daily bread
Hari itu mungkin hari paling mengejutkan buat perempuan itu. Hari-hari yang biasanya ia lalui dalam kehangatan dan kenikmatan tiba-tiba terenggut ketika orang-orang itu.. datang menangkapnya..menyeretnya di sepanjang jalanan kota…
Tangisan dan teriakannya seperti menguap.. orang-orang itu tetap saja menyeretnya.. penuh tatapan kemarahan. kejijikan dan entah apalagi. perempuan itu seperti noda yang harus segera ditanggalkan. Tapi kemana mereka membawanya?
Takut…. sesal semua bercampur jadi satu…
Perempuan itu tak lagi mampu berkata-kata. lidahnya kelu … pikirannya terkoyak sama seperti kehidupannya yang tiba-tiba dikoyakkan dari taman impiannya. Kehidupan yang ia nikmati.. tapi juga ia sembunyikan.. yang hanya bisa ia tampilkan dari balik pekatnya malam. Kekelaman adalah kawan.. terang adalah musuh yang menghadang… continue…
Kedatangan mamaku dari Ambon membawa banyak cerita. Cerita tentang gereja dan perilaku orang-orang di dalamnya. Menarik karena gereja seakan menjadi tempat dimana ada sekumpulan hipokrit yang sangat pintar menuding orang lain bagaimana harus bersikap namun ia sendiri hidup jauh dari kata-katanya. Ada banyak cerita yang rasanya tak etis untuk diungkapkan disini. Namun ada beberapa hal yang menarik perhatianku. Salah satunya perdebatan saat akan ke gereja bersama mamaku beberapa waktu lalu. Katanya , “Anak ini.. ke gereja kok pake pakaian kaya gitu? Orang di Ambon ga pake jeans dan kaos kayak kamu. Ga pantes.. ga sopan.. apa kata orang nantinya? …”. continue…
Hari itu adalah hari yang mengejutkan buat mereka. Bagaimana tidak? Kepulangan perempuan-perempuan itu membawa kabar kalau jenazah guru mereka telah hilang. Dan apa katanya? Ada malaikat berkata Sang Guru bangkit? wuahh apa maksudnya? apakah perempuan-perempuan itu berkata benar? atau mereka melebih-lebihkan ? Tapi bagaimana mungkin jenazahnya hilang? Siapa yang tega mencuri tubuh Yesus?
Pembicaraan dan keheranan akan kejadian yang terjadi beberapa hari lalu menjadi topik hangat keduanya saat berjalan menuju Emaus. Kedua murid Sang Guru yang baru saja disalibkan itu bak dua orang yang kehilangan pegangan. Mereka bingung, bagaimana mungkin Sang guru yang baru saja dielu-elukan sebagai Raja, tau-tau disalibkan sebagai penjahat paling terkutuk di salib itu. Mana ada orang Roma yang disalib? Salib adalah penghinaan. Bagaimana mungkin Guru yang mengajar kebaikan dan menyembuhkan banyak orang ditinggikan di salib? Belum lagi keheranan itu hilang.. datang pula berita tak ada lagi mayat Sang Guru di kuburan. Rasanya semua jadi kacau. continue…
Dalam perjalanan pulang dari gereja, ada sepenggal pembicaraan yang menarik perhatianku. Pembicaraan yang kemudian dikaitkan dengan seorang tokoh di Alkitab ;
ibu : Iya aku baru tau dia ternyata marganya Petrus
cowo : oya? wah kukira itu namanya. Petrus orang yang nyangkal Tuhan Yesus. hahaha… continue…
Hmm nggak banyak yang bisa disampaikan sekarang karena saya pun masih belajar untuk tetap tekun dan setia berjalan di dalam iman. Ada banyak kejadian yang mengajarkan saya untuk tetap teguh.. ada teguran dan sapaan yang membawaku pada keyakinan untuk tetap bersandar kepada Dia. Namun di balik itu ada sisi lain yang terus mengguncangku untuk goyah dan terbawa gelombang. Ada gelombang kekawatiran, kemarahan dan kekecewaan. Kadang ada kesombongan yang menyeruak hadir membawa saya terhempas dalam kecewa …
Namun inilah perjalanan .. seperti seorang pengembara yang terus maju, saya tak lagi bisa berhenti dan berbalik. Saya harus terus berjalan meniti visi dan harapan yang sudah diberikan. Berjalan terus dan tetap di jalanNya. Ternyata memang semua tak semudah yang dikatakan.. continue…
Setiap melihat sebuah pernikahan saya sering bertanya bisakah janji rekan-rekan yang menikah itu dipertahankan? Sehidup semati bukan hanya dalam sukacita namun juga dalam kedukaan. Bisakah mereka menjalaninya sampai batas akhir dimana maut memisahkan mereka? Apalagi di tengah dunia yang gonjang ganjing dipenuhi permasalahan. Apalagi cerai seperti menjadi makanan sehari-hari. Berita perceraian di tv itu sudah seperti minum obat diberitakan 3 kali sehari dari kalangan artis.
Namun saat bertemu tante Wenni di RS Advent saat menjenguk Pak Budi saya jadi belajar arti kesetiaan. Kesetiaan bukan sekedar di saat suka namun disaat apapun seindah dan sesulit apapun itu. Melihat tante yang tetap setia dan penuh kasih merawat Pak Budi saya jadi terharu. Sesuatu yg ga bisa saya ceritakan dengan kata-kata. Namun saya beljar untuk tulus mengasihi…
Yang terlintas saat itu.. mungkin inilah aku dihadapan Allah penuh lumpur dosa . penuh kejijikan dan ketidaklayakan namun Ia tak pernah meninggalkanku. Ia senantiasa ada disisiku dan memberiku kekuatan. Ia yang tak pernah lalai bahkan menyatakan.”Tidak usah takut karena kamu lebih berharga dari banyak burung pipit”
Beberapa hari lalu saat sedang menelusuri video lagu-lagu era saya masih berseragam di youtube, saya justru menemukan video lagu Lentera Jiwa, single baru yang dibawakan oleh Nugie. Seperti biasa, lagu dengan makna yang cukup dalam dan menyentuh. Lagu yang bercerita tentang sebuah pencarian dalam hidup dan perjalanan mengikuti nurani.
Sejenak saya seperti berkaca melihat kehidupan saya sendiri. Semua seperti mengalir dalam sebuah sungai yang penuh riak dan kadang terantuk batu dan kerikil. Tapi walau demikian saya menikmatinya. Sudahkah saya menemukan lentera jiwa saya? Itu pertanyaan yang sesaat muncul namun kemudian akan tenggelam hilang di antara deru kesibukan sehari-hari. continue…
Jumat lalu saya diminta untuk mencarikan 2 talent anak-anak untuk syuting acara Jalan Sesama di Bosscha. Dari 4 anak yang dihubungi, 3 diantaranya menolak kesempatan yang diberikan tersebut. Akhirnya kami harus mencari 1 talent anak perempuan untuk melengkapi skenario yang ada. Singkat cerita talent tersebut memang ditemukan dari anak salah satu pegawai di lokasi syuting. continue…




