<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>SimplyVie &#187; daily bread</title>
	<atom:link href="http://simplyvie.com/category/daily-bread/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://simplyvie.com</link>
	<description>-- the pilgrim journey --</description>
	<lastBuildDate>Mon, 01 Mar 2010 17:47:11 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Keinginan Yang Berakhir Maut</title>
		<link>http://simplyvie.com/2009/11/09/keinginan-yang-berakhir-maut/</link>
		<comments>http://simplyvie.com/2009/11/09/keinginan-yang-berakhir-maut/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Nov 2009 17:24:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ivie</dc:creator>
				<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[christian]]></category>
		<category><![CDATA[daily bread]]></category>
		<category><![CDATA[Ahab]]></category>
		<category><![CDATA[Daud]]></category>
		<category><![CDATA[Jangan mengingini]]></category>
		<category><![CDATA[Nabot]]></category>
		<category><![CDATA[Tuhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://simplyvie.com/?p=808</guid>
		<description><![CDATA[Ribuan tahun lalu, di zaman Musa, Allah menurunkan Hukum Taurat kepada bangsa Israel. Susunan perintah yang menyadarkan manusia bahwa di dalam dirinya ada keinginan dosa dan ketidakmampuan untuk memenuhi standar yang diberikan Tuhan.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Berabad lampau, di zaman Musa, Allah menurunkan Hukum Taurat kepada bangsa Israel.<span id="more-808"></span></p>
<p><a href="http://simplyvie.com/wp-content/uploads/2009/11/covet.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-826" style="margin: 10px;" title="covet" src="http://simplyvie.com/wp-content/uploads/2009/11/covet.jpg" alt="covet" width="210" height="140" /></a> Susunan perintah yang menyadarkan manusia bahwa di dalam dirinya ada keinginan dosa dan ketidakmampuan untuk memenuhi standar yang diberikan Tuhan.  Standar kekudusan yang harus dipenuhi jika ingin bersama denganNya di dalam kekekalan. Apakah standar itu mudah? Apakah  manusia mampu untuk memenuhi setiap standar kekudusan Allah? Perintah tersebut bukan sekedar untuk menunjukkan pada manusia inilah standar Tuhan, namun perintah tersebut juga menunjukkan bagaimana seharusnya manusia menjalani kehidupan dan membangun tatanan masyarakat yang harmonis.</p>
<p>Dalam perintah-perintah itu, Allah memberikan aturan yang secara fisik sangat terlihat. Contohnya, jangan ada Allah lain, jangan membuat patung, jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri&#8230; semuanya nyata dan mudah terlihat oleh orang yang ada di sekelilingnya. Namun ada perintah lain yang tampak sangat abstrak tapi memberi dampak yang sama dengan perintah lainnya. Apakah itu ?</p>
<p>Tuhan menyatakan, “Jangan mengingini rumah sesamamu; jangan mengingini isterinya, atau hambanya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya atau keledainya, atau apapun yang dipunyai sesamamu.&#8221;</p>
<p>Jangan mengingini. what? kok bisa? apakah keinginan itu salah ? Bukankah dalam diri manusia selalu ada keinginan? Yup! tak salah, keinginan adalah bagian dari natur manusia yang tak bisa dihindarkan.</p>
<p>Ketika hasrat dan keinginan menyeruak dalam diri manusia, maka yang dituntut adalah sebuah pemenuhan. Tapi keinginan itu apa? akankah keinginan membawa pada kebaikan ataukah ia akan menjadi awal sebuah bencana? Salahkah jika kita mengagumi sesuatu dan mengharapkan atau menginginkan sesuatu? Well &#8230; bisa salah bisa juga tidak. Kok bisa?</p>
<p>Natur manusia menunjukkan keinginan itu seringkali lahir karena melihat dan memandang milik orang lain lebih baik dari dirinya sendiri. Seringkali pula keinginan itu lahir dengan motivasi hanya untuk memuaskan diri atau menunjukkan bahwa “aku bisa” atau pun “aku lebih baik”. Inilah letak permasalahannya. Ada memang keinginan yang lahir dari harapan untuk memperbaiki sesuatu atau menolong orang lain. Namun dalam perintah ini yang dibicarakan bukan keinginan yang baik itu namun keinginan yang lahir dari rasa tidak puas. intinya, Jangan megingini!. Entah itu kekasih sesamamu, barang sesamamu, hambanya, hewan ternaknya, atau kalau zaman sekarang bisa dibilang jangan deh mengingini mobil. rumah dan segala kemewahan sesamamu itu.</p>
<p>Mengapa? ada dua kisah dalam alkitab yang bisa menunjukkan betapa berbahayanya yang namanya mengingini. Yang pertama ketika Ahab mengingini kebun anggur milik Nabot yang ada di dekat rumahnya. Ketika Nabot menolak keinginan sang raja, Ahab pun uring-uringan, dan tidak mau makan. Sang istri yang heran kemudian bertanya apakah gerangan penyebabnya. Setelah tau penyebabnya, Izebel justru mengatur rencana untuk mendapatkan kebun anggur itu. Rencana yang menggunakan kekuasaan sebagai Raja&#8230; kebohongan diciptakan dengan nama Tuhan, dan akhirnya Nabot pun difitnah telah menghujat Allah dan raja sehingga ia pun mati dirajam. Allah Murka&#8230; dan nabi Elia diutus mendapatkan Ahab dan menyatakan hukuman padanya.</p>
<p>Kisah Ahab menunjukkan pada kita, dari keinginan yang ada di dalam hati dan pikiran akhirnya berbuah pada dosa. Kebohongan, pembunuhan dan terakhir mengambil milik Nabot yang sudah mati itu.</p>
<p>Kisah kedua datang dari kehidupan Daud, sang Raja yang dikenal sebagai biji mata Allah. Pria yang menuliskan bait-bait indah dalam mazmurnya. Keinginannya ternyata justru membawa petaka bagi dirinya. Sore itu, saat ia tengah berada di berandanya, Daud melihat seorang perempuan tengah mandi. Batsyeba nama perempuan itu. Daud pun tertarik dan mencari tau. Kabar dari para hamba mengatakan perempuan itu istri Uria. Apakah Daud berhenti? Tidak!. Ia justru memanggil Batsyeba dan kemudian tidur dengan dia. Akibatnya? Batsyeba pun hamil. Daud bingung dan mencari cara agar semuanya tak ketahuan. Sang suami, Uria dipanggil pulang dan dengan segala cara diusahakan agar Uria mau bersetubuh dengan sang istri. Sayangnya Uria tak bergeming. Baginya, selama kawan-kawannya maish berperang ia tak akan bersenang-senang sendiri. Akhirnya cara terakhir ditempuh Daud. Uria diperintahkan berada di garis depan untuk mati dan setelah itu Daud pun mengambil Batsyeba jadi istrinya. Happy Ending buat para pecinta sinetron. Tapi hidup bersama Allah bukan untuk kepuasan diri sendiri. Akibat perbuatannya, Allah mengutus Nathan untuk menegur Daud. Daud memang menyesal, tapi anak yang dikandung Batsyeba harus mati. Dan pedang tak pernah menyingkir dari keturunannya. Tragis? seorang raja hebat jatuh hanya karena seorang perempuan.</p>
<p>Kisah raja Daud ini bermula dari hal paling sederhana. Keinginan untuk memiliki perempuan yang ia lihat. Dia tau itu istri orang, tapi masih dilanjutkan juga dengan perzinahan, sampai pada pembunuhan. Apakah Daud tak punya istri? jangan salah, Daud sudah diberikan istri-istri tuannya bahkan gadis manapun pasti bisa dia perintahkan untuk jadi istrinya. Tapi yang dia inginkan itu istri pegawainya. Dan ia memilih untuk mengikuti keinginan itu yang berbuah dosa.</p>
<p>Keinginan mungkin sesuatu yang abstrak namun ketika keinginan itu dibuahi dalam perbuatan, ia tak lagi abstrak. Dan akibat dari perbuatan bisa berujung pada kebaikan ataupun pada kecelakaan. Keinginan yang lahir dari hasrat untuk memuaskan diri atau menunjukkan kehebatan diri biasanya akan berbuah pada kecelakaan. Contoh sederhana di masa kini, seseorang yang awalnya pembela rakyat bisa jadi seorang koruptor ketika masuk pemerintahan. Mengapa? Jawaban sederhana, karena ia ingin memuaskan dirinya sendiri dan tak berhenti mencari kepuasan. Inilah yang dimaksut oleh periokop di Keluaran 20 : 17 tersebut. Jangan mengingini barang sesamamu apapun itu.</p>
<p>Lantas bagaimana agar kita tidak mengingini yang bukan hak kita? Jawabannya sederhana. Beryukurlah dengan apa yang sudah dimiliki. Bersyukurlah akan setiap berkat yang sudah diterima tanpa harus melihat apakah rumput tetangga lebih hijau atau lebih kuning dari kita. Belajar untuk menerima diri sendiri dengan segala talenta dan berkat serta belajar untuk puas dengan apa yang dimilikinya. Karena jika kita membiarkan ketidakpuasan itu menguasai, maka akan muncul keinginan untuk memiliki yang lebih lagi, dan dari keinginan yang dibuahi itulah hadir dosa yang membawa pada maut.</p>
<blockquote><p>Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut. (Yak 1:15)</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://simplyvie.com/2009/11/09/keinginan-yang-berakhir-maut/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pilihlah Kepada Siapa Kamu Beribadah..</title>
		<link>http://simplyvie.com/2009/10/22/pilihlah-kepada-siapa-kamu-beribadah/</link>
		<comments>http://simplyvie.com/2009/10/22/pilihlah-kepada-siapa-kamu-beribadah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Oct 2009 14:52:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ivie</dc:creator>
				<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[christian]]></category>
		<category><![CDATA[daily bread]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Israel]]></category>
		<category><![CDATA[Yosua]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://simplyvie.com/?p=790</guid>
		<description><![CDATA[Pernahkah kata-kata itu telrintas di benakmu? Sebuah pertanyaan sederhana... kepada siapa kamu beribadah? Tak hanya itu tapi ada sebuah kata kunci lainnya.. pilihlah!. Apakah memilih iman semudah membalikkan telapak tangan? Well.. coba kita lihat orang yang mengatakan kata-kata ini  berabad-abad lampau.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pernahkah kata-kata itu telrintas di benakmu? Sebuah pertanyaan sederhana&#8230; kepada siapa kamu beribadah? <span id="more-790"></span></p>
<p><a href="http://simplyvie.com/wp-content/uploads/2009/10/footprint.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-791" style="margin: 5px;" title="footprint" src="http://simplyvie.com/wp-content/uploads/2009/10/footprint.jpg" alt="footprint" width="180" height="120" /></a>Tak hanya itu tapi ada sebuah kata kunci lainnya.. pilihlah!. Apakah memilih iman semudah membalikkan telapak tangan? Well.. coba kita lihat orang yang mengatakan kata-kata ini  berabad-abad lampau.</p>
<p>Adalah Yosua, seorang pemimpin Israel setelah Musa yang mengatakannya di masa tuanya. Kata-kata ini ia kemukakan pada bangsa yang ia pimpin. Ia bukan pemimpin diktator yang memaksa bangsanya memilih, namun ia memberi kesempatan kepada mereka untuk berpikir, menimbang dan memilih. Mengapa demikian?</p>
<p>Karena ia tahu bangsanya adalah bangsa yang tegar tengkuk.. yang seringkali ngedumel dan tidak pernah puas. bangsa yang sudah berulang kali mengalami mujizat dan karya tangan Sang Ilahi namun mereka jugalah yang berulang kali membangkang. Namun Yosua tak hanya memberi pilihan.. ia pun menyatakan pilihannya. Katanya,&#8221;</p>
<blockquote><p>Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, <strong>pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah</strong>; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. <strong>Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN. </strong>(Yosua 24:15)</p></blockquote>
<p>Pilihan yang Yosua ambil sangat jelas, aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada Tuhan. Pertanyaannya apakah pilihan ini datang begitu saja? Tidak juga. Yosua adalah pribadi yang hidup dan berjalan dengan Tuhan selama hidupnya. Ia mengalami banyak hal dalam pimpinan Tuhan ketika ia setia dan takut akan Tuhan. Tapi bukan berarti ia tak pernah mengalami permasalahan. Ia pernah mengalami kekalahan bersama bangsanya sebagai akibat ketidaktaatan yang terjadi pada bangsa yang ia pimpin. Namun bahkan dalam banyak perkara Yosua tak pernah berhenti untuk setia.</p>
<p>Bagaimana dengan kita? Seringkali ketika permasalahan datang kita justru mempertanyakan Tuhan. Dan bertanya mengapa Tuhan? Kita seringkali ketika berhadapan dengan masalah justru mundur dan ragu. Ada yang justru menjauh. Dan kita seperti menjadi orang yang tanpa pegangan. Tapi lihatlah Yosua.. perjalanan hidupnya bisa membawa dia untuk berkata, &#8220;tapi hari ini aku dan keluargaku memilih beribadah kepada Tuhan.&#8221;</p>
<p>Ketika seseorang memilih untuk beribadah kepada Tuhan, artinya ia bukan sekedar datang berdoa atau sekedar bernyanyi menyembah dan memuji dengan mulutnya saja. Memilih untuk beribadah tidak sedang berbicara tentang sebuah identitas keagamaan atau identitas keyakinan seseorang. Tapi memilih kepada siapa kamu beribadah berarti kamu memilih kepada siapa kamu siap menyerahkan hidupmu sepenuhnya. Pilihan ini berbicara tentang ketaatan, keyakinan bahwa Ia baik, penyerahan diri kepadaNya, berpegang pada kesetiaan Allah dan pengabdian. Yang dituntut adalah totalitas untuk menyerahkan diri tanpa meragukan Dia. Dan bagian ini tidak pernah mudah.</p>
<p>Manusia memiliki natur untuk terus bertanya. Dan ketika membentur masalah yang belum mampu dipecahkan, ia lebih sering mempersalahkan orang lain ketimbang bertanya pada diri sendiri atau duduk diam dan menelaah kembali masalah itu. <em>Sounds familiar? Well</em> itulah yang terjadi dalam hidup saya dan mungkin juga hidup banyak orang. Ketika masalah muncul dan tdak terpecahkan&#8230; yang tejadi adalah kecenderungan untuk menyalahkan orang lain. Yang terjadi adalah mempertanyakan.. Tuhan mengapa? Ketika problem datang bertubi-tubi.. seringkali pertanyaan itu hadir dan seringkali keinginan untuk membanding-bandingkan dengan orang lain pun muncul. Tapi pada akhirnya ketika kita sudah memlih pada siapa iman kita diletakkan, maka kita pun harus berani percaya bahwa rencanaNya adalah baik.</p>
<p>Akan butuh waktu yang panjang bagi kita untuk benar-benar bisa total berserah. Namun ada satu hal yang terus menerus berbicara padaku akhir-akhir ini. Kata-kata yang sama yang terus terngiang-ngiang namun sekaligus memberiku keyakinan untuk percaya bahwa Ia baik dan Ia tak pernah berpaling. Kata-kata Yosua, &#8220;Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN.&#8221;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://simplyvie.com/2009/10/22/pilihlah-kepada-siapa-kamu-beribadah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berjaga-Jagalah Satu Jam Dengan Aku</title>
		<link>http://simplyvie.com/2009/10/10/berjaga-jagalah-satu-jam-dengan-aku/</link>
		<comments>http://simplyvie.com/2009/10/10/berjaga-jagalah-satu-jam-dengan-aku/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Oct 2009 08:38:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ivie</dc:creator>
				<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[christian]]></category>
		<category><![CDATA[daily bread]]></category>
		<category><![CDATA[doa]]></category>
		<category><![CDATA[Getsemani]]></category>
		<category><![CDATA[Petrus]]></category>
		<category><![CDATA[Tuhan]]></category>
		<category><![CDATA[Yesus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://simplyvie.com/?p=756</guid>
		<description><![CDATA[Dan Ia berkata kepada Petrus: "Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam dengan Aku?Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah." (Mat 26 : 40 -41)]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam dengan Aku? Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah.&#8221; (Mat 26 : 40 -41).<span id="more-756"></span></p>
<p><a href="http://simplyvie.com/wp-content/uploads/2009/10/doa.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-757" style="margin: 10px;" title="doa" src="http://simplyvie.com/wp-content/uploads/2009/10/doa.jpg" alt="doa" width="208" height="160" /></a>Kalimat itu dilontarkan Yesus pada Petrus di taman Getsemani, saat Ia kembali dan mendapatkan murid-muridnya sedang tertidur.  Rasanya kalimat ini tampak begitu sederhana dan mudah. Permintaan Yesus pada murid-muridnya begitu sederhana yakni berjaga-jaga satu jam saja dengan Dia. Hanya satu jam.. dan mereka gagal.</p>
<p>Saat membaca kalimat ini mungkin memang kita berpikir, “ah mudah! toh hanya sejam”. Tapi dalam satu jam itu bisakah kita benar-benar bertahan untuk terjaga? ataukah kita kemudian membiarkan diri kita jatuh tertidur seperti murid-murid Yesus?</p>
<p>Pertanyaannya sekarang, bisakah kita? ataukah kita juga sering tertidur secara spiritual dan membiarkan permasalahan kehidupan menguasai kita? Ataukah kita terlalu sibuk dengan kehidupan kita, dan kita lupa untuk berjaga-jaga dengan Tuhan?</p>
<p>Apa sebenarnya arti ayat ini? Well.. pada kondisi saat itu, secara literal artinya memang tak bisakah para murid berjaga-jaga selama satu jam saja bersama Yesus yang saat itu berdoa di taman getsemani. Tapi ayat ini tak hanya berhenti pada kondisi di zaman Yesus hidup.</p>
<p>Firman Tuhan tak pernah berubah. Hari ini Firman yang sama kembali berbicara pada kita. Mengingatkan kita untuk berjagga-jaga bersama Tuhan. Ayat ini memang berbicara tentang kebersamaan dan hubungan manusia dengan Allah. Hubungan yang dekat dan senantiasa dibaharui dan bukan sekedar sebuah hubungan yang seadanya.  Satu jam mungkin singkat buat kita, tapi dalam satu jam jika kita berbicara dan membina hubungan dengan sesama, kita sudah bisa mengenal orang itu. Apalagi jika dilakukan setiap saat dan setiap hari.  Demikian juga hubungan manusia dengan Tuhan. Relasi yang dibina setiap hari akan membangun sebuah hubungan yang kokoh dan sulit untuk digoyahkan bahkan oleh gelombang hidup yang sangat besar sekalipun.</p>
<p>Ayat ini berbicara mengenai relasi manusia dengan Allah sekaligus juga meunjukkan kebergantungan manusia kepada Tuhan. Bagaimana tidak, Ayat berikutnya justru menunjukkan dengan jelas akibat dari ketidakmampuan untuk senantiasa berjaga-jaga bersama Dia.  Dikatakan, “ Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah.”</p>
<p>Ya.. tak salah lagi.. akibat dari ketidakmampuan manusia dalam berjaga-jaga, ia akan hanyut dan tenggelam dalam gelombang kehidupan dunia yang kadang membawa kehangatan dan kemewahan namun kadang membawa manusia dalam keterpurukan. Keinginan dan kehendak manusia yang lemah tidak mudah ditundukkan begitu saja. Gemerlap dunia seringkali mengikat dan menjerumuskan daging yang lemah itu. Roh memang penurut tapi daging lemah.</p>
<p>Dan itulah celah dimana dosa masuk. Keinginan yang dibuahkan. Keinginan yang dituruti dan entah apalagi. Kehidupan yang tdak bergantung pada Tuhan akan membawa manusia pada jalan kematian yang kekal walau mungkin perjalanan itu terasa nikmat dan menyenangkan dalam balutan kesenangan dan kelimpahan dunia.</p>
<p>Ego, ambisi, keinginan, harapan, kesenangan kadang menyeruak masuk dalam kehidupanku. Terasa manis namun seringkali berbuah pada kepahitan. Rutinitas yang terkadang membuatku menjauh dari Tuhan dan tak lagi berjaga-jaga justru membuatku jatuh tepuruk dalam keinginan yang berbuah dosa. Dan kata-kata itu benar adanya.. Roh memang penurut dan daging lemah. Di titik ketika kita tak lagi punya hubungan yang kokoh&#8230; saat itu kegamangan membawa kita pada pilihan yang salah, Kegelapan seakan menutup mata kita dan menipu kita dalam bayang-bayang semua kenikmatan dan kesenangan sesaat.</p>
<p>Terkadang hasrat dan keinginan yang hadir tak ingin ditolak karena ia menawarkan surga dunia. Keinginan itu begitu menggoda dan kita tak mampu menundukkan keinginan kita dibawah kehendak Tuhan. Saat ini terjadi.. keinginan itu pun berbuah dosa&#8230;</p>
<p>Lantas bagaimanakah kita bisa berjaga-jaga dengan Tuhan? Jawabannya ada pada Doa dan pengenalan akan Allah. Doa adalah nafas kehidupan orang percaya. Komunikasi nyata antara manusia dan penciptanya. Doa melahirkan kerinduan untuk mengenal Dia sekaligus kesiagaan bagi kita untuk tetap berada dalam naunganNya yang dapat menutup setiap celah yang terbuka. Doa jugalah yang membuka mata roh manusia tetap terjaga akan setiap godaan dan keinginan.  Doa bisa membuat kita tetap terjaga dan mengenali auman singa yang berusaha menerkam kita.</p>
<p>Kehidupan dunia menawarkan banyak hal. Kesenangan, kepedihan semua ada. Kita tinggal memilih. Sama seperti kehidupan bersama Tuhan. ia juga menawarkan dua pilihan. Berkat atau kutuk, kehidupan ataukah kematian. Jalan mana yang dipilih memang itu pilihan setiap orang.</p>
<p>Satu jam memang singkat. Namun jika satu jam demi satu jam dirangkai.. ia akan menghasilkan sebuah kehidupan bersama Allah yang berkesinambungan. Ketika kita bisa berjaga-jaga satu jam demi satu jam.. bersama Tuhan&#8230;maka kita tidak lagi menghalangi kasih dan penjagaan Tuhan mengalir atas kita.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://simplyvie.com/2009/10/10/berjaga-jagalah-satu-jam-dengan-aku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tanya Yang Mengusik</title>
		<link>http://simplyvie.com/2009/09/11/tanya-yang-mengusik/</link>
		<comments>http://simplyvie.com/2009/09/11/tanya-yang-mengusik/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Sep 2009 06:19:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ivie</dc:creator>
				<category><![CDATA[daily bread]]></category>
		<category><![CDATA[kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[kematian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://simplyvie.com/?p=596</guid>
		<description><![CDATA[Ada tanya yang terlontar,
kemanakah kau melangkah?
kehidupan kekal..ataukah..
kematian kekal?
tanya itu menggaung dalam sanubari..
tanya itu mengalir mengusik kesadaran yang lama tertidur.
Dimanakah aku?
Akan kemanakah aku?
Tanya itu tak mampu memberi jawaban..
ada keraguan..
ada sesal yang menyeruak..
ada luka yang kembali menganga
luka yang tak pernah terbalut sempurna..
akar yang tak pernah sempurna tercabut.
hari-hari yang terajut itu kembali dalam kenangan..
fragmen demi fragmen bermain liar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ada tanya yang terlontar,<br />
kemanakah kau melangkah?<br />
kehidupan kekal..ataukah..<br />
kematian kekal?<span id="more-596"></span></p>
<p>tanya itu menggaung dalam sanubari..<br />
tanya itu mengalir mengusik kesadaran yang lama tertidur.<br />
Dimanakah aku?<br />
Akan kemanakah aku?</p>
<p>Tanya itu tak mampu memberi jawaban..<br />
ada keraguan..<br />
ada sesal yang menyeruak..<br />
ada luka yang kembali menganga<br />
luka yang tak pernah terbalut sempurna..<br />
akar yang tak pernah sempurna tercabut.</p>
<p>hari-hari yang terajut itu kembali dalam kenangan..<br />
fragmen demi fragmen bermain liar di antara segudang tanya<br />
liarnya fantasi&#8230;.mengombang ambingkan asa yang ada.<br />
membuatku terpuruk dalam sesal dan rasa bersalah..</p>
<p>Belenggu itu begitu menyakitkan..<br />
membuatku berjalan terseok&#8230;<br />
kadang terjatuh.. lagi dan lagi.<br />
sakit itu tersimpan rapih di balik kokohnya tembok antara aku dan diriNya.</p>
<p>tapi&#8230; tanganNya tak pernah lelah menopangku..<br />
menggapaiku ketika aku tak lagi mampu ‘tuk bangkit..<br />
tapi jerat itu menarikku&#8230;<br />
menggoyahkanku..<br />
menyakitkan setiap langkah&#8230;<br />
lagi dan lagi&#8230;</p>
<p>adakah kesempatan untuk kembali?<br />
Jawaban yang datang begitu singkat..<br />
kesempatan itu masih ada&#8230;.</p>
<p>lirih&#8230;sebait doa kunaikkan..<br />
Tuhan angkat diriku..<br />
lepaskanku dari jerat ini..<br />
lepaskan belenggu ini..<br />
karena kutau Kaulah pembebasku&#8230;<br />
juruselamat atas kehidupanku&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://simplyvie.com/2009/09/11/tanya-yang-mengusik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi&#8230;.</title>
		<link>http://simplyvie.com/2009/06/22/pergilah-dan-jangan-berbuat-dosa-lagi/</link>
		<comments>http://simplyvie.com/2009/06/22/pergilah-dan-jangan-berbuat-dosa-lagi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Jun 2009 09:28:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ivie</dc:creator>
				<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[christian]]></category>
		<category><![CDATA[daily bread]]></category>
		<category><![CDATA[perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[Tuhan]]></category>
		<category><![CDATA[Yesus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://simplyvie.com/?p=468</guid>
		<description><![CDATA[Hari itu mungkin hari paling mengejutkan buat perempuan itu. Hari-hari yang biasanya ia lalui dalam kehangatan dan kenikmatan tiba-tiba terenggut ..ketika orang-orang itu.. datang menangkapnya..menyeretnya di sepanjang jalanan kota&#8230;
Tangisan dan teriakannya seperti menguap.. orang-orang itu tetap saja menyeretnya.. penuh tatapan kemarahan. kejijikan dan entah apalagi. perempuan itu seperti noda yang harus segera ditanggalkan. Tapi kemana [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hari itu mungkin hari paling mengejutkan buat perempuan itu. Hari-hari yang biasanya ia lalui dalam kehangatan dan kenikmatan tiba-tiba terenggut ..<span id="more-468"></span>ketika orang-orang itu.. datang menangkapnya..menyeretnya di sepanjang jalanan kota&#8230;</p>
<p>Tangisan dan teriakannya seperti menguap.. orang-orang itu tetap saja menyeretnya.. penuh tatapan kemarahan. kejijikan dan entah apalagi. perempuan itu seperti noda yang harus segera ditanggalkan. Tapi kemana mereka membawanya?</p>
<p><a href="http://simplyvie.com/wp-content/uploads/2009/06/perempuan-dosa.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-469" style="margin: 10px;" title="perempuan dosa" src="http://simplyvie.com/wp-content/uploads/2009/06/perempuan-dosa.jpg" alt="perempuan dosa" width="228" height="171" /></a>Takut&#8230;. sesal semua bercampur jadi satu&#8230;</p>
<p>Perempuan itu tak lagi mampu berkata-kata. lidahnya kelu &#8230; pikirannya terkoyak sama seperti kehidupannya yang tiba-tiba dikoyakkan dari taman impiannya. Kehidupan yang ia nikmati.. tapi juga ia sembunyikan.. yang hanya bisa ia tampilkan dari balik pekatnya malam. Kekelaman adalah kawan.. terang adalah musuh yang menghadang&#8230;</p>
<p>Dari pelukan hangat satu pria ke pria lainnya menjadi rutinitas penuh tawa&#8230; kegembiraan yang penuh kepalsuan.. ataukah kegembiraan itu yang dia inginkan. Ia pun tak tahu&#8230;. perempuan itu sudah tak lagi tau arti bahagia&#8230;</p>
<p>apa itu duka? apa itu bahagia.. apa itu cinta?</p>
<p>Dan kini.. di antara lalu lalang orang.. di pagi yang cerah.. ia ditangkap dan diseret &#8230;. menuju peghakimannya..</p>
<p>Ia tau apa artinya&#8230; tak ada kata lain selain rajam. Ia pun kini menantikan batas akhir kehidupannya.</p>
<p>****</p>
<p>Bawa Perempuan itu ke Bait Allah! Ia harus dirajam! Ia akan membuat kota ini dikutuk!</p>
<p>Teriakan &#8211; teriakan itu membahana.. saut menyaut mengiring perjalanan pagi itu&#8230;.</p>
<p>Pagi yang hening&#8230; tiba-tiba ramai &#8230;.</p>
<p>***<br />
Sayu.. kini ia tiba di Bait Allah.. di sana ada seorang guru yang tengah mengajar pagi itu. Suaranya lembut penuh wibawa. Tapi ketakutan dalam diri perempuan itu tak lagi bisa membuatnya berpikir. Yang terlintas hanyalah.. batas akhir kehidupan sudah dekat&#8230;. yang terlintas hanyalah sesal&#8230;</p>
<p>Begitu tiba di Bait Allah, orang yang menangkapnya itu menghampiri sang guru&#8230;</p>
<p>Katanya, &#8216;Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah. Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?&#8221;</p>
<p>Perempuan itu hanya bisa diam terpekur&#8230; tak ada kata apapun .. ia hanya bisa menatap sang guru. Guru itu pun hanya membungkuk dan menulis sesuatu di tanah dengan jarinya. Entah apa yang ditulisnya. Tak ada yang tau&#8230;</p>
<p>Tapi orang-orang yang membawa perempuan itu sepertinya tak sabar. Mereka terus mengulang pertanyaan yang sama. &#8220;Perempuan ini harus dirajam. Rabi apa pendapatmu?&#8221;</p>
<p>Akhirnya, guru itu pun bangkit dan berkata pada orang-orang itu, &#8220;&#8221;Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.&#8221; Dan ia kembali menulis di tanah lagi&#8230;</p>
<p>Perempuan yang jadi pesakitan itu hanya bisa terhenyak. Kata-kata sang guru menusuk jauh dalam kalbunya. Kekosongan dalam hidupnya seperti terkoyak&#8230;</p>
<p>dan orang-orang yang membawanya pun tiba-tiba menghilang satu demi satu&#8230;.</p>
<p>Tak lama, sang guru pun bangkit berdiri dan &#8230; ia bertanya pada perempuan itu, &#8220;&#8221;Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?&#8221;</p>
<p>Dan perempuan itu hanya bisa menjawab&#8230;,&#8221;"Tidak ada, Tuhan.&#8221;</p>
<p>Lalu sang guru pun berkata, &#8220;Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.&#8221;</p>
<p>****<br />
Pergilah dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang&#8230;.</p>
<p>Kata-kata itu seperti menghentakku&#8230; menarikku dengan keras&#8230; dan aku tiba-tiba terbangun dari tidur panjangku. Entah apa yang terjadi&#8230; yang kutahu .. pagi ini pagi yang sama seperti kemarin. Namun kutahu hari di depanku akan berbeda.. entah bagaimana.</p>
<p>Fragmen kehidupan yang tadi nyata kulihat telah lenyap.namun kutau itu bukan mimpi. Itulah fragmen hidupku. Dan kata-kata itu terus terngiang menghentak seluruh kalbuku&#8230;..menghentak kesadaranku yang telah lama mati. Mati dalam gelimang dosa&#8230; namun senyum ketulusan dan kesabaran sang guru seakan mengisi lembar baru kehidupanku. Membawaku masuk dalam sebuah babak lain kehidupan.</p>
<p>Babak baru kehidupan bersama sang Guru, dan memahami arti kasih yang sesungguhnya.</p>
<p>****</p>
<p><em>Fragmen Yoh 8:1-11</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://simplyvie.com/2009/06/22/pergilah-dan-jangan-berbuat-dosa-lagi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gereja, Kumpulan Hipokrit?</title>
		<link>http://simplyvie.com/2009/04/23/gereja-kumpulan-hipokrit/</link>
		<comments>http://simplyvie.com/2009/04/23/gereja-kumpulan-hipokrit/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 23 Apr 2009 00:35:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ivie</dc:creator>
				<category><![CDATA[christian]]></category>
		<category><![CDATA[daily bread]]></category>
		<category><![CDATA[anak hilang]]></category>
		<category><![CDATA[gereja]]></category>
		<category><![CDATA[hipokrit]]></category>
		<category><![CDATA[Tuhan Yesus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://simplyvie.com/?p=420</guid>
		<description><![CDATA[Kedatangan mamaku dari Ambon membawa banyak cerita. Cerita tentang gereja dan perilaku orang-orang di dalamnya. Menarik karena gereja seakan menjadi tempat dimana ada sekumpulan hipokrit yang sangat pintar menuding orang lain bagaimana harus bersikap namun ia sendiri hidup jauh dari kata-katanya. Ada banyak cerita yang rasanya tak etis untuk diungkapkan disini. Namun ada beberapa hal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kedatangan mamaku dari Ambon membawa banyak cerita. Cerita tentang gereja dan perilaku orang-orang di dalamnya. Menarik karena gereja seakan menjadi tempat dimana ada sekumpulan hipokrit yang sangat pintar menuding orang lain bagaimana harus bersikap namun ia sendiri hidup jauh dari kata-katanya. Ada banyak cerita yang rasanya tak etis untuk diungkapkan disini. Namun ada beberapa hal yang menarik perhatianku. Salah satunya perdebatan saat akan ke gereja bersama mamaku beberapa waktu lalu. Katanya , &#8220;Anak ini.. ke gereja kok pake pakaian kaya gitu? Orang di Ambon ga pake jeans dan kaos kayak kamu. Ga pantes.. ga sopan.. apa kata orang nantinya? &#8230;&#8221;.<span id="more-420"></span></p>
<p>Kalimat itu mengingatkanku akan masa-masa sekolah di Ambon, dan bagaimana masyarakat setempat melihat orang dari penampilan dan lain-lain. Orang mengenakan celana jeans ke gereja seperti menjadi aib yang layak digunjingkan atau layak dituding sebagai orang yang ga sopan dan nggak serius ke gereja.</p>
<p>Cerita lain juga bergulir tentang seseorang yang ditolak seorang pendeta dan juga gereja karena dia melakukan kesalahan dalam hidupnya. Hamil di luar nikah. Akhirnya sebuah pertanyaan yang muncul&#8230; untuk siapakah gereja seharusnya? Dan siapakah yang tengah berada di dalam gereja saat ini?</p>
<p>Memang tak semua seperti itu.. namun kita tak bisa menutup mata kalau dimana-mana kasus seperti ini memang ada.  Dan penolakan-penolakan seperti ini justru membuat manusia jadi menjauh dari Tuhan. Bagaimana tidak? Bukankah seharusnya gereja menjadi tempat orang-orang yang sakit? orang-orang berdosa yang membutuhkan pertolongan? Kalau seorang berdosa tak boleh datang menghadiri kebaktian di gereja, lantas siapa yang harus datang? Bukankah semua manusia itu berdosa? Kalau gereja hanya untuk orang-orang kudus, apakah ada yang bisa ke gereja? <em>Nope!</em> Semua manusia adalah pendosa yang dikuduskan oleh kasih karunia Allah. Dikuduskan bukan kudus oleh perbuatannya. Lantas layakkah kita menuding orang lain sebagai orang berdosa yang tidak layak buat memasuki rumah Tuhan?</p>
<p>Lah wong yang punya rumah aja menyambut hangat kepulangan anak yang hilang, kita-kita yang bukan pemilik rumah kok malah sibuk menolaknya?</p>
<p>Pernyataan tentang busana juga menjadi sebuah pertanyaan. Memang benar untuk menghadiri ibadah atau acara lainnya, kita harusnya tau dan menghargai acara tersebut dan tampil sopan dan setidaknya tidak salah kostum dan masih menjaga batas kesopanan. Namun jika &#8220;kategori tertentu&#8221; dianggap sebagai kategori tidak layak dengan penilaian itu akhirnya menjadi bahan gunjingan, pertanyaan yang muncul&#8230; apakah dengan berpakaian bak orang berpesta menjadikan hati seseorang itu &#8220;siap menghadap Tuhan&#8221;? Lantas jika penilaian ada pada hal-hal fisik .. apakah kita tidak sedang membudayakan kemunafikan? Akhirnya pertanyaan lain pun muncul, apakah gereja hanya berisi orang-orang hipokrit?</p>
<p>Kita, manusia membuat standar yang seakan-akan menjadi sebuah tolok ukur keimanan seseorang. Tak ada yang salah dengan membuat sebuah aturan dan standar tertentu. Namun ketika aturan dan standar itu menjadi tolok ukur keimanan, maka kita tak lebih dari manusia-manusia hipokrit yang berlindung di balik Firman Allah. Apakah itu kehendak Tuhan?</p>
<p>Wah.. di cerita anak hilang aja, si anak pulang ke rumah Bapa dalam keadaan compang camping dan diterima kok. Lah kok kita yang bukan pemilik rumah malah mengatur-ngatur harus berpakaian seperti apa.</p>
<p>Yang pasti Tuhan pun membenci orang-orang hipokrit. Ia sangat tidak menyukai manusia-manusia munafik yang hanya menampilkan sesuatu yang terlihat baik dan indah namun hati dan tujuannya berada di tempat yang berbeda jauh. Dalam Matius 15 : 8-9, jelas dikatakan sikap Allah akan kemunafikan tersebut. KataNya ;</p>
<blockquote><p>&#8220;Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia.&#8221;</p></blockquote>
<p>Lalu Yesus berkata lagi kepada orang banyak,</p>
<blockquote><p>&#8220;Dengar dan camkanlah: bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang.&#8221;</p></blockquote>
<p>Dan Yesus juga menjelaskan dengan sangat gamblang bahwa,</p>
<blockquote><p>&#8220;apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang. Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat. Itulah yang menajiskan orang. Tetapi makan dengan tangan yang tidak dibasuh tidak menajiskan orang.&#8221;</p></blockquote>
<p>Nah, bagaimana dengan kita sendiri? Apakah kita termasuk golongan orang-orang munafik yang hanya memuliakan Allah dengan bibir dan bukan dengan hati? Pertanyaan ini hanya bisa dijawab oleh setiap kita.. karena kitalah yang memilih bagaimana kita beribadah kepada Dia Sang Pemilik Kasih Karunia itu. Apakah gereja hanya menjadi kumpulan hipokrit ataukah kumpulan orang-orang yang mencari Tuhan? Itu semua lahir dari hati manusia bukan dari tata aturan lahiriah&#8230;</p>
<p>Satu hal yang pasti, si tuan rumah&#8230; Bapa pemilik rumah itu menyambut pulang anak yang hilang dengan kehangatan dan bukan ditolak karena compang camping dan penuh lumpur dosa&#8230;..</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://simplyvie.com/2009/04/23/gereja-kumpulan-hipokrit/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perjalanan Ke Emaus</title>
		<link>http://simplyvie.com/2009/04/21/perjalanan-ke-emaus/</link>
		<comments>http://simplyvie.com/2009/04/21/perjalanan-ke-emaus/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Apr 2009 03:24:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ivie</dc:creator>
				<category><![CDATA[christian]]></category>
		<category><![CDATA[daily bread]]></category>
		<category><![CDATA[emaus]]></category>
		<category><![CDATA[Yesus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://simplyvie.com/?p=404</guid>
		<description><![CDATA[Hari itu adalah hari yang mengejutkan buat mereka. Bagaimana tidak? Kepulangan perempuan-perempuan itu membawa kabar kalau jenazah guru mereka telah hilang. Dan apa katanya? Ada malaikat berkata Sang Guru bangkit? wuahh apa maksudnya? apakah perempuan-perempuan itu berkata benar? atau mereka melebih-lebihkan ? Tapi bagaimana mungkin jenazahnya hilang? Siapa yang tega mencuri tubuh Yesus?
Pembicaraan dan keheranan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-406" style="margin: 10px;" title="emaus" src="http://simplyvie.com/wp-content/uploads/2009/04/emaus.jpg" alt="emaus" width="270" height="222" />Hari itu adalah hari yang mengejutkan buat mereka. Bagaimana tidak? Kepulangan perempuan-perempuan itu membawa kabar kalau jenazah guru mereka telah hilang. Dan apa katanya? Ada malaikat berkata Sang Guru bangkit? wuahh apa maksudnya? apakah perempuan-perempuan itu berkata benar? atau mereka melebih-lebihkan ? Tapi bagaimana mungkin jenazahnya hilang? Siapa yang tega mencuri tubuh Yesus?</p>
<p>Pembicaraan dan keheranan akan kejadian yang terjadi beberapa hari lalu menjadi topik hangat keduanya saat berjalan menuju Emaus. Kedua murid Sang Guru yang baru saja disalibkan itu bak dua orang yang kehilangan pegangan. Mereka bingung, bagaimana mungkin Sang guru yang baru saja dielu-elukan sebagai Raja, tau-tau disalibkan sebagai penjahat paling terkutuk di salib itu. Mana ada orang Roma yang disalib? Salib adalah penghinaan. Bagaimana mungkin Guru yang mengajar kebaikan dan menyembuhkan banyak orang ditinggikan di salib? Belum lagi keheranan itu hilang.. datang pula berita tak ada lagi mayat Sang Guru di kuburan. Rasanya semua jadi kacau.<span id="more-404"></span></p>
<p>Tau-tau dalam perjalanan itu, mereka mendapatkan seorang teman seperjalanan. Anehnya.. kok si teman ini nggak tau tentang Sang Guru dan Nabi yang disalib itu?  Sampai-sampai Kleopas pun bertanya, &#8220;Adakah Engkau satu-satunya orang asing di Yerusalem, yang tidak tahu apa yang terjadi di situ pada hari-hari belakangan ini?&#8221;.  Ketika mendapat jawaban kalau si teman baru ini tak tau apa-apa, akhirnya mengalirlah cerita itu dari mulut mereka,</p>
<blockquote><p>&#8220;Apa yang terjadi dengan Yesus orang Nazaret. Dia adalah seorang nabi, yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan di hadapan Allah dan di depan seluruh bangsa kami.Tetapi imam-imam kepala dan pemimpin-pemimpin kami telah menyerahkan Dia untuk dihukum mati dan mereka telah menyalibkan-Nya.</p>
<p>Padahal kami dahulu mengharapkan, bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel. Tetapi sementara itu telah lewat tiga hari, sejak semuanya itu terjadi.</p>
<p>Tetapi beberapa perempuan dari kalangan kami telah mengejutkan kami: Pagi-pagi buta mereka telah pergi ke kubur,dan tidak menemukan mayat-Nya. Lalu mereka datang dengan berita, bahwa telah kelihatan kepada mereka malaikat-malaikat, yang mengatakan, bahwa Ia hidup.Dan beberapa teman kami telah pergi ke kubur itu dan mendapati, bahwa memang benar yang dikatakan perempuan-perempuan itu, tetapi Dia tidak mereka lihat.&#8221;</p></blockquote>
<p>Tak dinyana, bukan  simpati yang didapat, rekan seperjalanan itu malah menegur mereka, katanya;</p>
<blockquote><p>&#8220;Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi! Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?&#8221;</p></blockquote>
<p><img class="alignright size-full wp-image-414" style="margin: 10px;" title="emmaus3" src="http://simplyvie.com/wp-content/uploads/2009/04/emmaus3.jpg" alt="emmaus3" width="250" height="277" />Dan si teman ini pun menjelaskan panjang lebar tentang apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi. Yang lebih mengejutkan, di saat mereka mengajak dia untuk tinggal bersama mereka malam itu, si teman ini justru memecah-mecahkan roti dan mengucap berkat kemudian memberi roti itu pada mereka.</p>
<p>wow&#8230; bukankah yang seharusnya membagi roti adalah tuan rumah dan bukan tamu? Kok bisa si tamu ini yang memecah roti dan membagikannya pada mereka? Saat itu barulah mereka menyadari sang tamu adalah Dia si pemilik kehidupan, tuan dan Raja yang memiliki hidup manusia, Sang Guru dan Nabi yang disalibkan dan bangkit!. yup tak salah.. Dia bangkit.. dan IA Hidup!. Saat itu juga Yesus menghilang setelah menampakkan diri pada kedua muridnya itu. Namun, kedua murid ini tak menyia-nyiakan waktu lagi. Malam itu juga mereka langsung kembali ke Yerusalem untuk mengabarkan kabar sukacita tersebut. Tak dipedulikan lagi  betapa jauh dan gersangnya perjalanan menuju Yerusalem, karena kegersangan dan lamanya perjalanan tak lagi dipenuhi oleh kekecewaan.. namun penuh dengan pengharapan.</p>
<p>Kisah ini tak sekedar bercerita tentang Yesus menampakan diri pada murid-muridnya, namun menceritakan perjalanan kehidupan orang percaya. Kehidupan dengan pengharapan yang salah pada Allah, yang membawa manusia pada kegamangan, kekhawatiran, kekecewaan dan pelarian. Dalam kisah ini kedua murid itu mengharapkan Yesus sebagai Mesias yang membebaskan mereka dari penjajahan Roma. Raja yang akan datang untuk menghancurkan kekuasaan Roma. Tapi apa yang terjadi saat mereka harus mendapati Mesias yang diharapkan disalibkan? Takut, Kecewa&#8230; kehilangan asa.. membuat mereka kehilangan pengharapan dan pegangan. Akhirnya mereka pun kocar kacir melarikan diri.  Dari Yerusalem dimana mereka bersama-sama dengan Yesus, mereka berjalan ke Emaus&#8230; tapi sekali lagi Allah menunjukan kasih setianya. Ia tak pernah membiarkan manusia berjalan sendiri.</p>
<p>Allah tetap menghampiri dan menemani mereka, meskipun kehilangan pengharapan dan sejuta kegalauan membutakan mereka untuk melihat kehadiran Yesus sebagai teman perjalanan. Ia tak marah, Ia tetap mau mendengarkan keluh kesah dan kekecewaan sang murid, dan Ia mau menegur mereka.. dan membagikan berkatNya untuk mereka.  Bahwa Ia adalah tuan rumah bagi setiap anak-anakNya.</p>
<p>Dan lihatlah respon kedua murid itu&#8230; mereka menyadarinya dan kembali ke Yerusalem malam itu juga untuk menyatakan kabar sukacita yang dipenuhi pengharapan baru, dan persepsi yang benar tentang Mesias.</p>
<p>Bagaimana dengan kita? ketika kita menemukan bahwa Allah ternyata tidak seperti yang kita harapkan &#8230; ketika kita kemudian kecewa dan berpaling, adakah kita merespon dan membuka diri kita untuk melihat maksud Allah yang sesungguhnya? Adakah kita segera berpaling, dan tanpa lelah berjalan kembali ke Yerusalem? Ataukah kita hanya duduk diam di Emaus dengan berkeluh kesah tanpa pengharapan?</p>
<p>Kisah Yesus menampakkan diri setelah kebangkitanNya bukan hanya untuk membuktikan Ia Hidup tapi juga membuktikan Ia ada dan Ia senantiasa menyertai kita bahkan di saat paling gelap sekalipun. Meski ada badai Ia ada dan siap mendengarkan dan menarik kita. Masalahnya&#8230; bagaimana respon kita? Maukah kita menyambut uluran tanganNya?</p>
<p>Ia peduli dan sama seperti janjiNya&#8230; Aku Akan Menyertai Engkau Sampai Akhir Zaman.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://simplyvie.com/2009/04/21/perjalanan-ke-emaus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Petrus dan Penyangkalannya</title>
		<link>http://simplyvie.com/2009/04/11/petrus-dan-penyangkalannya/</link>
		<comments>http://simplyvie.com/2009/04/11/petrus-dan-penyangkalannya/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 11 Apr 2009 09:33:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ivie</dc:creator>
				<category><![CDATA[daily bread]]></category>
		<category><![CDATA[petrus. paskah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://simplyvie.com/?p=380</guid>
		<description><![CDATA[Dalam perjalanan pulang dari gereja, ada sepenggal pembicaraan yang menarik perhatianku. Pembicaraan yang kemudian dikaitkan dengan seorang tokoh di Alkitab ;
ibu : Iya aku baru tau dia ternyata marganya Petrus
cowo : oya? wah kukira itu namanya. Petrus orang yang nyangkal Tuhan Yesus. hahaha&#8230; 
Tawa yang seakan melecehkan pribadi Petrus yang memang dikenal pernah menyangkali Yesus [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam perjalanan pulang dari gereja, ada sepenggal pembicaraan yang menarik perhatianku. Pembicaraan yang kemudian dikaitkan dengan seorang tokoh di Alkitab ;</p>
<p>ibu : Iya aku baru tau dia ternyata marganya Petrus<br />
cowo : oya? wah kukira itu namanya. Petrus orang yang nyangkal Tuhan Yesus. hahaha&#8230; <span id="more-380"></span></p>
<p>Tawa yang seakan melecehkan pribadi Petrus yang memang dikenal pernah menyangkali Yesus 3 kali. Semua orang pasti tahu kisah itu. Kisah yang menjadi pembicaraan dan jadi nasehat orang tua pada anak-anaknya. &#8220;Jangan seperti Petrus yang menyangkali Tuhannya.&#8221;</p>
<p>Tapi kita lupa.. apa yang dilakukan Petrus adalah sesuatu yang umum terjadi pada manusia. Kisah Petrus adalah perlambang kisah manusia yang harus memilih untuk tetap berada pada jalan yang benar, tetap membela yang benar atau berpaling dan berpura-pura tak tahu. Peristiwa penyangkalan bukan harus terjadi ketika disiksa oleh orang yang menyuruh kita menyangkal Kristus. Juga tidak harus pada saat kita disuruh meninggalkan keyakinan kita untuk sesuatu yang lain. Peristiwa yang dialami Petrus menunjukan salah satu sifat manusia yang takut untuk menyatakan keyakinannya jika apa yang ia percaya dan ia pahami berbeda dengan kalangan mayoritas. Takut untuk berbicara.. takut untuk menjadi berbeda sendiri.. takut tidak diakui oleh masyarakat dan kekhawatiran akan apa yang terjadi jika ia berdiri membela sesuatu yang ia percaya&#8230;</p>
<p>Ketakutan yang mungkin &#8220;wajar&#8221; namun juga &#8220;tak wajar&#8221;. Ketakutan dan kehawatiran yang bisa saja memimpin pada penyesalan seumur hidup atau kebahagiaan dunia karena diterima kelompok mayoritas.</p>
<p>Dalam hidupku&#8230; aku selalu bertemu dengan orang-orang yang selalu berkata &#8220;Jangan seperti Petrus. Dia itu orang yang menyangkal Tuhan.&#8221; Memang benar.. tapi seandainya kita berada pada posisi Petrus.. ketika kita harus memilih kebenaran yang kita yakini namun kita diperhadapkan bahwa pilihan itu akan membawa kita pada pengucilan, penjara, kemiskian atau bahkan kehilangan keluarga. Bisakah kita tetap memilih keyakinan kita? Ataukah kita akan bersikap tak peduli? Atau mungkin memilih berpaling dan menyangkali kebenaran?</p>
<p>Mungkin.. kita sering melihat pada kegagalan Petrus. Lupakah kita,&#8230; Petrus adalah pribadi yang pernah gagal dan menyangkal Tuhannya namun kemudian bangkit dan menerima kasih karunia pengampunan? Ia kemudian menjadi seorang rasul yang tak lagi takut untuk berkata Yesus adalah Tuhan. bagaimana dengan kita? siapkah kita diperhadapkan dengan pilihan? siapkah kita berdiri dalam keyakinan dan pilihan kita yang menentang masyarakat umum? Apakah ketika kita menuding &#8220;Jangan seperti Petrus&#8221; &#8230; hidup kita sudah lebih baik? sudahkah kita belajar dari Petrus ? Belajar dari kehidupan seorang rasul yang bangkit dan menjadi terang.</p>
<p>Petrus menyesali perbuatannya dan berbalik menjadi pribadi yang menyatakan kemuliaan Tuhan. Tapi bagaimana dengan kita? seringkali kita malah memilih jadi orang yang &#8220;ignorance&#8221; demi menyelamatkan diri dari tudingan masyarakat tanpa pernah menyesal. Seringkali dengan berbalut kepentingan Allah kita justru mencari keuntungan pribadi.  Dan seringkali kasus-kasus untuk memilih bukan hanya berbicara akan keyakinan pada Tuhan namun juga pilihan untuk berdiri pada prinsip kebenaran ketika kita bekerja, bersekolah dan realitas sehari-hari lainnya. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://simplyvie.com/2009/04/11/petrus-dan-penyangkalannya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Walking by faith</title>
		<link>http://simplyvie.com/2009/01/20/walking-by-faith/</link>
		<comments>http://simplyvie.com/2009/01/20/walking-by-faith/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Jan 2009 04:02:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ivie</dc:creator>
				<category><![CDATA[christian]]></category>
		<category><![CDATA[christmas]]></category>
		<category><![CDATA[daily bread]]></category>
		<category><![CDATA[diary]]></category>
		<category><![CDATA[iman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://simplyvie.com/?p=336</guid>
		<description><![CDATA[Hmm nggak banyak yang bisa disampaikan sekarang karena saya pun masih belajar untuk tetap tekun dan setia berjalan di dalam iman. Ada banyak kejadian yang mengajarkan saya untuk tetap teguh.. ada teguran dan sapaan yang membawaku pada keyakinan untuk tetap bersandar kepada Dia. Namun di balik itu ada sisi lain yang terus mengguncangku untuk goyah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="attachment wp-att-337" href="http://simplyvie.com/2009/01/20/walking-by-faith/footsteps-in-the-sand/"><img class="alignleft size-medium wp-image-337" style="margin: 10px;" title="footsteps-in-the-sand" src="http://simplyvie.com/wp-content/uploads/2009/01/footsteps-in-the-sand-300x197.jpg" alt="footsteps-in-the-sand" width="176" height="115" /></a>Hmm nggak banyak yang bisa disampaikan sekarang karena saya pun masih belajar untuk tetap tekun dan setia berjalan di dalam iman. Ada banyak kejadian yang mengajarkan saya untuk tetap teguh.. ada teguran dan sapaan yang membawaku pada keyakinan untuk tetap bersandar kepada Dia. Namun di balik itu ada sisi lain yang terus mengguncangku untuk goyah dan terbawa gelombang. Ada gelombang kekawatiran, kemarahan dan kekecewaan. Kadang ada kesombongan yang menyeruak hadir membawa saya terhempas dalam kecewa &#8230;</p>
<p>Namun inilah perjalanan .. seperti seorang pengembara yang terus maju, saya tak lagi bisa berhenti dan berbalik. Saya harus terus berjalan meniti visi dan harapan yang sudah diberikan. Berjalan terus dan tetap di jalanNya. Ternyata memang semua tak semudah yang dikatakan..<span id="more-336"></span></p>
<p>Tapi akhirnya saya berhenti di titik ini kembali pada sebuah teguran yang hadir di awal tahun&#8230; berdiamlah di rumah Tuhan. Sederhana namun untuk benar-benar berhenti dan berdiam buatuh sebuah kekuatan dari Dia untuk dilakukan. Inilah aku berdiam dalam perjalanan pengembaraanku&#8230; menantikan Allah. dan kemudian berjalan di dalam iman bersamaNya.</p>
<p>Berjalan di dalam iman bukan berarti semua masalah telah terpecahkan tapi percaya bahwa semuanya akan disediakan jalan keluarNya sesuai kehendakNya.</p>
<p>Berjalan di dalam iman bukan apa yang kita pinta dan harapkan akan terpenuhi dan diberikan. Tapi percaya bahwa setiap kebutuhan dan keperluan akan dicukupkan oleh Dia sang pemilik kehidupan.</p>
<p>Berjalan di dalam iman memang tak membuat kita bisa melihat problema dan berkat yang akan ada di depan kita. Namun dengan iman kita percaya bahwa tangan Tuhan tak pernah melepaskan kita ketika kita berhadapan dengan badai dan percaya bahwa Ia menyediakan berkat di jalan di depan kita..</p>
<p>Namun untuk tiba dan menemukan semua itu kita harus percaya&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://simplyvie.com/2009/01/20/walking-by-faith/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Arti Sebuah Kesetiaan</title>
		<link>http://simplyvie.com/2009/01/15/arti-sebuah-kesetiaan/</link>
		<comments>http://simplyvie.com/2009/01/15/arti-sebuah-kesetiaan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Jan 2009 04:11:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ivie</dc:creator>
				<category><![CDATA[daily bread]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://simplyvie.com/?p=334</guid>
		<description><![CDATA[Setiap melihat sebuah pernikahan saya sering bertanya bisakah janji rekan-rekan yang menikah itu dipertahankan? Sehidup semati bukan hanya dalam sukacita namun juga dalam kedukaan. Bisakah mereka menjalaninya sampai batas akhir dimana maut memisahkan mereka? Apalagi di tengah dunia yang gonjang ganjing dipenuhi permasalahan. Apalagi cerai seperti menjadi makanan sehari-hari. Berita perceraian di tv itu sudah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setiap melihat sebuah pernikahan saya sering bertanya bisakah janji rekan-rekan yang menikah itu dipertahankan? Sehidup semati bukan hanya dalam sukacita namun juga dalam kedukaan. Bisakah mereka menjalaninya sampai batas akhir dimana maut memisahkan mereka? Apalagi di tengah dunia yang gonjang ganjing dipenuhi permasalahan. Apalagi cerai seperti menjadi makanan sehari-hari. Berita perceraian di tv itu sudah seperti minum obat diberitakan 3 kali sehari dari kalangan artis.</p>
<p>Namun saat bertemu tante Wenni di RS Advent saat menjenguk Pak Budi saya jadi belajar arti  kesetiaan. Kesetiaan bukan sekedar di saat suka namun disaat apapun seindah dan sesulit apapun itu. Melihat tante yang tetap setia dan penuh kasih merawat Pak Budi saya jadi terharu.  Sesuatu yg ga bisa saya ceritakan dengan kata-kata. Namun saya beljar untuk tulus mengasihi&#8230;</p>
<p>Yang terlintas saat itu.. mungkin inilah aku dihadapan Allah penuh lumpur dosa . penuh kejijikan dan ketidaklayakan namun Ia tak pernah meninggalkanku. Ia senantiasa ada disisiku dan memberiku kekuatan. Ia yang tak pernah lalai bahkan menyatakan.&#8221;Tidak usah takut karena kamu lebih berharga dari banyak burung pipit&#8221;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://simplyvie.com/2009/01/15/arti-sebuah-kesetiaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
