari Sebagai Inspirator Pengganti
Feb 25 2015

Satu Hari Sebagai Inspirator Pengganti

Membangun Mimpi Anak Indonesia. Well kira-kira begitulah tagline Kelas Inspirasi yang bisa diingat. Tapi buat saya tagline-nya sih mari menginspirasi anak Indonesia untuk menggapai mimpi mereka.  Ya mirip-mirip sih, tapi berhubung suka lupa dengan tagline KI jadi saya suka mengingatkan diri sendiri dengan tagline pribadi. 😀 alesan…

Buat saya, ikut kelas inspirasi tujuannya untuk menginspirasi anak-anak Indonesia supaya mau terus berusaha menggapai mimpi mereka. Seabsurd dan seaneh apapun mimpi itu buat orang lain. Kenapa demikian? Seringkali mimpi seorang anak dipatahkan oleh orang-orang dewasa yang sok tahu tentang kehidupan. Mungkin termasuk saya. Padahal ya biarkan saja si anak bermimpi dan coba mewujudkan mimpinya. Tantangan pasti ada tapi disitulah setiap orang akan belajar bagaimana menghadapinya. Dan tidak ada mimpi yang aneh menurut saya. Meskipun mimpi itu buat jadi pemain ganteng-ganteng serigala. Jangan tanya itu apaan. Satu-satunya yang saya tahu cuma posternya di jalan utama di Bandung.

Setelah ikut KI2 tahun 2014, sebenarnya saya masih tertarik ikut KI3 Bandung. Tapi sampai hari terakhir pendaftaran masih saja galau akut, bagaimana kalau saya tidak bisa ikut persiapan. Alasannya, untuk hari H sih saya bisa tapi untuk ikut persiapan yang meragukan karena harus ke luar kota. Akhirnya diputuskanlah untuk tidak mendaftarkan diri untuk ikut KI3.

Ternyata 2 hari sebelum Hari Inspirasi yang dilaksanakan tanggal 18 februari 2015, saya menerima pesan dari mantan fasilitator di tahun 2014 yang meminta saya menjadi inspirator pengganti. Ceritanya tahun ini ada beberapa inspirator yang mengundurkan diri dan akhirnya beberapa kelompok kekurangan orang. Bahkan ada yang dari 7 inspirator tersisa 2 inspirator. Jagoanlah itu kelompok.

Karena ada inspirator yang mundur, maka panitia memutuskan menghubungi alumni inspirator untuk jadi inspirator pengganti. jadilah saya dikontak juga. Dan tawaran pun diterima!

Siswa bersiap2 masuk kelas.

Siswa bersiap2 masuk kelas. Kredit Vivi

Saya akhirnya ikut KI3 bergabung dengan kelompok 27 yang di kemudian hari menamakan dirinya Kelompok Konspirator G27. Tanggal 16 Februari, setelah menyatakan bersedia, malamnya saya pun bertemu dengan ketua kelompok, pendamping dan beberapa anggotanya. Kesimpulannya. Ini inspirator? Asik juga kayaknya. Tapi ya namanya baru masuk, awalnya agak segan juga karena mereka pasti sudah mempersiapkan segala sesuatu dan yang jadi pertanyaan apakah saya bisa menyesuaikan dengan cepat. Eh ternyata ini kelompok lebih mirip sarang penyamun. Ups! Tapi menyenangkan kok bisa bergabung karena mereka pun menginspirasi saya!

Kelompok saya tahun ini diisi oleh Rizky sang ketua yang berprofesi sebagai kontraktor aka tukang bangunan kalau kata para siswa. Nah, para anggotanya punya profesi yang beragam dan tak kalah menarik. Ada Sasha, Egar dan Aji yang berprofesi sebagai pengusaha, Yessi yang seorang dokter, Mimin yang bekerja sebagai telemarketing, Milda si perencana strategis dari Bank BJB, Khrisna yang ahli teknologi informasi,  juga Kocho sang videografer.  Tak lupa kelompok ini didampingi oleh Yoga yang dosen sekaligus musisi. Dan yang pasti kelompok 27 juga ditemani oleh fotografer serta videografer handal,  Aswin dan Avi.

Kelompok 27 ditempatkan di SD Gambir. Dan seperti yang sudah saya duga, belasan tahun di Bandung saya baru tahu ada yang namanya SD Gambir di dekat rel kereta api Kosambi. Berbekal dijemput Avi sang videografer yang jadi idola anak SD dan para guru, akhirnya saya bisa tiba di sana.

Karena keterbatasan inspirator, akhirnya ada beberapa kelas yang digabung.  Berbeda dengan tahun lalu dimana jatah mengajar itu 50 menit, tahun ini saya diberi waktu 35 menit per kelas. Dan sepanjang hari saya akan menginspirasi 5 kelas. Ini pertama kalinya saya mengajar 5 kelas selama satu hari. Dan 35 menit per sesi.

Pertanyaan pertama, apa yang harus saya lakukan selama 35 menit. Singkat banget!!!! 50 menit saja menurut saya kurang. Apalagi kalau mengajak siswa ngamat Matahari.  Biasanya saya butuh sekitar 1,5-2 jam untuk menyelesaikan satu sesi. Tapi 35 menit dan memperkenalkan astronom seperti apa, itu tantangan baru! Apalagi saya sama sekali tidak tahu apa saja yang sudah dipelajari siswa selama ini. Yang paling mudah, lakukan pengamatan Matahari. Berhubung nggak ada yang bisa datang sebagai asisten, maka setting alat sendirian jadi tantangan tersendiri, apalagi kalau saya bolak-balik indoor dan outdoor.

And I think I made a wrong decision. I should take my telescope with me and hold the class outside instead of teaching indoor and outdoor at the same time.

Ok…pada akhirnya saya memutuskan membawa sebagian tools universe in the box, smartphone + speaker bluetooth, tablet dan kacamata Matahari. Idenya sangat acak, bergantung kebutuhan kelas dan sejauh mana mereka mengenal astronomi. Pengalaman di SD Sejahtera 4 saat KI2 tahun lalu mengajarkan saya bahwa siswa di SD Negeri memiliki karakter yang berbeda dari sekolah swasta yang biasa saya hadapi.

Pengamatan Matahari.

Pengamatan Matahari. Kredit: Vivi

Jadi saya juga mempersiapkan beberapa skenario. Ide 1 memperkenalkan pekerjaan sebagai astronom dan mari kita mengenal cara kerja teleskop dan melihat Matahari. Ide 2, memperkenalkan pekerjaan sebagai astronom komunikator, dimana para siswa akan diajak menceritakan kembali apa yang mereka lihat sambil saya rekam. Dan ide terakhir, kalau memang anak-anak tidak banyak paham apa itu benda-benda langit maka saya akan mengajak mereka mengenal obyek langit dari dongeng.

Hasilnya, di kelas 1 saya hanya mendongeng dan memperkenalkan obyek Tata Surya. Di kelas 1, saya mengajak mereka mengenali setiap obyek dan memperlihatkan perbedaan ukuran planet-planet di Tata Surya, terutama perbedaan Bumi dan Matahari. Yang menarik di kelas 1, karena saya tidak tahu ada istirahat setelah jam pertama dan para siswa masih malu untuk ijin ke toilet, akhirnya kelas diakhiri dengan salah satu siswa yang bab di celana. Dan ketika saya harus berganti kelas,  siswi yang super aktif bertanya menarik tangan saya untuk tidak pindah karena belum semua pertanyaannya dijawab.

Sementara itu untuk kelas 2-5, siswa berkesempatan untuk melihat Matahari dan khusus untuk kelas 4 & 5 ada sesi noong lewat teleskop. Dari seluruh kelas yang melakukan pengamatan, hanya di kelas  3 dan 5 para siswa bersedia untuk menceritakan apa yang mereka lihat saat pengamatan. Itu pun hanya berupa jawaban singkat yang saya kompilasi dalam audio di laman ini. Kelas diakhiri dengan simulasi gerhana dan menjawab pertanyaan para siswa.

Sepanjang hari, sepertinya di SD Gambir inilah saya tidak menemukan siswa yang ingin menjadi astronot. Bahkan mereka kebanyakan tidak tahu apa itu Astronot. Apalagi Astronom. Sebagian besar memilih menjadi pemain bola, tentara, polisi, guru, dokter dan hanya dua yang ingin jadi pilot dan pramugari.

Perbedaan lain yang cukup mencolok di kelas adalah keaktifan siswa. Mirip seperti tahun lalu, para siswa agak malu-malu bertanya dan mengungkapkan keinginan. Seingat saya yang paling aktif hanyalah seorang siswa kelas 1 yang bolak balik bertanya tentang berbagai hal.  Sangat jauh berbeda dengan antusiasme dan keingintahuan siswa TK dan SD swasta yang pernah saya kunjungi. Selain itu sampai dengan kelas 5, sangat minim siswa yang kenal Tata Surya. Bahkan di SD Sejahtera tahun lalu saja siswa kelas 5 masih ada yang bisa menyebutkan nama-nama planet dan bertanya tentang kehidupan lain di luar angkasa. Sementara di sekolah swasta yang tematik, siswa sudah kenal dengan Matahari – Bumi – Bulan dan Tata Surya sejak TK, SD kelas 1 dan kelas 5. Dan tingkat keingintahuan siswa juga jauh lebih tinggi.

Hal lain yang jadi perhatian saya dari 5 kelas yang saya ajar, ada saja kejadian dimana siswa bertengkar dan memukul temannya. Selain itu, cara bertutur para siswa juga mungkin bisa mengejutkan dengan bahasa sehari-hari yang bahkan seharusnya tidak menjadi bahasa percakapan orang dewasa. Tidak semua, tapi menarik untuk dikaji.

Yang pasti hari itu berakhir dengan menerbangkan mimpi para siswa ke langit… bebas, sebebas hak setiap anak untuk bermimpi akan masa depannya sendiri. Tapi agar mimpi itu bisa tercapai, perlu kerja keras dan kemauan untuk terus belajar.

Satu hal yang paling saya ingat adalah pertanyaan seorang siswi di kelas 1.  Kakak, manusia itu diciptakan dari tanah liat atau tanah kering . 🙂 Figure it out how to answer that question!


Kredit foto fitur dan galeri foto: Aswin Hery Wijoyono, Fotografer KI3 Bandung Group 27.

Share this entry

Leave a Reply

Give to everyone what you owe them: If you owe taxes, pay taxes; if revenue, then revenue; if respect, then respect; if honor, then honor.
Tentang Saya
avivah yamani

avivah yamani

- a pilgrimage -
tukang cerita astronomi. tukang main game. yuk kenalan
dari balik kamera
Kategori
Ingin tau coretan terbaru? Daftar yuk!

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

%d bloggers like this: