Journal

-- the pilgrim journey --

Home / tales / Cerita Untuk Paskah
Mar 25 2016

Cerita Untuk Paskah

Paskah… seharusnya aku tak asing dengan perayaan itu. Tapi rasanya asing sekali. Entahlah.

Perempuan itu terdiam menatap lautan di hadapannya.  Debur ombak seakan memberi kelegaan sesaat untuknya. Entah untuk apa. Dia pun tak bisa menjawabnya.

Lautan di tempat yang asing. Lautan yang bahkan tak sebiru tempatnya dulu…. Lautan yang berbeda….Ingatan itu masih ada. Ingatan itu masih hidup dan menyala dalam dirinya. Cerita masa lalu yang terus menghantui.

Paskah. Hari dimana Kristus bangkit dan membebaskan umatNya dari dosa. Dosa…. entah sejak kapan batas antara hitam dan putih itu semakin pudar….

Paskah.  Beberapa hari lagi perayaan itu tiba. Saat ketika semua orang datang dan bersukacita atas kebangkitanNya. Tapi sudahkah sukacita itu hidup di dalam mereka? Entahlah.

***

Malam sebelum Yesus disalibkan.

Samar terdengar suara. Tidak bisakah kamu terjaga satu jam saja?

Perempuan itu berpaling. mencari sumber suara dan ia tidak menemukan apapun. Tidak ada siapapun di sana. Dan dia kembali tenggelam dalam kegembiraan pesta yang baru saja dimulai.

Pesta!

Berbagai cerita dipaparkan oleh mereka yang datang. Cerita tentang kesuksesan. Cerita tentang petualangan cinta. Cerita tentang penjelajahan samudera dan antar bintang. Cerita yang sama di setiap pesta. Ada gelak tawa. Ada cumbu rayu. setiap sudut diisi dengan cerita yang berbeda.

Musik yang menghentak, mengajak semua tuk berdansa. Tak ada rasa lapar. Tapi, dahaga itu seperti tak terpuaskan oleh anggur yang tersaji terus menerus.

Malam pesta. Malam yang sama ketika di zaman berbeda …. anggur dan roti tersaji di atas meja. Disajikan untuk Yesus dan murid-muridNya.

Tak ada musik yang menghentak. Ia basuh kaki muridnya dan mereka pun makan roti tak beragi dan menenggak anggur yang tersaji. Tapi tak ada cerita dan gelak tawa.

Dan sang penghianat pun beranjak pergi….

Kisah itu tertulis rapi dalam kitab….

Dentang musik berhenti.. tapi pesta belum berakhir. Ruang pesta telah ditutup.. tapi pesta itu pun berpindah di balik tembok yang berbeda. Pesta itu kini jadi milik mereka yang sedang berpacu mengejar kepuasan di antara desah dan helaan nafas.  Pesta itu tak usai sampai pagi…..

“Tapi, tidak bisakah kamu terjaga satu jam saja?”

Perempuan itu terpana di antara kisah malamnya. Suara itu.. siapa?

Tak ada siapapun di sana. Tapi.. bukankah dia juga terjaga? Terjaga bersama sang kekasih. Memadu kasih…

***

Dia yang bersama-sama dengan Aku mencelupkan tangannya ke dalam pinggan ini, dialah yang akan menyerahkan Aku.

Dan sang pengkhianat pun bertanya: Bukan aku, ya Rabi?

Malam kelam untuk Sang Rabi. Dikhianati muridNya. Dibawa bak penjahat. Malam ketika muridnya kocar kacir dan menyangkal diriNya.

“Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki”

“Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam dengan Aku?” KataNya saat melihat murid-muridnya tertidur….

Suara itu tak hanya ada di zamanNya. Zaman berganti.. dan pertanyaan yang sama masih bergema. Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam dengan Aku?

***

Dan malam itu, sang perempuan mereguk cawan kenikmatannya ketika sang Rabi meminum cawan pahit yang membawaNya ke kayu salib.

Tak ada pesta yang tak usai. Cawan yang ia teguk tak pernah memuaskan dahaganya. Dan ia hanya bisa mencari dan mencari.  Melanglang di antara keinginan dan harapan. Mereguk setiap cawan yang bisa memuaskannya. Tapi.. tak satupun bisa membawanya pada kepuasan yang ia cari…

***

Paskah…. cerita itu seperti asing baginya. Tapi suara itu terus bergema. Berjaga-jaga selama satu jam? Bukankah ia terjaga?

Paskah. Bukankah itu kisah untuk anak-anak bergembira mencari telur?

Paskah…. sudah lama ia tak lagi mendengarnya.

***

Perempuan itu terbangun. Ada riuh rendah orang yang berteriak di luar sana.  Sang kekasih yang memadu cinta tak lagi ada di sisinya. Perjalanan sesaat yang menggairahkan itu usai sudah.

Salibkan Dia!

Salibkan Dia!

Salibkan Dia!

Suara-suara itu membahana. Pelan perempuan itu menghampiri jendela dan melihat ke luar. Langkahnya berat. Entah mengapa ia tak selincah biasanya. Pelan ia menyeret dirinya untuk melihat apa yang terjadi.

Berat… terseok ia melangkah. Dan entah sejak kapan belenggu itu mengikat kakinya. Ia tak lagi di biliknya. Tak ada lagi tembok yang menghalanginya. Tak ada lagi jendela yang menjadi pemisah.

ia ada di antara kerumunan riuh rendah itu…kerumunan orang yang juga terbelenggu…

Dan ia.. sama seperti mereka…Berteriak lantang.. Salibkan Dia!

Salibkan Dia! Siapa?

Di sana.. terseok langkah seorang penjahat… memanggul salib. Berat… Ia terluka…

Perempuan itu tepana.

Mengapa Ia disalib?

Tak ada yang mampu menjawab. Entah apa kesalahanNya. Tapi penjahat itu disalib di sana. Di bukit Golgota.

“Ya Bapa, ampunilah mereka, karena mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan.” kata penjahat itu…

Gelap…. apa kesalahanNya… mengapa Bumi jadi gelap….

Waktu berlalu Bumi kembali terang.

“Sudah Selesai”

Penjahat itu mati.

Perempuan itu terdiam. Ia yang berteriak salibkan Dia … tapi mengapa kekosongan itu hadir? Kegelapan yang terjadi menakutkan.

Kegelapan… keterpisahan abadi dengan Allah. Itu kata orang yang pernah ia dengar. Sepi.. itukah rasanya?

Entahlah. Ia tak punya jawabannya.

Perempuan itu hanya bisa terdiam. lagi dan lagi. ada tangis yang terus mengalir tanpa ia paham mengapa….

Satu per satu kisah hidupnya yang telah terajut hadir dalam ingatan… kisah yang penuh dahaga. Pencarian tak bertepi yang menghantarnya berada di antara pesta. Membawanya mengakhiri setiap pesta dalam pelukan sang kekasih.

Paskah… hari sukacita itu tiba. Yesus bangkit! Ia tak ditemukan di kuburNya….

Dan perempuan itu masih ada di sana… di balik jeruji kehidupannya. Terikat pada belenggu yang tak kuasa ia lepaskan…

Karena Ia yang membebaskan dosa dunia telah lahir. Dan ia kini telah mati dan bangkit…. Ia yang bangkit dari kematianNya. Membawa kebebasan….

Kasih.. Anugerah….

Perempuan itu hanya bisa diam dan merenung.. mungkinkah kuraih kebebasan itu. Akankah dahaga terpuaskan?

***

“Tidak bisakah kau terjaga satu jam saja?”

Suara itu datang lagi.  Perempuan itu bisa melihat siapa yang berkata-kata. Penjahat yang ia salibkan ada di depannya. Kata orang Dia-lah sang Rabi yang telah bangkit.

Penjahat yang ia salibkan itu meraihnya lembut… dan belenggu dan jeruji itu pudar dari dirinya….

Penjahat yang ia salibkan itu tak banyak berkata-kata. Ia tidak menyalahkannya akan masa lalunya.

“Pergilah dan jangan berbuat dosa lagi…”  kataNya.

***

Karena…buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya, tetapi dengan setia ia akan menyatakan hukum.

Share this entry

Leave a Reply

I seek you with all my heart; do not let me stray from your commands.
Tentang Saya
avivah yamani

avivah yamani

- a pilgrimage -
tukang cerita astronomi. tukang main game. yuk kenalan
dari balik kamera
Kategori
Ingin tau coretan terbaru? Daftar yuk!

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

%d bloggers like this: