<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>SimplyVie &#187; astronomy</title>
	<atom:link href="http://simplyvie.com/category/astronomy/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://simplyvie.com</link>
	<description>-- the pilgrim journey --</description>
	<lastBuildDate>Mon, 01 Mar 2010 17:47:11 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Potret Perempuan Dalam Sains</title>
		<link>http://simplyvie.com/2009/09/05/potret-perempuan-dalam-sains/</link>
		<comments>http://simplyvie.com/2009/09/05/potret-perempuan-dalam-sains/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Sep 2009 17:25:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ivie</dc:creator>
				<category><![CDATA[astronomy]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[astronomi]]></category>
		<category><![CDATA[ilmuwan]]></category>
		<category><![CDATA[perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[sains]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://simplyvie.com/?p=539</guid>
		<description><![CDATA[Perempuan dan sains bisa jadi memang bukan hal asing bagi kehidupan masa kini. Tapi mungkin di suatu tempat tak terduga, masih ada yang mengernyitkan dahi dan balik bertanya, “apa? ilmuwan perempuan?”.
Mungkin. dan hanya mungkin di suatu sudut di negeri ini atau di dunia ini masih ada yang bingung tak memahami pilihan ini. Atau malah menentangnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Perempuan dan sains bisa jadi memang bukan hal asing bagi kehidupan masa kini. Tapi mungkin di suatu tempat tak terduga, masih ada yang mengernyitkan dahi dan balik bertanya, “apa? ilmuwan perempuan?”.<span id="more-539"></span></p>
<p><a href="http://simplyvie.com/wp-content/uploads/2009/09/woman.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-544" style="margin: 10px;" title="woman" src="http://simplyvie.com/wp-content/uploads/2009/09/woman.jpg" alt="woman" width="116" height="116" /></a>Mungkin. dan hanya mungkin di suatu sudut di negeri ini atau di dunia ini masih ada yang bingung tak memahami pilihan ini. Atau malah menentangnya dengan berbagai alasan. Alasan yang paling sering menjadi penghalang bagi perempuan selama berabad-abad adalah persamaan hak. Perempuan tak bisa setara dengan laki-laki. Ada pekerjaan laki-laki dan ada pekerjaan perempuan. Perempuan tak boleh mengerjakan pekerjaan para lelaki dan juga sebaliknya. Alasannya? Perempuan hanya warga kelas dua. Perempuan hanya boleh menjadi istri&#8230;.</p>
<p>Mungkin saat membaca tulisan ini, ada yang berpikir.. “hei ini udah jaman modern.. mana mungkin ada yang seperti itu.” Jangan salah mungkin di zaman serba modern ini, tak ada lagi pemisahan seperti itu. Tapi jauh di masa lampau, keberhasilan seorang perempuan masuk dalam dunia laki-laki adalah sebuah prestasi. Prestasi yang menjadi simbol kesetaraan&#8230; kepintaran&#8230; dan simbol sosial lainnya. Tapi tak hanya itu, perempuan-perempuan dalam sains ini tak hanya menggenggam keberhasilan dalam memposisikan dirinya sebagai partner laki-laki tapi juga menggebrak dunia dengan hasil yang mereka dapatkan. Hasil yang menjadi dasar bagi perkembangan sains dan teknologi di masa depan.</p>
<p>Perempuan-perempuan ini mungkin awalnya hanya bisa ditempatkan sebagai partner kerja laki-laki atau dikatakan turut berkontribusi namun tak pelak justru kontribusi merekalah yang menjadi dasar bagi pemikiran sains di masa depan.  Tapi.. untuk sampai pada posisi itu mereka harus melewati masa-masa yang menyudutkan mereka. Masa di mana mereka harus bisa menghadapi kondisi bahwa saat itu perempuan belum diperkenankan untuk mengikuti pendidikan tinggi, perempuan tak diperkenankan untuk mendapatkan gelar sarjana, atau karir perempuan hanya sampai pada jenjang tertentu. belum lagi pandangan bahwa perempuan yang memiliki pendidikan tinggi akan berakhir melajang.  Bahkan di ruang kerja tertentu ada pemisahan ruangan untuk makan antara laki-laki dan perempuan.</p>
<p>Tapi.. para ilmuwan perempuan ini tak pernah berhenti dan menyerah kalah. dalam berbagai bidang mereka berkarya.. walau ada yang harus bertarung dengan sakit yang diderita.</p>
<p><img class="size-full wp-image-543   alignright" style="margin: 10px;" title="220px-Lise_Meitner_1900" src="http://simplyvie.com/wp-content/uploads/2009/09/220px-Lise_Meitner_1900.jpg" alt="220px-Lise_Meitner_1900" width="120" height="188" />Lise Meitner, yang pada masanya perempuan tak bisa mendapatkan pendidikan tinggi menjadi perempuan kedua yang berhasil mendapatkan gelar Doktor Fisika di Universitas Vienna. Setelah menolak bekerja di pabrik lampu, ia justru menjadi ilmuwan yang mengabdikan dirinya untuk memecahkan problema pemecahan nuklir bersama rekannya Otto Hahn.  Sayangnya dalam publikasi tersebut Lise tak bisa diikutkan karena secara politis ia sudah keluar dari Jerman pada masa kekejaman NAZI. Otto Hahn sendiri mendapatkan hadiah nobel untuk penemuan tersebut.</p>
<p>Ada juga Rosalind Franklin, seorang ilmuwan biologi, fisika, biofisika, dan kimia yang pada masanya juga mengalami pembedaan antara laki-laki dan perempuan di universitas tempatnya bekerja (pemisahan untuk ruang makan kedua gender). Rosalind saat menamatkan pendidikannya Newnham College, Cambridge hanya bisa mendapatkan gelar titular (titel) karena saat itu perempuan tidak diperkenankan mendapatkan gelar BA.  Walaupun bisa dikatakan ia adalah korban pembedaan gender, Rosalind mengabdikan dirinya pada kristalografi sinar-X yang ia pilih dan ia juga memberi kontribusi penting dalam pemodelan DNA yang kita kenal saat ini. Rosalind mati muda karena tumor.</p>
<p>Sosok lainnya adalah Barbara McClintock yang sempat dipertanyakan oleh ibunya sendiri ketika akan melanjutkan pendidikan tinggi. Sang ibu mengkhawatirkan pengabdian pada sains akan membawa Barbara pada kehidupan tanpa pernikahan. Barbara mengabdikan hidupnya mempelajari struktur genetik jagung. Ia mempelajari perubahan kromosom jagung selama masa reproduksi. Di tahun 1983, Barbara menerima Nobel Laureate. Pencapaian yang tak mudah tapi hasil dari ketekunan selama puluhan tahun meskipun ia harus melewati masa-masa penuh ketidakpuasan akan posisinya di Universitas tempatnya bekerja.</p>
<p><a href="http://simplyvie.com/wp-content/uploads/2009/09/Birute-Galdikas2.jpg"><img class="size-thumbnail wp-image-542   alignleft" style="margin: 10px;" title="Birute-Galdikas2" src="http://simplyvie.com/wp-content/uploads/2009/09/Birute-Galdikas2-150x134.jpg" alt="Birute Galdikas, masih bekerja dengan orang utan sampai hari ini." width="142" height="134" /></a>Ada lagi Biruté Galdikas, perempuan yang memutuskan untuk mengabdikan dirinya dalam pelestarian orang utan di Kalimantan, selama puluhan tahun. Pekerjaan yang sampai sekarang belum selesai. Pekerjaan yang tak hanya berbicara tentang mempelajari perilaku orang utan dan kehidupannya, tapi juga bagaimana melestarikan lingkungan kehidupan si orang utan dari tangan-tangan penebang kayu yang merusak hutan kalimantan atau para pedagang hewan liar. Pekerjaan yang menuntutnya berada dalam lingkungan yang seringkali tak nyaman bagi seorang perempuan.</p>
<p>Potret lain juga hadir dalam diri Hedy Lamarr yang lebih dikenal sebagai artis Hollywood.  Ia juga salah satu penemu yang menemukan penyebaran spektrum teknologi komunikasi, kunci penting dalam perkembangan teknologi komunikasi wireless masa kini. Seandainya Hedy adalah artis masa kini, penemuan ini tentu akan menjadi publisitas yang bagus untuknya. Sayangnya di masa itu, menjadi ilmuwan bukanlah sebuah “prestasi”. Saat ia ingin mengabdikan dirinya pada keilmuan, ia justru disarankan untuk tetap berada di Hollywood karena ia akan lebih menolong orang dengan status keartisannya.</p>
<p>Di astronomi, ada banyak perempuan yang mengabdikan dirinya pada ilmu yang menggugah sanubari akan keindahan langit. Tiga di antaranya adalah Caroline Herschel yang menemukan beberapa komet dan menjadi asisten  bagi sang kakak Sir William Herschel dalam pekerjaan astronominya.</p>
<p>Astronom perempuan lainnya adalah Henrietta Swan Leavitt yang menemukan hubungan Periode-Luminositas Cepheid sebagai alat penentu jarak.  Penemuan yang membuka mata manusia akan kebesaran alam semesta. Dari penemuannya ini, para astronom bisa mengukur jarak cepheid di galaksi lain dan bisa mengetahui jarak galaksi tersebut.  Cepheid merupakan bukti penting kalau ada galaksi lain yang berada jauh di luar Bima Sakti. Pekerjaannya juga menjadi dasar bagi pekerjaan Edwin Hubble. Penemuan Henrietta Leavitt pada akhirnya mengubah teori astronomi modern. Pencapaian yang sangat penting dan luar biasa mengingat ia hampir tak pernah mendapatkan kredit selama hidupnya. Penghargaan padanya diberikan dengan memberi nama Leavit pada asteroid dan salah satu kawah di Bulan. Penghargaan lain yang diberikan setelah hampir 100 tahun adalah nama Leavitt dilekatkan pada nama penemuannya yakni hubungan Periode-Luminositas Leavitt.</p>
<p><img class="size-thumbnail wp-image-540   alignright" style="margin: 10px;" title="ajcannon" src="http://simplyvie.com/wp-content/uploads/2009/09/ajcannon-150x150.png" alt="Annie J Cannon" width="150" height="150" />Astronom lainnya, Annie J. Canon memberikan kontribusi yang sangat penting dalam klasifikasi bintang. Ia membagi bintang dalam beberapa kelas berdasarkan spektrumnya. Kelas spektrum yang ia buat inilah yang menjadi dasar klasifikasi fisis bintang dalam sejarah perkembangan astronomi sampai hari ini. Kelas yang dikenal dengan idiom <em>Oh Be A Fine Girl and Kiss Me</em> (O B A F G K M). Dan saat itu ia bekerja di Harvard dengan bayaran 25 sen sementara sekretaris di Harvard mendapatkan bayaran yang lebih dari itu.</p>
<p>Itulah  potret beberapa ilmuwan perempuan yang telah meletakkan dasar bagi keilmuan masa kini. Perempuan-perempuan yang berada di garis depan keilmuan walau harus bertarung dengan pandangan umum masa itu bahwa perempuan tak seharusnya berada pada posisi seperti mereka. Perempuan-perempuan ini juga yang mendobrak pandangan kalau tak ada yang salah dengan saintis perempuan. Tak ada yang salah&#8230; karena setiap orang bisa memberi kontribusi bagi dunia keilmuan.</p>
<p>Bagaimana sekarang? Kondisi masa kini memang telah berubah. Namun di beberapa bagian dunia masih ada perempuan yang dianggap sebagai warga kelas dua dan dijadikan objek eksploitasi. Perjalanan memang belum berakhir.</p>
<p>Dasar yang diletakkan itu telah menjadi bangunan.  Dan perempuan-permpuan masa kini telah membangun di atas dasar itu, menjadikannya bangunan pencakar langit yang megah.  Tapi akankah pencakar langit itu kehilangan sentuhan keindahan, kemanusian dan kasih? Pertanyaan inilah yang sekarang menjadi bagian kita untuk menjawabnya, karena ilmu pengetahuan dan teknologi digali bukan untuk sebuah kehebatan tapi untuk kemanusiaan itu sendiri.</p>
<p>Dan di suatu masa ketika para perempuan itu membangun dasar bangunan&#8230;mereka tak pernah kehilangan sentuhan itu. Satu diantaranya adalah Lise Meitner, fisikawan yang tak pernah kehilangan humanismenya.</p>
<p>___________</p>
<p><em>*terinspirasi dari Buku Perempuan dalam Sains. </em><br />
Di sepanjang tahun Astronomi Internasional 2009, dibuat juga sebuah <em>cornerstone project</em> <a href="http://www.sheisanastronomer.org/" target="_blank"><em>She is an Astronomer</em></a> yang bertujuan untuk memberi semangat pada perempuan untuk mendapatkan pendidikan tinggi dan berkarir dalam sains.</p>
<p><em>___________<br />
</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://simplyvie.com/2009/09/05/potret-perempuan-dalam-sains/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Stars of Asia Poster Paper</title>
		<link>http://simplyvie.com/2009/05/11/poster-paper-untuk-stars-of-asia/</link>
		<comments>http://simplyvie.com/2009/05/11/poster-paper-untuk-stars-of-asia/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 May 2009 16:20:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ivie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pages]]></category>
		<category><![CDATA[astronomy]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[iwork]]></category>
		<category><![CDATA[pages]]></category>
		<category><![CDATA[poster paper]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://simplyvie.com/?p=446</guid>
		<description><![CDATA[This poster paper made for  Stars of Asia meeting in Japan last May.
This poster contain Indonesian folklore related to astronomy that we collect from different province in Indonesia. I made it with Pages. Some pictures inside the poster belong to : Nggieng, Sobirin, and  Goedang Kartoen.

]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>This poster paper made for  Stars of Asia meeting in Japan last May.<span id="more-446"></span></p>
<p>This poster contain Indonesian folklore related to astronomy that we collect from different province in Indonesia. I made it with Pages. Some pictures inside the poster belong to : Nggieng, Sobirin, and  Goedang Kartoen.</p>
<p><a href="http://simplyvie.com/wp-content/uploads/2009/05/asianstars-small.jpg"><img class="size-full wp-image-449 alignnone" title="asianstars-small" src="http://simplyvie.com/wp-content/uploads/2009/05/asianstars-small.jpg" alt="asianstars-small" width="279" height="394" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://simplyvie.com/2009/05/11/poster-paper-untuk-stars-of-asia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gerhana Matahari Cincin dan Lampung Post</title>
		<link>http://simplyvie.com/2009/01/24/gerhana-matahari-cincin-dan-lampung-post/</link>
		<comments>http://simplyvie.com/2009/01/24/gerhana-matahari-cincin-dan-lampung-post/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Jan 2009 07:31:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ivie</dc:creator>
				<category><![CDATA[astronomy]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[gerhana]]></category>
		<category><![CDATA[gerhana matahari cincin]]></category>
		<category><![CDATA[lampung]]></category>
		<category><![CDATA[lampung post]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://simplyvie.com/?p=346</guid>
		<description><![CDATA[Hari senin, 26 Januari bertepatan dengan Imlek, Indonesia akan dilintasi Gerhana Matahari Cincin. Untuk event ini langitselatan akan melakukan perjalanan ke Lampung. Di sana kami akan mengadakan studium general di LIA dan UNILA. Selain itu kami juga akan melakukan perkenalan astronomi ke area yang remote di dusun Trimukti (jangan tanya dimana.. gue aja ga tau).
Minggu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hari senin, 26 Januari bertepatan dengan Imlek, Indonesia akan dilintasi Gerhana Matahari Cincin. Untuk event ini langitselatan akan melakukan perjalanan ke Lampung. Di sana kami akan mengadakan studium general di LIA dan UNILA. Selain itu kami juga akan melakukan perkenalan astronomi ke area yang remote di dusun Trimukti (jangan tanya dimana.. gue aja ga tau).<span id="more-346"></span></p>
<p>Minggu lalu saya diberitakan bahwa Lampung Post bersedia menerima artikel gerhana dari langitselatan untuk dipublikasikan. Sayangnya sampai saat ini artikel itu belum dipublikasikan. Publikasi yang ada wawancara dengan Isman salah satu anggota tim langitselatan tentang kegiatan di Lampung. Yang membuat saya berharap artikel itu dimuat adalah karena di dalamnya ada informasi waktu gerhana yang benar. Sampai saat ini informasi gerhana di Lampung Post sangat membingungkan.</p>
<p>Ini saya quote dari <a href="http://www.lampungpost.com/cetak/berita.php?id=2009012401113415" target="_blank">Lampung Post</a> :</p>
<blockquote><p>BMG Pusat memperkirakan pusat lintasan gerhana berada di wilayah Bandarjaya, Lampung Tengah. Sedangkan salah satu daerah di Indonesia yang memiliki waktu puncak GMC paling lama adalah Pringsewu, Lampung, dengan lama fase cincin 6 menit 12 detik. Di Pringsewu, gerhana dimulai pukul 13.19 hingga pukul 17.52. Puncak gerhana terjadi pukul 16.41.</p></blockquote>
<blockquote><p>BMG Stasiun Geofisika Kotabumi memperkirakan gerhana matahari cincin atau <em>anular</em> yang bakal terjadi di Lampung itu dimulai pukul 11.56. Puncak gerhana matahari cincin ini diperkirakan terjadi pukul 13.04 dan pertengahan gerhana cincin terjadi pukul 14.46. Dan akhir gerhana cincin diperkirakan terjadi pada pukul 16.52. Dan secara keseluruhan gerhana matahari cincin ini akan berakhir pukul 18.00.</p></blockquote>
<p>Sepertinya berita dari BMKG ga singkron antara di pusat dan Kotabumi. Atau BMKG di Kotabumi ga tau cara mengkonversi waktu dari UT ke WIB? hehehe.. Sepertinya BMKG Kotabumi memasang waktu dari kontak penumbra. Sayangnya informasi yang ada banyak yang salah&#8230; mungkin mereka harus belajar membaca <a href="http://hanieftrihantoro.files.wordpress.com/2009/01/se2009jan26a.gif?w=1121" target="_blank">peta Gerhana ini</a></p>
<p>Kapan gerhana dimulai?</p>
<blockquote><p>Proses GMC itu akan diawali dengan tertutupnya piringan Matahari oleh Bulan pada pukul 15.21 WIB. Kemudian Matahari akan berubah menjadi bentuk sabit hingga akhirnya seluruh piringan Bulan sudah berada di dalam piringan Matahari. Inilah yang disebut dengan puncak GMC, yang akan terjadi pada pukul 16.40 WIB. Kita akan melihat Matahari berbentuk cincin selama sekitar 6 menit. Setelah itu Bulan mulai keluar dari piringan Matahari hingga pada pukul 17.52 WIB Bulan sudah benar-benar meninggalkan piringan Matahari sebagai tanda bahwa peristiwa GMC ini sudah berakhir. Jadi dari perhitungan di atas, berarti waktu yang kita miliki untuk melihat Bulan menutupi Matahari adalah sekitar 90 menit. (<a href="http://langitselatan.com/2009/01/12/gerhana-matahari-cincin-26-januari-2009/" target="_blank">langitselatan</a>)</p></blockquote>
<p>Buat rekan2 di BMKG.. dicek atuh&#8230;</p>
<p>Mengenai GMC 26 Januari 2009, Gerhana ini merupakan seri saros 131 yang telah dimulai sejak 1 Agustus 1125 dan telah memiliki 22 gerhana sebagian. Gerhana total pertama seri ini terjadi di belahan langit utara pada 27 Maret 1522 dan diikuti 5 gerhana total lainnya. Seri ini kemudian memproduksi gerhana hybrid dari tahun 1630 &#8211; 1702 sedangkan gerhana cincin pertama terjadi 4 Agustus 1702. Gerhana seri saros 131 ini masih akan menghasilkan terjadinya 29 gerhana matahari cincin yang akan berakhir pada 18 Juni 2243. Gerhana seri saros 131 akan berakhir tanggal 2 September 2369 setelah rentetan 7 gerhana matahari sebagian. Gerhana seri saros 131 yang akan terjadi 26 Januari 2009 akan kembali terjadi 18 tahun lagi dan  54 tahun lagi baru kembali terjadi di area yang sama.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://simplyvie.com/2009/01/24/gerhana-matahari-cincin-dan-lampung-post/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cosmic Diary</title>
		<link>http://simplyvie.com/2009/01/04/cosmic-diary/</link>
		<comments>http://simplyvie.com/2009/01/04/cosmic-diary/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Jan 2009 17:12:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ivie</dc:creator>
				<category><![CDATA[astronomy]]></category>
		<category><![CDATA[diary]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://simplyvie.com/?p=317</guid>
		<description><![CDATA[Semua dimulai di akhir tahun 2007 di Athena, sebuah kota tua yang penuh dengan sejarah dunia. Dalam pertemuan Communicating Astronomy with the Public, saya mengajukan diri untuk bekerja dalam task group cosmic diary cornerstone project,  yang merupakan bagian dari International Year of Astronomy 2009.

Yang nggak pernah saya sangka.chair Cosmic Diary justru mengundang saya untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Semua dimulai di akhir tahun 2007 di Athena, sebuah kota tua yang penuh dengan sejarah dunia. Dalam pertemuan <em>Communicating Astronomy with the Public</em>, saya mengajukan diri untuk bekerja dalam <em><a href="http://astronomy2009.org/globalprojects/cornerstones/cosmicdiary/">task group cosmic diary cornerstone project, </a></em> yang merupakan bagian dari <a href="http://astronomy2009.org" target="_blank"><em>International Year of Astronomy 2009.</em></a></p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://cosmicdiary.org/"><em><img title="cosmicdiary_white" src="http://simplyvie.com/wp-content/uploads/2009/01/cosmicdiary_white.png" alt="cosmicdiary_white" width="300" height="103" /></em></a><span id="more-317"></span></p>
<p>Yang nggak pernah saya sangka.<em>chair Cosmic Diary</em> justru mengundang saya untuk ikut terlibat sebagai blogger disana. Wow&#8230; berbagi pengalaman dalam sebuah komunitas blog profesional benar-benar jadi sebuah penghargaan dan apresiasi atas apa yang sedang saya bangun saat ini.</p>
<p>So akhirnya saya pun terlibat tak hanya dalam <em>task group</em> GTTP dan <em>cosmic diary</em> namun juga sebagai <a href="http://cosmicdiary.org/blogs/avivah_yamani_riyadi/" target="_blank">blogger <em>cosmic diary</em></a>.</p>
<p>tapi apa sih <em>Cosmic Diary?</em></p>
<p><a href="http://www.cosmicdiary.org/" target="_blank"><em>Cosmic diary</em></a> bukan sekedar mengenai astronomi tapi lebih kepada bagaimana menjadi seorang astrono. Tujuan cosmic diary justru untuk memberikan wajah yang lebih humanis dari astronomi. Disini para astronom profesional akan menulis blog tentang kehidupan mereka, keluarga, teman, hobi dan ketertarikan mereka. Tapi tidak hanya itu, mereka juga akan menuliskan mengenai pekerjaan mereka termasuk hasil penelitian terbarunya.</p>
<p>Para blogger berasal dari berbagai belahan bumi dan diluar ruang kerjanya, mereka adalah musisi, ibu, ayah, fotografer, atlit. astronom amatir. Sementara di dalam lingkup kerjanya, mereka adalah manajer, pengamat. mahasiswa, astronom, data analis, dan pembuat instrumen.</p>
<p>Diharapkan melalui proyek ini, para blogger akan menjelaskan satu aspek khusus yang menjadi bidangnya pada publik. Selain itu diharapkan akan terbangun komunikasi di antara para blogger dan pembaca. Tantangannya adalah bagaimana para blogger ini menuliskan dalam bahasa yang mudah dimengerti.</p>
<p>Sejak tanggal 1 Januari 2009, blog Cosmic Diary sudah dapat diakses. Di dalamnya terdapat 50 blogger yang terpilih dari berbagai negara dan dari institusi  seperti NASA, ESA, JAXA, dan ESO.</p>
<p>Dari asia tenggara, ada 3 orang blogger yang berkesempatan menjadi blogger <em>cosmic diary</em> bersama astronom dunia yakni, <a href="http://cosmicdiary.org/blogs/avivah_yamani_riyadi/" target="_blank">saya</a> (Indonesia), <a href="http://cosmicdiary.org/blogs/emanuel_sungging_mumpuni/" target="_blank">Emanuel Sungging Mumpuni</a> (Indonesia) dan <a href="http://cosmicdiary.org/blogs/rogel_sese/" target="_blank">Rogel Sese</a> (Filipina). Bagi kami ini adalah sebuah kesempatan untuk bisa berbagi pengalaman dan perjalanan juga tentang astronomi kepada publik.</p>
<p>Selamat menikmati.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://simplyvie.com/2009/01/04/cosmic-diary/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mencari Sabuk Kuiper Dalam Sistem Keplanetan</title>
		<link>http://simplyvie.com/2008/10/28/mencari-sabuk-kuiper-dalam-sistem-keplanetan/</link>
		<comments>http://simplyvie.com/2008/10/28/mencari-sabuk-kuiper-dalam-sistem-keplanetan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 27 Oct 2008 18:45:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ivie</dc:creator>
				<category><![CDATA[astronomy]]></category>
		<category><![CDATA[acrete]]></category>
		<category><![CDATA[icmns]]></category>
		<category><![CDATA[stargen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://simplyvie.com/?p=237</guid>
		<description><![CDATA[Dua tahun lalu, saya turut mengisi The International Conference on Mathematics and Natural Sciences (ICMNS) 2006 dengan mengajukan poster paper yang merupakan hasil awal dari riset saya untuk pemodelan sistem keplanetan menggunakan ACRETE milik Dole yang dibuat pada tahun 1970. Pemodelan tersebut dilandaskan pada model akresi sebagai model pembentukan dari Tata Surya.
Pemodelan dengan menggunakan ACRETE [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dua tahun lalu, saya turut mengisi <a href="http://seminar.fmipa.itb.ac.id/icmns2008/index.php" target="_blank">The International Conference on Mathematics and Natural Sciences</a> (ICMNS) 2006 dengan mengajukan <a href="../2006/11/08/another-conference-another-paper/" target="_blank">poster paper</a> yang merupakan hasil awal dari riset saya untuk pemodelan sistem keplanetan menggunakan ACRETE milik Dole yang dibuat pada tahun 1970. Pemodelan tersebut dilandaskan pada model akresi sebagai model pembentukan dari Tata Surya.<span id="more-237"></span></p>
<p>Pemodelan dengan menggunakan ACRETE ini kami kembangkan sehingga dapat menganalisa kestabilan sistem yang terbentuk. Idenya sederhana, yakni meninjau gerak n-benda yang terjadi setelah seluruh planet terbentuk dengan mengaplikasikan syarat pertemuan untuk terjadinya tabrakan antara objek-objek di dalam sistem. Dari hasil penelitian yang saya lakukan dengan menerapkan pemodelan tersebut pada bintang-bintang yang memiliki planet (extrasolar), tampaknya keberadaan planet-planet serupa Jupiter adalah hal umum terutama pada bintang bermassa rendah. Bintang bemassa besar cenderung kehabisan gasnya selama massa pembentukan dan seandainya planet bisa terbentuk maka planet yang dihasilkan adalah planet batuan dan planet serupa venus.</p>
<p>Tahun ini dalam pertemuan ICMNS 2008, kami mengajukan sebuah poster paper dengan judul “<em>Kuiper Belt Formation Using Planetary System Generator</em> (PSG)”. PSG adalah nama yang saya berikan untuk ACRETE STARGEN yang saya modifikasi. Dalam paper ini kami melakukan tinjauan terhadap sistem-sistem yang terbentuk dalam hasil simulasi PSG untuk mendapatkan apakah objek-objek serupa Sabuk Kuiper bisa ditemukan dalam sistem yang terbentuk.</p>
<p>Dalam tinjauan ini PSG diaplikasikan pada 15 buah bintang dengan massa antara 0,24 &#8211; 100 massa Matahari. Parameter yang digunakan adalah massa 12 buah bintang yang saat ini diketahui memiliki planet serta 3 bintang lainnya merupakan bintang bermassa besar seperti Rigel, P Cygni dan Eta Carinae. PSG dijalankan untuk membentuk 250 sistem keplanetan pada masing-masing bintang. Dengan demikian saya memiliki 3750 sistem untuk dianalisa. Hasilnya objek-objek serupa Sabuk Kuiper umum ditemukan di setiap sistem yang terbentuk. Objek-objek tersebut berada di luar jarak 40 SA, atau lebih tepatnya berada pada area terluar Tata Surya. Yang menarik massa dari objek-objek kecil tersebut berada dalam rentang massa yang dimiliki planet katai seperti Pluto, Eris, Sedna, Makemake, Haumea atau massa yang lebih kecil lagi. Total massa objek serupa Sabuk Kuiper di sistem keplanetan yang dibuat dengan model PSG berada jauh di bawah 10 -13 massa Bumi yang diperkirakan sebagai batas atas dari massa total objek Sabuk Kuiper di Tata Surya.</p>
<p>Hal menarik lainnya adalah fakta ditemukannya 3 buah sabuk di bintang Epsilon Eridani yang saat ini dikethaui memiliki sebuah planet.  Di antara 3 sabuk tersebut, dua diantaranya adalah sabuk asteroid yang berada pada jarak 3 SA  (jarak sabuk asteroid di Tata Surya) dan sabuk kedua berada pada jarak 20 SA (lokasi dimana Uranus berada), dengan massa sebanding dengan massa Bumi. Sabuk ketiga yang ditemukan berupa cincin es yang membentang pada jarak 35 &#8211; 100 SA dari Epsilon Eridani. Waduk esini mirip dengan waduk yang ada di Tata Surya yang kita kenal sebagai Sabuk Kuiper. Materi yang ditemukan di cincin terluar Epsilon Eridani ini mengandung materi 100 kali lebih banyak dari di Sabuk Kuiper.</p>
<p>Di antara 12 bintang sistem extrasolar yang disimulasikan pada PSG, satu di antaranya adalah bintang Epsilon Eridani. Hasil simulasi menunjukan pada jarak 31-93 SA, terdapat objek berukuran planet katai atau yang lebih kecil dari itu. Bahkan terdapat juga objek-objek seukuran asteroid. Dengan membandingkan hasil pengamatan dan simulasi bisa kita lihat kalau sabuk asteroid ini adalah sebaran mater-materi yang umum terjadi pada sistem keplanetan. Memang baru ada dua sampel yang bisa dibandingkan yakni Tata Surya dan Epsilon Eridani, namun diharapkan di masa depan akan ada lebih banyak hasil observasi yang bisa mengkonfirmasi keberadaan Sabuk Kuiper di lapis luar sistem keplanetan.</p>
<p>Dari tinjauan terhadap seluruh sistem yang terbentuk, pada bintang bermassa kecil objek Kuiper yang terbentuk lebih banyak dibanding pada bintang yang massanya besar. Pada bintang bermassa besar gas yang ada di dalam sistem itu sudah habis terbakar oleh temperatur bintang yang besar. Akibatnya gas yang tersisa mengalami interaksi dengan debu yang ada membentuk planet. Sedikitnya objek Kuiper yang terbentuk karena debu yang merupakan materi pembetuknya sudah habis terpakai untuk pembentukan planet-planet di sistem tersebut. Bisa disimpulkan kalau objek-objek Kuiper yang ada di bagian terluar sistem merupakan sisa materi pembentukan planet ataupun serpihan materi yang muncul dari tabrakan objek-objek di dalam sistem.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://simplyvie.com/2008/10/28/mencari-sabuk-kuiper-dalam-sistem-keplanetan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Water Rocket Workshop and Galileoscope</title>
		<link>http://simplyvie.com/2008/10/23/water-rocket-workshop-and-galileoscope/</link>
		<comments>http://simplyvie.com/2008/10/23/water-rocket-workshop-and-galileoscope/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 23 Oct 2008 11:56:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ivie</dc:creator>
				<category><![CDATA[astronomy]]></category>
		<category><![CDATA[festival sains]]></category>
		<category><![CDATA[galileoscope]]></category>
		<category><![CDATA[langitselatan]]></category>
		<category><![CDATA[LAPAN]]></category>
		<category><![CDATA[unawe]]></category>
		<category><![CDATA[universe awareness]]></category>
		<category><![CDATA[water rocket]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://simplyvie.com/?p=236</guid>
		<description><![CDATA[Three, two, one………….hurray the rocket launch.
Those are happy voices from visitors in Water Rocket session at Science Aeronautics Festivals last week in  Indonesia Institute of Aeronautics and Space (LAPAN), Haurngombong Village, Tanjung, Sari, Sumedang. LAPAN hold thie festival to participate in World Space Week. In this festival LAPAN also colaborate with langitselatan and Universe Awareness [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.flickr.com/photos/simplyvie/2958404256/" target="_blank"><img class="alignleft" style="margin: 10px;" src="http://farm4.static.flickr.com/3025/2958404256_f4a64977bf.jpg?v=0" alt="" width="200" /></a>Three, two, one………….hurray the rocket launch.</p>
<p>Those are happy voices from visitors in <a href="http://langitselatan.com/2008/10/21/mengenal-astronomi-dalam-festival-sains-antariksa/" target="_blank">Water Rocket session at Science Aeronautics Festivals</a> last week in  <a href="http://www.dirgantara-lapan.or.id/index.php?nama=berita&amp;opt=detail&amp;no=133&amp;id_topik=3" target="_blank">Indonesia Institute of Aeronautics and Space (LAPAN)</a>, Haurngombong Village, Tanjung, Sari, Sumedang. LAPAN hold thie festival to participate in World Space Week. In this festival <a href="http://www.dirgantara-lapan.or.id/index.php?nama=berita&amp;opt=detail&amp;no=133&amp;id_topik=3" target="_blank">LAPAN</a> also colaborate with <span style="color: #000080;"><strong><a href="http://langitselatan.com/" target="_blank">langitselatan</a></strong></span> and <a href="http://unawe.org/" target="_blank">Universe Awareness for young children</a> (UNAWE).<span id="more-236"></span></p>
<p>There were many activities including drawing and coloring competition, teaching aid equipments competition for students, solar observation, quiz test, water rocket workshop, game like snake and ladder, quart, origami, also portable planetarium show, astronomy presentation, movies and night observation.  In this events, <span style="color: #000080;"><strong><a href="http://langitselatan.com/" target="_blank">langitselatan</a> </strong></span>had opportunity to conduct the water rocket workshop and provide the planisphere for southern sky.  In this workshop most of our participants in water rockets workshop were students and teachers.</p>
<p><a href="http://www.flickr.com/photos/simplyvie/2958394288/in/photostream" target="_blank"><img class="alignright" style="margin: 10px;" src="http://farm4.static.flickr.com/3056/2958394288_715ce08bfa.jpg?v=0" alt="" height="150" /></a>At first we launched a rocket and then we started to teach the visitors how to build rocket and its launcher. After the teaching session, students and teachers were allowed to launch the water rocket. It was fun to see they try to launch the rocket, while others keep asking about how to get the rocket material. This is one of many hands on activities that impressed teachers and students. At the end of the session, students from teacher aid equipments competition also showed their rocket to all the visitors there.</p>
<p>When the sun sets and the night came, while Ferry M.S from Astronomy Department of ITB gave a talk about astronomy software, sky map, and astronomy in general, <span style="color: #000080;"><strong><a href="http://langitselatan.com/" target="_blank">langitselatan</a></strong></span> also had a chance to observe with galileoscope for the first time. And it was great. Aldino and I started by gave a feeling on how to be Galileo when he pointed his telescope for the first time 400 years ago.  We asked students to imagine how excited it was when they could find Jupiter and its moon for the first time. So at first we gave the students a chance to look through the scope and then we change the scope direction and asked them to find Jupiter again by themselves. It was a beautiful night.</p>
<p>Even though there was no portable planetarium, but the real planetarium dome above amazed us with its beauty. A clear sky that we can see milky way and millions stars above with naked eye. It was a great chance for us to build awareness among students about sky and universe through galileoscope and its story and also through the beauty of the sky. Although we are tired but it can’t stop us to enjoy the night beauty under the real planetarium dome, the sky itself.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://www.flickr.com/photos/simplyvie/2958414720" target="_blank"><img src="http://farm4.static.flickr.com/3221/2958414720_316b904743.jpg?v=0" alt="" width="400" height="300" /></a></p>
<p>More pictures could be found in <a href="http://flickr.com/photos/simplyvie/sets/72157608209351989/" target="_blank">here</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://simplyvie.com/2008/10/23/water-rocket-workshop-and-galileoscope/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Children Playground in 2nd IOAA Exhibition</title>
		<link>http://simplyvie.com/2008/09/28/children-playground-in-2nd-ioaa-exhibition/</link>
		<comments>http://simplyvie.com/2008/09/28/children-playground-in-2nd-ioaa-exhibition/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 28 Sep 2008 12:45:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ivie</dc:creator>
				<category><![CDATA[astronomy]]></category>
		<category><![CDATA[ioaa]]></category>
		<category><![CDATA[universe awareness]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://simplyvie.com/?p=231</guid>
		<description><![CDATA[In the 2nd International Olympiads on Astronomy and Astrophysics Exhibition, almost all astronomy community in Indonesia joint this event. Here, you can met Jakarta Amateur Astronomy Club, langitselatan, Astronomy Students Association (ITB), Cakrawala (Universitas Pendidikan),Kastro Sirius 89 (SMA 89), FOSCA (Jakarta Forum of student science club), Madania, Astronomy Indonesia mailing list community, and UNAWE Indonesia.
Each [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft content-block-fix" style="margin: 10px; float: left;" src="http://farm4.static.flickr.com/3204/2805246073_9a22df0989.jpg?v=0" alt="" width="116" height="155" />In the 2nd International Olympiads on Astronomy and Astrophysics Exhibition, almost all astronomy community in Indonesia joint this event. Here, you can met Jakarta Amateur Astronomy Club, langitselatan, Astronomy Students Association (ITB), Cakrawala (Universitas Pendidikan),Kastro Sirius 89 (SMA 89), FOSCA (Jakarta Forum of student science club), Madania, Astronomy Indonesia mailing list community, and UNAWE Indonesia.</p>
<p>Each community exhibit about themselves and interact with visitors. Among them, UNAWE Indonesia is one of the favorite playground corner for children. Here, children could play many games such as quart, astronomy puzzles, coloring astronomy images, astronomy rubik and playing the giant snakes and ladders board. They also take the A4 snakes and ladders boards as a gift. Not just that, Prof. Ron Ekers, the former IAU Presidents was also played the giant board game too.<span id="more-231"></span></p>
<p style="text-align: center;"><img src="http://farm4.static.flickr.com/3198/2806091080_6cd07b2dda.jpg?v=0" alt="" width="400" /></p>
<p>It was an excited moment to see many children gather in the playground corner to play or just watched others. Some of the children had to find another place to sit and coloring their pictures.</p>
<p style="text-align: center;"><img src="http://farm4.static.flickr.com/3188/2805238039_4c1ffe05f5.jpg?v=0" alt="" width="400" height="300" /></p>
<p>Another children activities in this exhibition was BOBO drawing competition and BOBO astronomy Labyrinth where children could act as an astronaut.</p>
<p>Those three days were great not just for children who plays there but also for us. To see the happiest faces of the children and all others visitors was the best moment of all.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://simplyvie.com/2008/09/28/children-playground-in-2nd-ioaa-exhibition/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>langitselatan in 2nd IOAA Exhibition</title>
		<link>http://simplyvie.com/2008/09/26/langitselatan-in-2nd-ioaa-exhibition/</link>
		<comments>http://simplyvie.com/2008/09/26/langitselatan-in-2nd-ioaa-exhibition/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Sep 2008 05:42:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ivie</dc:creator>
				<category><![CDATA[astronomy]]></category>
		<category><![CDATA[ioaa]]></category>
		<category><![CDATA[langitselatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://simplyvie.com/?p=230</guid>
		<description><![CDATA[In the 2nd International Olympiads on Astronomy and Astrophysics last August (25-27 August 2008), Langitselatan also take part on the event. We get one stand about 3×3 m just right in the corner. Langitselatan present pictures and stuff to public. But not just that, the main show in our stand is the display of langitselatan.com, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft content-block-fix" style="margin: 10px; float: left;" src="http://farm4.static.flickr.com/3295/2807021115_93cc5e6dcd.jpg?v=0" alt="" width="162" height="122" />In the 2nd International Olympiads on Astronomy and Astrophysics last August (25-27 August 2008), Langitselatan also take part on the event. We get one stand about 3×3 m just right in the corner. Langitselatan present pictures and stuff to public. But not just that, the main show in our stand is the display of langitselatan.com, stellarium, short animation and movies. The stuff in our display table are pins, bookmarks, posters, small telescope, galileoscope from Japan (this is not for sell) and t-shirts.<span id="more-230"></span></p>
<p>Never thought all the stuff sold out .. well not all but some stuff really sold out. This is great. but the more important is I met many people. We discussed many topics especially astronomy for children. I also met physics and astronomy teachers from all level (elementary school, middle school and high school) and they asked for help to provide astronomy material for them. Seems like several of them has no astronomy or physics background and they get many difficulties to understand and teach astronomy subject.</p>
<p>Three days during exhibitions, I get so many information including from Microsoft WWT although it can’t change my mind that in Indonesia the tools we need is something free, simple, not to much requirement that everybody in this country could use it.</p>
<p><img class="alignright content-block-fix" style="margin: 10px; float: right;" src="http://farm4.static.flickr.com/3287/2807870552_ffcdce87d7.jpg?v=0" alt="" width="200" />People needs the content not the greatest software or the greatest tools. Tool is only tool.. we can use it and maximize it to fulfill our need.  This is not for software only but for all educational tools. Even though it is small, it is not high tech, it is not the best tool in the world, it is only hand made etc but as long as we can share information and educate people with it we should keep use it. Except you have money of course to get expensive tools. However, for the whole year, I am amazed with the tools and methods from India. They could use everything cheap &amp; simple to educate their people.</p>
<p>Back to the exhibitions. I also met leader and observer from several countries that interested in IYA2009 cornerstone projects such as UNAWE and GTTP.  It was great to share all information that I have to so many people.  I also met students, children, parents, grandparents that interested in astronomy. We discuss so many things and I also shared free software and educational material with them. One of our visitors was Prof. Ron Ekers former President of IAU. Esti and I got the chance to interview him for IOAA newsletter. In the interview, he share his thought and  point of view on astronomy popularisation and education in Indonesia including IYA2009.</p>
<p>The best of all I could make all show under my mac.. hehehe…</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://simplyvie.com/2008/09/26/langitselatan-in-2nd-ioaa-exhibition/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Astronomy Club and Networking</title>
		<link>http://simplyvie.com/2008/09/26/astronomy-club-and-networking/</link>
		<comments>http://simplyvie.com/2008/09/26/astronomy-club-and-networking/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Sep 2008 05:42:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ivie</dc:creator>
				<category><![CDATA[astronomy]]></category>
		<category><![CDATA[astronomy community]]></category>
		<category><![CDATA[cakrawala]]></category>
		<category><![CDATA[haaj]]></category>
		<category><![CDATA[langitselatan]]></category>
		<category><![CDATA[seaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://simplyvie.com/?p=229</guid>
		<description><![CDATA[Astronomy popularisation is really important for the development of basic sciences in Indonesia. The keyplayers here is not just astronomy department or Bosscha observatory but also amateur astronomy clubs and communities. In Indonesia, we have several active astronomy clubs and communities. In Indonesia, we have several active astronomy clubs and communities. Let start with HIMASTRON [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft content-block-fix" style="margin-bottom: 5px; margin-right: 10px; margin-top: 5px;" title="dscf0658" src="http://simplyvie.com/wp-content/uploads/2008/09/dscf0658.jpg" alt="" width="226" height="150" />Astronomy popularisation is really important for the development of basic sciences in Indonesia. The keyplayers here is not just astronomy department or Bosscha observatory but also amateur astronomy clubs and communities. In Indonesia, we have several active astronomy clubs and communities. In Indonesia, we have several active astronomy clubs and communities. Let start with HIMASTRON (Himpunan Mahasiswa Astronomi) an Astronomy Students Association of the Department of Astronomy &#8211; ITB, Bandung. This society acts as a partner of the department of Astronomy-ITB in astronomy popularisation and education in Indonesia through various activities such as public lectures, seminars, star parties, seminars, astrocamps, talk shows etc.<span id="more-229"></span></p>
<p>Besides HIMASTRON, there are many amateur astronomy societies in Indonesia, which is distributed in several big cities. In Jakarta, the capital city of Indonesia, all astronomy enthusiasts could join HAAJ Jakarta Amateur Astronomy Society) at Jakarta Planetarium that established in 1984. Until now, they conduct many activities such as regular meetings (biweekly), star partie, astro parties (talk shows, seminars, exhibitions) and workshops. They also established astronomy clubs and communities at the high school level around Jakarta and nearby cities. The high school astronomy clubs that organized by HAAJ are Kastro Sirius 89 (SMA 89), FOSCA (Jakarta Forum of student science club), Castro (Club Astronomi SMAN 3 Bogor) Even, at MADANIA schools in Bogor, they also have courses in astronomy, some activities and clubs in their school agenda. In Bandung, we have several communities like Cakrawala (Astronomy Club in Universitas Pendidikan Indonesia) and student astronomy club in Trimulia high school, Bandung.</p>
<p>In Yogjakarta, there is an astronomy club name Jogja Astro Club (JAC) which is very active in this region. JAC usually held a star party, science fair and actively observing crescent lunar for fasting month (Ramadhan). Recently in Surabaya, they just announced a new astronomy club under the name “Surabaya Amateur Astronomy” this month (August 2008) and will start their activity soon.</p>
<p>Far away from Java, in South Celebes, there is an astronomy club that developed by former astronomy olympians in SMAN 17 Makassar named SCASTRON.</p>
<p>In Indonesia, the presence of the astronomy club not only in the real world but also in cyberspace. In the cyberspace we have the largest group of astronomy enthusiasts and astronomy groups in a mailing list named Astronomy Indonesia Mailing List (in yahoogroups). The mailing list was build in 2001 by the alumni of the department of astronomy &#8211; ITB. Now this mailing list has more than 800 members. They made their first gathering on June 2008. Another cyber community is langitselatan (southern sky) online forum. It is a discussion forum from <a href="http://langitselatan.com/" target="_blank">langitselatan.com</a> blog, an astronomy online media in Indonesia.</p>
<p>In South East Asia, an astronomy networking was started on 2007 in Thailand, when astronomer from this region agreed to build a networking though South East Asia Astronomy Network (SEAAN) 1st meeting in Siam Physics Congress (SPC), Thai National Astronomical Meeting (TNAM), on 22-24 March 2007 in Bangkok. SEEAN itself was proposed during the SPS5, IAU General Assembly in Prague in 2006 by Prof. Boonrucksar Soonthornthum from Thailand. SEAAN will sign their MOU next year in a meeting in Thailand.</p>
<p style="text-align: left;"><em>published in the 2nd IOAA Newsletter</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://simplyvie.com/2008/09/26/astronomy-club-and-networking/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>IYA2009 in Indonesia</title>
		<link>http://simplyvie.com/2008/09/26/iya2009-in-indonesia/</link>
		<comments>http://simplyvie.com/2008/09/26/iya2009-in-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Sep 2008 04:42:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ivie</dc:creator>
				<category><![CDATA[astronomy]]></category>
		<category><![CDATA[developing astronomy globally]]></category>
		<category><![CDATA[galileo teacher training program]]></category>
		<category><![CDATA[international year of astronomy]]></category>
		<category><![CDATA[twan]]></category>
		<category><![CDATA[universe awareness]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://simplyvie.com/?p=228</guid>
		<description><![CDATA[Next year in International Year of Astronomy 2009 (IYA2009), Indonesia will take part in this event. Many plans has been made and several of them are parts of IYA2009 cornerstone project. Several preparations have been made since mid 2008 such as astroarcheology seminar on May 15th, 2008. The second seminars of Astronomy in Indonesian Culture [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Next year in International Year of Astronomy 2009 (IYA2009), Indonesia will take part in this event. Many plans has been made and several of them are parts of IYA2009 cornerstone project. Several preparations have been made since mid 2008 such as astroarcheology seminar on May 15th, 2008. The second seminars of Astronomy in Indonesian Culture held in 2nd Astronomy and Astrophysics Olympiads Exhibitions on 25th August 2008 and the other one will be held next year during IYA2009. <span id="more-228"></span></p>
<p>In the 2nd IOAA exhibitions, Indonesia node will announce Indonesia Dark Skies Association with aims to build awareness of dark skies among public. During IYA2009, Indonesia UNAWE will also take part as one of the cornerstones. Developing Astronomy Globally (DAG), Cosmic Diary and Galileo Teacher Training Program (GTTP) are cornerstones project that will take part in Indonesia.</p>
<p>Indonesia node will take part in 100 hours astronomy and distribute 27 telescopes to 27 schools in different provinces with workshops for teachers and students. This is also part of astronomy olympiads training in Indonesia. Aside from that, Bosscha Observatory will hold astrocamp for teachers and students. Another special project of IYA2009, The World at Night (TWAN) will also held in Indonesia net year. It is an international project to create and exhibit a collection of stunning photographs of the world’s most beautiful and historic sites against a nighttime backdrop of stars, planets and celestial events. Indonesia has been chosen to make an exhibit next year. Not just that, TWAN has education purpose as well to teach beginner how to make sky photography and create TWAN-style images with modest equipment.</p>
<p><em>published in 2nd IOAA Newsletter</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://simplyvie.com/2008/09/26/iya2009-in-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
