<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>SimplyVie &#187; diary</title>
	<atom:link href="http://simplyvie.com/category/diary/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://simplyvie.com</link>
	<description>-- the pilgrim journey --</description>
	<lastBuildDate>Mon, 01 Mar 2010 17:47:11 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Melepaskan&#8230;</title>
		<link>http://simplyvie.com/2010/03/02/melepaskan/</link>
		<comments>http://simplyvie.com/2010/03/02/melepaskan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Mar 2010 17:42:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ivie</dc:creator>
				<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[diary]]></category>
		<category><![CDATA[dosa]]></category>
		<category><![CDATA[melepaskan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://simplyvie.com/?p=890</guid>
		<description><![CDATA[Pernahkah melepaskan sesuatu dalam hidupmu? entah itu kekasihmu, barang yang kau sukai, kesempatan atau hal lainnya yang begitu disukai dan dipegang erat? Mudahkah bagimu untuk melepas hal tersebut?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pernahkah melepaskan sesuatu dalam hidupmu? entah itu kekasihmu, barang yang kau sukai, kesempatan atau hal lainnya yang begitu disukai dan dipegang erat? Mudahkah bagimu untuk melepas hal tersebut?<span id="more-890"></span></p>
<p>Bagaimana dengan kebiasaan atau mungkin dosa? Sulitkah melepasnya atau semua bisa dilakukan semudah membalikkan telapak tangan?</p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-891" style="margin: 10px;" title="hands" src="http://simplyvie.com/wp-content/uploads/2010/03/hands.jpg" alt="" width="240" height="160" />Dalam perjalanan kehidupan manusia, tentu ada saat dimana kita harus melepaskan sesuatu yang begitu berarti dalam hidup kita. Sesuatu yang mungkin bersama dengan kita selama bertahun-tahun. Tapi seringkali juga, masa untuk melepaskan itu menjadi masa dimana manusia bergumul dengan dirinya sendiri untuk mencari sejuta alasan agar tidak perlu melepaskan sesuatu itu.</p>
<p>Tidak mudah memang&#8230; tapi bukan berarti tak mungkin. Mengapa? Seringkali ketika manusia harus melepaskan sesuatu, maka sesuatu itu bukan saja berarti baginya namun sesuatu itu bisa jadi merupakan sandaran dan kekuatan baginya untuk bertahan. Sesuatu itu tak selalu berarti baik. Bahkan ada hal yang bisa merusak diri sendiri yang dipertahankan terus menerus karena baginya itulah hal yang dia tau mampu membuatnya bertahan, Bahkan dosa pun termasuk di dalamnya.</p>
<p>Kok bisa? Aneh bukan?</p>
<p>Pernah menonton serial korea shining inheritance? Tokoh orang ketiga dalam serial itu di akhir cerita mengatakan seandainya dia melepaskan pria yang jadi tokoh utamanya sejak awal mungkin semua kisah panjang dalam film itu tak ada. Namun baginya, hanya pria itulah yang ia tahu yang mampu membuatnya bertahan dan menghadapi hidup. Akibatnya, kesalahan demi kesalahan dilakukan karena ia tak mampu untuk melepaskan.</p>
<p>Mungkin para penggemar serial drama tersebut akan mencaci dan mensyukuri apa yang terjadi di akhir film melihat si tokoh ketiga tidak mendapatkan pria idamannya. Namun pernahkah tersirat bahwa apa yang dialami si tokoh seringkali juga dialami manusia pada umumnya? Mungkin dalam kasus yang berbeda dengan pilihan yang berbeda&#8230;</p>
<p>Aneh? Bodoh? Bagaimana dengan kita? Adakah sesuatu yang masih tersisa yang masih digenggam erat dalam hidup yang membuat kita tak ingin melepasnya? Sesuatu yang kita jaga seperti barang berharga dalam hidup yang menggerogoti kehidupan itu sendiri. Dan membawa manusia masuk dalam satu demi satu keputusan yang salah atau malah mengenakan topeng untuk terus menjalani hidup. Dan semua itu dilakukan karena ia berpikir hanya dengan memegang sesuatu itulah ia bisa kuat dan bertahan. karena sesuatu itu membuat dia nyaman &#8230;.</p>
<p>Sesuatu yang sulit dilepaskan itu bisa jadi sebuah kebiasaan yang dipertahankan selama bertahun-tahun&#8230; yang ternyata bukan hanya mengikatnya namun juga menjerumuskannya dari kesalahan yang satu ke kesalahan yang lain.</p>
<p>Pada akhirnya hanya ada dua pilihan yang tersisa. Membiarkan sesuatu itu tetap ada dalam genggaman ataukah melepaskannya dan melanjutkan hidup. Pertanyaan berikutnya mungkinkah dilepaskan? Galau dan tanya merasuk dan membawa manusia pada pergumulan yang tanpa henti dengan berbagai dalih termasuk mungkinkah dirinya menghadapi kehidupan tanpa sesuatu itu.</p>
<p>Jalan kehidupan memang tak pernah bisa memberi jawaban apa yang terjadi berikut dalam hidup. Namun ia memberi petunjuk bahwa apa yang terjadi berikutnya dalam kehidupan adalah akibat dari keputusan yang diambil. Jika keputusan itu adalah untuk tetap bertahan dan berada pada lingkaran yang sama, maka keterikatan itu akan terus menjerat &#8230; namun jika piliha itu untuk melepaskan maka akan ada sebuah perjalanan yang penuh kebebasan dalam menjalani kehidupan.</p>
<p>Melepaskan seringkali juga merupakan saat dimana manusia diajak untuk meninggalkan zona nyaman dalam hidupnya untuk memasuki sebuah babak baru dalam kehidupan yang akan membawa manusia pada perjalanan yang lebih baik.</p>
<p>Tulisan ini mungkin hanya sebuah coretan yang tidak teratur.. bahkan mungkin ada yang berpikir, tak ada yang harus kulepaskan. Aku sudah bersama dengan Tuhan hidup denganNya. Sungguhkah? Tanyakanlah pada dirimu dan jawablah dengan jujur apakah engkau masih ada dalam zona nyaman yang sama &#8230; hanya kini berbalut sebuah topeng baru?</p>
<p>Tak ada salahnya untuk bertanya dan mencari jawaban dari kedalaman dirimu yang terdalam&#8230;..</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://simplyvie.com/2010/03/02/melepaskan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Di Antara Waktu Yang Terentang</title>
		<link>http://simplyvie.com/2009/06/18/di-antara-waktu-yang-terentang/</link>
		<comments>http://simplyvie.com/2009/06/18/di-antara-waktu-yang-terentang/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Jun 2009 01:22:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ivie</dc:creator>
				<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[diary]]></category>
		<category><![CDATA[waktu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://simplyvie.com/?p=461</guid>
		<description><![CDATA[Pertemuan tak terduga itu terjadi lagi. Dan lagi-lagi dia hanya bisa terpekur menatap tanpa arah. Pertanyaan demi pertanyaan mengalir. Namun semua hanya berakhir dengan kata mengapa?
Diam.. hanya itu yang bisa dia lakukan, karena dia pun tak pernah tahu ada apa di balik kata mengapa. Semua terjadi begitu saja. Mengalir liar di antara riak kehidupannya. Dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pertemuan tak terduga itu terjadi lagi. Dan lagi-lagi dia hanya bisa terpekur menatap tanpa arah. Pertanyaan demi pertanyaan mengalir. Namun semua hanya berakhir dengan kata mengapa?<span id="more-461"></span></p>
<p><a href="http://simplyvie.com/wp-content/uploads/2009/06/waktu.png"><img class="alignleft size-full wp-image-510" style="margin: 10px;" title="waktu" src="http://simplyvie.com/wp-content/uploads/2009/06/waktu.png" alt="waktu" width="240" height="172" /></a>Diam.. hanya itu yang bisa dia lakukan, karena dia pun tak pernah tahu ada apa di balik kata mengapa. Semua terjadi begitu saja. Mengalir liar di antara riak kehidupannya. Dan kini dia harus menjawab mengapa?</p>
<p>Namun di antara waktu yang terentang ia menemukan kembali dirinya, menemukan kembali kekuatan untuk menghadapi semua yang pernah ada. Walau waktu yang merentang begitu lebar, namun kikisan cerita itu tak pernah pudar. Tapi satu hal yang ia tahu&#8230; di antara waktu itu.. ia telah berubah. sama dengan orang yang ada di hadapannya. Kehidupan telah menempanya untuk melangkah maju, di antara badai kehidupan. Maju walau harus menginjak onak dan duri. Kehidupan memang mengajarkan banyak hal.. namun yang ia tahu, di antara waktu yang terentang itu, ia diajar untuk mensyukuri setiap langkahnya. Mensyukuri setiap berkat dan anugerah yang mengalir untuk terus bertumbuh menjadi pribadi yang diinginkan sang Khalik.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://simplyvie.com/2009/06/18/di-antara-waktu-yang-terentang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>di titik nadir kehidupan</title>
		<link>http://simplyvie.com/2009/05/08/di-titik-nadir-kehidupan/</link>
		<comments>http://simplyvie.com/2009/05/08/di-titik-nadir-kehidupan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 07 May 2009 17:36:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ivie</dc:creator>
				<category><![CDATA[diary]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://simplyvie.com/?p=431</guid>
		<description><![CDATA[lelah&#8230;
gusar&#8230;
marah&#8230;
semua beradu ..
berpadu menghentak dalam diri..
membawaku ke titik nadir kehidupan&#8230;

kecewa..
sendiri&#8230;.
dalam hening tanpa batas..
mengais di antara mimpi dan harapan yang dulu pernah ada&#8230;
&#8230;&#8230;.
hening..
semua hilang..
yang tinggal hanya kebisuan tanpa batas&#8230;
dalam diam tak berujung&#8230;
&#8230;
ingin kulepas semua..
gar bermuara dalam lautan kebencian..
tenggelam dalam samudra keputus asaan
&#8230;
namun nun di sudut terdalam..
ia berbisik lirih&#8230;
&#8230;
Jangan berhenti&#8230;
karena Aku tak kan membiarkan semua ini melewati [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>lelah&#8230;<br />
gusar&#8230;<br />
marah&#8230;<br />
semua beradu ..<br />
berpadu menghentak dalam diri..<br />
membawaku ke titik nadir kehidupan&#8230;<br />
<span id="more-431"></span><br />
kecewa..<br />
sendiri&#8230;.<br />
dalam hening tanpa batas..<br />
mengais di antara mimpi dan harapan yang dulu pernah ada&#8230;</p>
<p>&#8230;&#8230;.</p>
<p>hening..<br />
semua hilang..<br />
yang tinggal hanya kebisuan tanpa batas&#8230;<br />
dalam diam tak berujung&#8230;</p>
<p>&#8230;</p>
<p>ingin kulepas semua..<br />
gar bermuara dalam lautan kebencian..<br />
tenggelam dalam samudra keputus asaan<br />
&#8230;</p>
<p>namun nun di sudut terdalam..<br />
ia berbisik lirih&#8230;<br />
&#8230;</p>
<p>Jangan berhenti&#8230;<br />
karena Aku tak kan membiarkan semua ini melewati batas kekuatanmu.<br />
Aku ada disini&#8230; setia..<br />
meskipun kamu tak setia&#8230;<br />
Aku disini&#8230;<br />
untukmu..<br />
merentang tanganku.<br />
menantikanmu datang dalam pelukanku..<br />
berjalan bersamaKu meniti kehidupan<br />
dalam harapan yang takkan berakhir..<br />
dalam senandung pujian,<br />
 yang mengangkatmu dari titik nadir kehidupan..</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://simplyvie.com/2009/05/08/di-titik-nadir-kehidupan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>pria dan gadis kecilnya</title>
		<link>http://simplyvie.com/2009/05/06/pria-dan-gadis-kecilnya/</link>
		<comments>http://simplyvie.com/2009/05/06/pria-dan-gadis-kecilnya/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 May 2009 16:42:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ivie</dc:creator>
				<category><![CDATA[diary]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[pasar]]></category>
		<category><![CDATA[pria]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://simplyvie.com/?p=426</guid>
		<description><![CDATA[di sana.. di sudut jalan&#8230;
ia duduk sambil memeluk gadis kecil itu.

di sana di sudut jalan yang sama,
ia kembali kutemukan&#8230;
duduk di bawah terik sang surya..
menggendong gadis kecil itu.
di tangannya ada lembaran-lembaran uang&#8230;
perlahan .. ia menyibak satu demi satu lembaran itu&#8230;
sangat perlahan..
seakan takut ada yang terlewatkan..
lembaran-lembaran itu dihitungnya dengan seksama..
Sesekali ia menyeka peluh di dahinya..
dan di dahi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>di sana.. di sudut jalan&#8230;<br />
ia duduk sambil memeluk gadis kecil itu.<br />
<span id="more-426"></span><br />
di sana di sudut jalan yang sama,<br />
ia kembali kutemukan&#8230;<br />
duduk di bawah terik sang surya..<br />
menggendong gadis kecil itu.<br />
di tangannya ada lembaran-lembaran uang&#8230;<br />
perlahan .. ia menyibak satu demi satu lembaran itu&#8230;<br />
sangat perlahan..<br />
seakan takut ada yang terlewatkan..<br />
lembaran-lembaran itu dihitungnya dengan seksama..<br />
Sesekali ia menyeka peluh di dahinya..<br />
dan di dahi gadis kecilnya&#8230;<br />
Gadis kecil yang begitu nyaman dalam pelukannya.</p>
<p>Sesaat kemudian&#8230;<br />
laki-laki itu menaiki angkot di hadapannya..<br />
&#8230;<br />
hati-hati ia meletakkan kantong yang ia bawa..<br />
seakan ia tak ingin gadis kecilnya terganggu..<br />
dan memang gadis itu begitu nyaman&#8230;<br />
sepanjang perjalanan ia terus tertidur dalam peluk hangat sang ayah..<br />
tak ada keraguan&#8230;</p>
<p>laki-laki itu lagi-lagi menghitung lembaran itu dengan seksama.<br />
memisahkan beberapa lembar ribuan..<br />
dan menyimpan sisanya..<br />
matanya nanar namun penuh kebanggaan..<br />
tak ada lagi kesan lelah dan cemas yang tadi sempat terlihat&#8230;</p>
<p>gadis itu kembali dipeluknya erat..<br />
sebelum ia turun dari angkot<br />
membayar..<br />
dan menghilang di ujung jalan yang lain&#8230;<br />
bersama gadis kecilnya..</p>
<p>dan besok&#8230; ia mungkin masih akan ada disana..<br />
di sudut jalanan pasar..<br />
menghitung lembar demi lembar yang ia dapat setelah lelah berjualan seharian..</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://simplyvie.com/2009/05/06/pria-dan-gadis-kecilnya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengejar Matahari dan Janji Allah</title>
		<link>http://simplyvie.com/2009/02/20/mengejar-matahari-dan-janji-allah/</link>
		<comments>http://simplyvie.com/2009/02/20/mengejar-matahari-dan-janji-allah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Feb 2009 06:33:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ivie</dc:creator>
				<category><![CDATA[diary]]></category>
		<category><![CDATA[gerhana matahari cincin]]></category>
		<category><![CDATA[lampung]]></category>
		<category><![CDATA[Tuhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://simplyvie.com/?p=360</guid>
		<description><![CDATA[fiuhhh dah sebulan berlalu baru deh sempet nulis-nulis lagi di blog ini. Berita-berita GMC sendiri udah disebar sebenernya di Langitselatan dan Cosmic Diary. Perjalanan ekspedisi itu memang berakhir sukses dan membawa banyak pengalaman buat tim kami. Tak hanya itu, ini pertama kalinya saya belajar untuk memimpin sbeuah ekspedisi yang dimulai dengan mimpi dan idealisme.
Keinginan untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>fiuhhh dah sebulan berlalu baru deh sempet nulis-nulis lagi di blog ini. Berita-berita GMC sendiri udah disebar sebenernya di <a href="http://langitselatan.com/2009/01/28/mengejar-matahari-di-lampung/" target="_blank">Langitselatan</a> dan <a href="http://cosmicdiary.org/blogs/avivah_yamani_riyadi/?p=67" target="_blank">Cosmic Diary</a>. Perjalanan ekspedisi itu memang berakhir sukses dan membawa banyak pengalaman buat tim kami. Tak hanya itu, ini pertama kalinya saya belajar untuk memimpin sbeuah ekspedisi yang dimulai dengan mimpi dan idealisme.<span id="more-360"></span></p>
<p>Keinginan untuk membagi pndidikan pada rekan-rekan di Lampung dan keinginan untuk memotret gerhana membawa kami menuju Lampung yang menjadi area pusat dimana GMC bisa terlihat dengan baik. Ekspedisi ini pernah dirancang bersama Ical sebelum dia kemudian pergi meninggalkan kami selama-lamanya tahun lalu. Mimpi itu pernah terkubur dan akhirnya muncul lagi.</p>
<p>Saya sendiri awalnya tak pernah yakin untuk pergi ke Lampung ada banyak pertimbangan seperti dana dll yang membuatku ragu.  Ada banyak hal yang terjadi di balik semua perencanaan itu&#8230;walau ada sebuah janji yang muncul disana.</p>
<p>Janji &#8220;Aku akan menyediakan segalanya&#8221;. Janji yang pernah kupegang dan kuyakini namun karena banyak hal keyakinan akan janji itu sempat runtuh.. dan aku berjalan dalam keraguan dan kepanikan untuk mempersiapkan segalanya. Sampai akhirnya aku melihat janji itu dipenuhi. Ia memang menyediakan segalanya. Lokasi yang dianggap tidak ideal oleh banyak orang termasuk olehku menjadi tempat paling ideal untuk pengamatan. Perjalanan yang awalnya hanya untuk pengamatan dan berbagi astronomi di kota Lampung juga merambah area pos penginjilan di sbeuah dusun yang cukup jauh dari kota.</p>
<p>Di dusun inilah aku melihat betapa iman itu sangat sederhana. Sesuatu yang telah kubuat rumit dan membuatku ragu dan menjauh. Iman dalam sebuah doa, &#8220;Tuhan berikanlah cuaca yang baik untuk bisa mlihat Gerhana&#8221;. Wow&#8230; doa itulah yang kemudian menyentakku dan menyadarkanku betapa aku telah beralan menjauh di antara keraguan yang menyeruak hadir saat minggu-minggu persiapan.</p>
<p>Janji yang Allah berikan dimulai dengan &#8220;Akulah yang menyediakan segala sesuatu&#8221; dan berakhir dengan &#8220;Kamu telah menerima semuanya&#8221;. Akhirnya bisa aku pahami setelah melalui banyak hal. Ketersediaan yang aneh.. karena memang tak pernah sesuai dengan apa yang kuharapkan.. namun Ia sungguh memenuhi janjiNya.  Dan aku melihat betapa rapuhnya diriku hanya untuk meyakini sebuah janji dari Sang Pemilik semesta.</p>
<p>Yang dibutuhkan memang hanyalah iman yang sebesar biji sesawi saja untuk memindahkan gunung. Namun teryata untuk memiliki iman seperti itu aku masih harus terus belajar.. dalam ketaatan yang panjang. Ketaatan dimana aku harus terus berjalan dan tak pernah berhenti atau berbelok..</p>
<p>Nah diakhir tulisan ini, untuk sekedar berbagi hasil pengamatan kami, ini beberapa foto yang kuambil dnegan kameraku. Foto yang lebih baik resolusinya silahkan dilihat di <a href="http://langitselatan.com/2009/01/28/mengejar-matahari-di-lampung/" target="_blank">Langitselatan</a></p>
<p style="text-align: center;"><div class="wp-caption alignnone" style="width: 510px"><a href="http://farm4.static.flickr.com/3389/3235290320_e55e53105a.jpg?v=0"><img src="http://farm4.static.flickr.com/3389/3235290320_e55e53105a.jpg?v=0" alt="Bersembunyi di balik awan" width="500" height="375" /></a><p class="wp-caption-text">Bersembunyi di balik awan</p></div></p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;"><div class="wp-caption alignnone" style="width: 510px"><a href="http://farm4.static.flickr.com/3408/3234439507_5a1ece05d3.jpg?v=0"><img src="http://farm4.static.flickr.com/3408/3234439507_5a1ece05d3.jpg?v=0" alt="Ngamat dengan kacamata gerhana" width="500" height="375" /></a><p class="wp-caption-text">Ngamat dengan kacamata gerhana</p></div></p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;"><div class="wp-caption alignnone" style="width: 510px"><img src="http://farm4.static.flickr.com/3301/3235290642_940d68dddd.jpg?v=0" alt="The Ring. Canon PowerShot A570 IS" width="500" height="375" /><p class="wp-caption-text">The Ring. Canon PowerShot A570 IS</p></div></p>
<p style="text-align: center;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://simplyvie.com/2009/02/20/mengejar-matahari-dan-janji-allah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Walking by faith</title>
		<link>http://simplyvie.com/2009/01/20/walking-by-faith/</link>
		<comments>http://simplyvie.com/2009/01/20/walking-by-faith/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Jan 2009 04:02:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ivie</dc:creator>
				<category><![CDATA[christian]]></category>
		<category><![CDATA[christmas]]></category>
		<category><![CDATA[daily bread]]></category>
		<category><![CDATA[diary]]></category>
		<category><![CDATA[iman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://simplyvie.com/?p=336</guid>
		<description><![CDATA[Hmm nggak banyak yang bisa disampaikan sekarang karena saya pun masih belajar untuk tetap tekun dan setia berjalan di dalam iman. Ada banyak kejadian yang mengajarkan saya untuk tetap teguh.. ada teguran dan sapaan yang membawaku pada keyakinan untuk tetap bersandar kepada Dia. Namun di balik itu ada sisi lain yang terus mengguncangku untuk goyah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="attachment wp-att-337" href="http://simplyvie.com/2009/01/20/walking-by-faith/footsteps-in-the-sand/"><img class="alignleft size-medium wp-image-337" style="margin: 10px;" title="footsteps-in-the-sand" src="http://simplyvie.com/wp-content/uploads/2009/01/footsteps-in-the-sand-300x197.jpg" alt="footsteps-in-the-sand" width="176" height="115" /></a>Hmm nggak banyak yang bisa disampaikan sekarang karena saya pun masih belajar untuk tetap tekun dan setia berjalan di dalam iman. Ada banyak kejadian yang mengajarkan saya untuk tetap teguh.. ada teguran dan sapaan yang membawaku pada keyakinan untuk tetap bersandar kepada Dia. Namun di balik itu ada sisi lain yang terus mengguncangku untuk goyah dan terbawa gelombang. Ada gelombang kekawatiran, kemarahan dan kekecewaan. Kadang ada kesombongan yang menyeruak hadir membawa saya terhempas dalam kecewa &#8230;</p>
<p>Namun inilah perjalanan .. seperti seorang pengembara yang terus maju, saya tak lagi bisa berhenti dan berbalik. Saya harus terus berjalan meniti visi dan harapan yang sudah diberikan. Berjalan terus dan tetap di jalanNya. Ternyata memang semua tak semudah yang dikatakan..<span id="more-336"></span></p>
<p>Tapi akhirnya saya berhenti di titik ini kembali pada sebuah teguran yang hadir di awal tahun&#8230; berdiamlah di rumah Tuhan. Sederhana namun untuk benar-benar berhenti dan berdiam buatuh sebuah kekuatan dari Dia untuk dilakukan. Inilah aku berdiam dalam perjalanan pengembaraanku&#8230; menantikan Allah. dan kemudian berjalan di dalam iman bersamaNya.</p>
<p>Berjalan di dalam iman bukan berarti semua masalah telah terpecahkan tapi percaya bahwa semuanya akan disediakan jalan keluarNya sesuai kehendakNya.</p>
<p>Berjalan di dalam iman bukan apa yang kita pinta dan harapkan akan terpenuhi dan diberikan. Tapi percaya bahwa setiap kebutuhan dan keperluan akan dicukupkan oleh Dia sang pemilik kehidupan.</p>
<p>Berjalan di dalam iman memang tak membuat kita bisa melihat problema dan berkat yang akan ada di depan kita. Namun dengan iman kita percaya bahwa tangan Tuhan tak pernah melepaskan kita ketika kita berhadapan dengan badai dan percaya bahwa Ia menyediakan berkat di jalan di depan kita..</p>
<p>Namun untuk tiba dan menemukan semua itu kita harus percaya&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://simplyvie.com/2009/01/20/walking-by-faith/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cosmic Diary</title>
		<link>http://simplyvie.com/2009/01/04/cosmic-diary/</link>
		<comments>http://simplyvie.com/2009/01/04/cosmic-diary/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Jan 2009 17:12:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ivie</dc:creator>
				<category><![CDATA[astronomy]]></category>
		<category><![CDATA[diary]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://simplyvie.com/?p=317</guid>
		<description><![CDATA[Semua dimulai di akhir tahun 2007 di Athena, sebuah kota tua yang penuh dengan sejarah dunia. Dalam pertemuan Communicating Astronomy with the Public, saya mengajukan diri untuk bekerja dalam task group cosmic diary cornerstone project,  yang merupakan bagian dari International Year of Astronomy 2009.

Yang nggak pernah saya sangka.chair Cosmic Diary justru mengundang saya untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Semua dimulai di akhir tahun 2007 di Athena, sebuah kota tua yang penuh dengan sejarah dunia. Dalam pertemuan <em>Communicating Astronomy with the Public</em>, saya mengajukan diri untuk bekerja dalam <em><a href="http://astronomy2009.org/globalprojects/cornerstones/cosmicdiary/">task group cosmic diary cornerstone project, </a></em> yang merupakan bagian dari <a href="http://astronomy2009.org" target="_blank"><em>International Year of Astronomy 2009.</em></a></p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://cosmicdiary.org/"><em><img title="cosmicdiary_white" src="http://simplyvie.com/wp-content/uploads/2009/01/cosmicdiary_white.png" alt="cosmicdiary_white" width="300" height="103" /></em></a><span id="more-317"></span></p>
<p>Yang nggak pernah saya sangka.<em>chair Cosmic Diary</em> justru mengundang saya untuk ikut terlibat sebagai blogger disana. Wow&#8230; berbagi pengalaman dalam sebuah komunitas blog profesional benar-benar jadi sebuah penghargaan dan apresiasi atas apa yang sedang saya bangun saat ini.</p>
<p>So akhirnya saya pun terlibat tak hanya dalam <em>task group</em> GTTP dan <em>cosmic diary</em> namun juga sebagai <a href="http://cosmicdiary.org/blogs/avivah_yamani_riyadi/" target="_blank">blogger <em>cosmic diary</em></a>.</p>
<p>tapi apa sih <em>Cosmic Diary?</em></p>
<p><a href="http://www.cosmicdiary.org/" target="_blank"><em>Cosmic diary</em></a> bukan sekedar mengenai astronomi tapi lebih kepada bagaimana menjadi seorang astrono. Tujuan cosmic diary justru untuk memberikan wajah yang lebih humanis dari astronomi. Disini para astronom profesional akan menulis blog tentang kehidupan mereka, keluarga, teman, hobi dan ketertarikan mereka. Tapi tidak hanya itu, mereka juga akan menuliskan mengenai pekerjaan mereka termasuk hasil penelitian terbarunya.</p>
<p>Para blogger berasal dari berbagai belahan bumi dan diluar ruang kerjanya, mereka adalah musisi, ibu, ayah, fotografer, atlit. astronom amatir. Sementara di dalam lingkup kerjanya, mereka adalah manajer, pengamat. mahasiswa, astronom, data analis, dan pembuat instrumen.</p>
<p>Diharapkan melalui proyek ini, para blogger akan menjelaskan satu aspek khusus yang menjadi bidangnya pada publik. Selain itu diharapkan akan terbangun komunikasi di antara para blogger dan pembaca. Tantangannya adalah bagaimana para blogger ini menuliskan dalam bahasa yang mudah dimengerti.</p>
<p>Sejak tanggal 1 Januari 2009, blog Cosmic Diary sudah dapat diakses. Di dalamnya terdapat 50 blogger yang terpilih dari berbagai negara dan dari institusi  seperti NASA, ESA, JAXA, dan ESO.</p>
<p>Dari asia tenggara, ada 3 orang blogger yang berkesempatan menjadi blogger <em>cosmic diary</em> bersama astronom dunia yakni, <a href="http://cosmicdiary.org/blogs/avivah_yamani_riyadi/" target="_blank">saya</a> (Indonesia), <a href="http://cosmicdiary.org/blogs/emanuel_sungging_mumpuni/" target="_blank">Emanuel Sungging Mumpuni</a> (Indonesia) dan <a href="http://cosmicdiary.org/blogs/rogel_sese/" target="_blank">Rogel Sese</a> (Filipina). Bagi kami ini adalah sebuah kesempatan untuk bisa berbagi pengalaman dan perjalanan juga tentang astronomi kepada publik.</p>
<p>Selamat menikmati.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://simplyvie.com/2009/01/04/cosmic-diary/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Serpihan Perjalanan Lentera Hatiku</title>
		<link>http://simplyvie.com/2008/12/15/serpihan-perjalanan-lentera-hatiku/</link>
		<comments>http://simplyvie.com/2008/12/15/serpihan-perjalanan-lentera-hatiku/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Dec 2008 16:15:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ivie</dc:creator>
				<category><![CDATA[daily bread]]></category>
		<category><![CDATA[diary]]></category>
		<category><![CDATA[lentera jiwa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://simplyvie.com/?p=267</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa hari lalu saat sedang menelusuri video lagu-lagu era saya masih berseragam di youtube, saya justru menemukan video lagu  Lentera Jiwa, single baru yang dibawakan oleh Nugie. Seperti biasa, lagu dengan makna yang cukup dalam dan menyentuh. Lagu yang bercerita tentang sebuah pencarian dalam hidup dan perjalanan mengikuti nurani.
Sejenak saya seperti berkaca melihat kehidupan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignright" style="margin: 10px;" src="http://cache.daylife.com/imageserve/075C96Obls7du/610x.jpg" alt="" width="200" />Beberapa hari lalu saat sedang menelusuri video lagu-lagu era saya masih berseragam di <a href="http://youtube.com" target="_blank">youtube</a>, saya justru menemukan <a href="http://www.youtube.com/watch?v=pzOz40hwojw" target="_blank">video</a> lagu  <a href="http://www.lenterajiwa.com/" target="_blank">Lentera Jiwa</a>, single baru yang dibawakan oleh <a href="http://nugietrilogy.blogdetik.com" target="_blank">Nugie</a>. Seperti biasa, lagu dengan makna yang cukup dalam dan menyentuh. Lagu yang bercerita tentang sebuah pencarian dalam hidup dan perjalanan mengikuti nurani.</p>
<p>Sejenak saya seperti berkaca melihat kehidupan saya sendiri. Semua seperti mengalir dalam sebuah sungai yang penuh riak dan kadang terantuk batu dan kerikil. Tapi walau demikian saya menikmatinya. Sudahkah saya menemukan lentera jiwa saya? Itu pertanyaan yang sesaat muncul namun kemudian akan tenggelam hilang di antara deru kesibukan sehari-hari.  <span id="more-267"></span></p>
<p>Saat mendengar lagu tersebut, saya seperti disadarkan.. inilah jalan yang saya pilih&#8230; mimpi yang sedang saya jajaki dalam realita.. sebuah perjalanan memenuhi visi dari Dia yang memberi anugerah. Mimpi itu dimulai beberapa tahun lalu dalam hempasan kegagalan&#8230; yang membuatku sejenak berhenti merajutnya. Dan ketika kuberanikan diri untuk merajut kembali setahun lalu&#8230; disanalah kutemukan hangatnya senyuman mereka yang kuhampiri. Di jalan inilah kutemukan ladangku, tanah untuk dibajak, diberi pupuk, ditaburi benih&#8230; disiangi.. disemai&#8230;&#8230; inilah perjalananku mengikuti visiNya yang jadi lentera hatiku sendiri.</p>
<p>Perjalanan ini baru dimulai&#8230; baru menapaki satu tangga kehidupannya. Di hadapanku masih ada ribuan anak tangga untuk dinaiki. Masih terbentang panjang jalan dengan lorong-lorong gelap yang harus kulalui. Entah berapa banyak teriakan, kemarahan dan mungkin kekecewaan akan menantangku. Namun yang kutahu pasti ketika harapan dipupuk ia tak kan sia-sia, apalagi jika Ia yang jadi sumber pengharapan menjadi sandaranku. Akan ada banyak sukacita.. yang mengisi bahkan lorong-lorong gelap itu.</p>
<p>Perjalanan ini memang baru kumulai. Ada banyak kasih karunia yang tercurah, namun disana juga ada tangisan pilu kegagalan yang menghantamku dan membuatku menjauh dariNya. Sebuah teguran kurasakan saat malam itu melakukan blogwalking dan membaca tulisan sang empunya single tentang <a href="http://nugietrilogy.blogdetik.com/2008/10/21/kampanye-lentera-jiwa" target="_blank">Kampanye Lentera Jiwa</a>. Dalam artikelnya, Nugie menulis :</p>
<blockquote><p>Bahwa lentera jiwa bukan menuntut kesempurnaan, kenyamanan, kemapanan, bahkan perencanaan. Tapi mungkin hanya sekedar ketulusan, kejujuran, kesederhanaan, dan kepolosan dari jiwa.</p></blockquote>
<p>Ah&#8230; akhir-akhir ini saya seperti berada dalam kelelahan menjalani semua. Satu per satu masalah yang menimpa, mengajarku untuk tetap bersukacita dan sabar. Namun kadang jauh di kedalaman jiwa ada kelelahan yang tersamar di antara senyum. Kini kutahu mengapa. Terlalu banyak tuntutan akan kesempurnaan, perencanaan, kemapanan&#8230; padahal yang dibutuhkan hanyalah ketulusan, kesederhanaan, kejujuran dan kepolosan jiwa.</p>
<p>Ah&#8230; terimakasih Tuhan..</p>
<p>Saya hampir saja kehilangan semua itu hanya karena melihat dunia yang begitu penuh dengan kemunafikannya. Saya hampir saja melepaskan semua itu ke dalam lautan keinginan dan ambisi. Saya hampir membiarkan diri ini kehilangan senyum ceria dan wajah polos kanak-kanak yang gembira mengenal alam semesta ini.</p>
<p>Dan sama seperti syair dalam single itu, inilah yang akan terus jadi perjalanan saya, mengikuti lentera jiwaku dan menjadi terang karena pelita yang diletakan dibawah gantang tidak akan ada gunanya. Tanpa ketulusan dan kasih.. semua yang kulakukan tak lebih dari kesia-siaan. Hanya satu yang terucap kini, Bapa isi hati ini dengan kasih yang mengalir tanpa henti&#8230;</p>
<blockquote><p>Kubiarkan,kumengikuti,suara dalam hati, yang selalu membunyikan cinta. Kupercaya dan kuyakini, murninya nurani, menjadi penunjuk jalanku, lentera jiwaku (<a href="http://www.lenterajiwa.com/" target="_blank">Lentera Jiwa</a>, Nugie)</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://simplyvie.com/2008/12/15/serpihan-perjalanan-lentera-hatiku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aku dan Dia</title>
		<link>http://simplyvie.com/2008/11/17/aku-dan-dia/</link>
		<comments>http://simplyvie.com/2008/11/17/aku-dan-dia/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 Nov 2008 16:51:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ivie</dc:creator>
				<category><![CDATA[diary]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://simplyvie.com/?p=246</guid>
		<description><![CDATA[keresahan itu hadir tanpa bisa kutepis. Terselubung dalam rasa yang ada selama bertahun-tahun. Entahlah, aku pun tak mampu menjawabnya&#8230; aku tau tahu mengapa aku terpuruk dalam gelisah. Tak tahu? Ataukah aku hanya berpura-pura tak tahu?
Pertanyaan dan kegelisahan yang dulu ada saat kanak-kanak tiba-tiba menyeruak.. merangsek masuk dalam kehidupanku. Membawaku lelap dalam kalut&#8230;. sampai beberapa menit [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>keresahan itu hadir tanpa bisa kutepis. Terselubung dalam rasa yang ada selama bertahun-tahun. Entahlah, aku pun tak mampu menjawabnya&#8230; aku tau tahu mengapa aku terpuruk dalam gelisah. Tak tahu? Ataukah aku hanya berpura-pura tak tahu?</p>
<p>Pertanyaan dan kegelisahan yang dulu ada saat kanak-kanak tiba-tiba menyeruak.. merangsek masuk dalam kehidupanku. Membawaku lelap dalam kalut&#8230;. sampai beberapa menit lalu.</p>
<p>Sebuah cerita hadir&#8230; adakah sebuah kebodohan aku melepaskan sebuah kesempatan yang kudapat dahulu ataukah berkat untukku?<span id="more-246"></span></p>
<p>Sesaat aku merasa itu kebodohan sampai kelembutan itu menyapaku&#8230;mengingatkanku kalau pilihan itulah yang memang harus kulakukan. Perjalanan dan pertandingan ini masih berlangsung. Namun akankah kulangsungkan dalam kehendakNya? ataukah aku akan memilih berbalik dariNya mengejar sebuah predikat sukses? Predikat yang belakangan jadi kabur maknanya. Apakah sukses selalu berkait dengan materi dan jabatan?  Entahlah&#8230; aku pun tak punya jawabannya&#8230;..</p>
<p>Yang kutahu.. hidupku adalah berkat dan kasih karunia yang kuterima untuk mengenalNya dan berjalan dalam visiNya. Walau aku pun menyadari perjalanan ini sering membentur karang dan tembok. Tembok yang tak terlihat bentuknya.</p>
<p>Marah.. kecewa&#8230;. namun akhirnya kusadari tembok itu akulah yang membangunnya. Tembok dosa yang merintangiku datang menghampiriNya. Namun Ia jugalah yang meruntuhkan tembok itu dan menggapaiku kembali. Akankah kugantikan semua dengan kesuksesan semu ciptaan manusia?</p>
<p>Tanya itu kadang menyeruak namun tak lagi mengusiku. Yang kutahu aku harus terus berjalan mengikuti langkah yang sudah ditentukanNya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://simplyvie.com/2008/11/17/aku-dan-dia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Selamat Jalan Kawan….</title>
		<link>http://simplyvie.com/2008/11/07/selamat-jalan-kawan%e2%80%a6/</link>
		<comments>http://simplyvie.com/2008/11/07/selamat-jalan-kawan%e2%80%a6/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 Nov 2008 00:15:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ivie</dc:creator>
				<category><![CDATA[diary]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[astro 97]]></category>
		<category><![CDATA[astronomi]]></category>
		<category><![CDATA[faizal riza]]></category>
		<category><![CDATA[langitselatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://simplyvie.com/?p=241</guid>
		<description><![CDATA[In Memoriam of Faizal Riza (Makassar, 24 Mei 1979 &#8211; Makassar, 31 Oktober 2008)
”Semua orang sibuk berkata-kata tanpa peduli apakah ada orang lain yang mendengarnya. Bahkan mereka juga tidak peduli dengan kata-katanya sendiri. Sebuah dunia yang sudah kelebihan kata-kata tanpa makna. Kata-kata sudah luber dan tidak dibutuhkan lagi. Setiap kata bisa diganti artinya. Setiap arti [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>In Memoriam of Faizal Riza (Makassar, 24 Mei 1979 &#8211; Makassar, 31 Oktober 2008)</p>
<blockquote><p>”Semua orang sibuk berkata-kata tanpa peduli apakah ada orang lain yang mendengarnya. Bahkan mereka juga tidak peduli dengan kata-katanya sendiri. Sebuah dunia yang sudah kelebihan kata-kata tanpa makna. Kata-kata sudah luber dan tidak dibutuhkan lagi. Setiap kata bisa diganti artinya. Setiap arti bisa diubah maknanya.”(<a href="http://lelakisenja.blogspot.com/" target="_blank">Faizal Riza</a>)<span id="more-241"></span></p></blockquote>
<p><img class="alignright" style="float: right; margin: 10px;" src="http://simplyvie.com/wp-content/uploads/2008/11/ical1.jpg" alt="" height="200" />”Vi dimana lokasi <em>fixed</em> GMC2009? Gue mau ikut risetnya kalau ada”<br />
”Kasih tau apa yang harus disiapin, gue mau bawa <em>full gear</em>.”</p>
<p>Itulah selintas kata-kata yang ia ungkapkan dalam salah satu <em>chatting</em> kami. Ical yang selalu semangat untuk kembali beraktifitas di astronomi. Sekali waktu dia bahkan berkata. ”Lo kudu ikut ke Lampunglah.. masa gue ikut gerhana disana sendiri?” ”Kalau <a href="http://langitselatan.com" target="_blank">langitselatan</a> mau kesana diriku boleh nebeng nama nggak?”</p>
<p>Saat itu terbersit, ah cal… ”elo yang udah lama nggak di astro masih semangat buat ikut riset bukan buat sekedar having fun di gerhana. Lah yang lagi kuliah aja mungkin cuma ingin senang-senang”.</p>
<p>Tapi itulah Ical. Berulang kali dia menanyakan kesempatan untuk S2, mulai dari beasiswa yang bisa didapat sampai semua kuliahnya dan yang paling utama, Ical masih ingin meneruskan TA-nya dulu. Buat Ical yang dibutuhkan bukan banyak bicara, tapi perencanaan yang matang dan lakukanlah rencana itu. Itu pesannya yang selalu ia katakan setiap kami ngobrol tentang langitselatan. Semangat yang tak pernah pudar.. keyakinan yang selalu terjaga.. idealisme yang tak pernah terkikis. Itulah kawan seangkatanku di astronomi 97, <a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=502380457&amp;ref=mf" target="_blank">Faizal Riza</a> yang juga alumni SMANSA Makassar.</p>
<p><img class="alignleft" style="float: left; margin: 10px;" src="http://farm2.static.flickr.com/1267/913544960_155fc8d392.jpg?v=0" alt="http://www.flickr.com/photos/simplyvie/913544960/in/set-72157601034011969/" width="250" />Kami bertemu pertama kali di SABUGA saat akan mengikuti acara untuk mahasiswa baru angkatan 1997 dalam balutan baju putih-putih. Sama seperti <a href="http://mmlubis.multiply.com/" target="_blank">Umar</a>, waktu itu saya merasa kok cowo-cowo astro nggak ok yah? Kok manis yah ga seperti bayangan saya. (bayangin apa coba?). Seiring waktu angkatan ini jadi kompak dengan caranya sendiri. Hobinya saja aneh.. suka ledek-ledekan.. tapi kita sama-sama tau kok kalau itu bentuk perhatian. Saat awal masuk, Ical-lah salah satu yang membuat saya merasa tak asing di tengah perantauan ini, mungkin karena kami sama-sama dari area Indonesia tengah dan timur dan sama-sama personel PMR. Selain itu kalau saya sakit atau pingsan (seperti saat interaksi 97), Ical akan selalu jadi penolong dan kawan yang mendampingi untuk memberi pertolongan pertama.</p>
<p>Semenjak awal masuk kuliah Ical sudah tertarik dengan segala sesuatu tentang lubang hitam dan perjalanan waktu ruang angkasa. Namun bukan Ical namanya kalau dia hanya diam dan kuliah. Tahun 1998, saat krisis moneter melanda negeri ini, tak segan ia turun langsung di lapangan melibatkan diri dalam arus pergolakan reformasi. Saat itu seluruh AS’97 selalu bolos kuliah demi demonstrasi. Buat Ical, perubahan bukan berarti harus berdiam, ia membawa dirinya masuk dalam arus pergolakan dan berada di front depan bersama rekan-rekan lainnya. Dari permintaan mengisi acara musik di musik sore, lahirlah sebuah band akustikan AS’97 yang terdiri dari <a href="http://lelakisenja.blogspot.com/" target="_blank">Ical</a>-<a href="http://teeyal.multiply.com/" target="_blank">Tia</a>-<a href="http://mmlubis.multiply.com/journal/item/172/Si_Ical_Si_Betty_Saudara_Sepemuhriman?replies_read=34" target="_blank">Umar</a>-<a href="http://iyam103.multiply.com/" target="_blank">Iyam</a>. Dari merekalah lahir <a href="http://simplyvie.com/2008/11/07/reformasi-atau-revolusi/" target="_blank">lagu reformasi</a> dan lagu kampus yang menjadi <a href="http://simplyvie.com/2008/11/07/demi-tuhan-bangsa-dan-almamater/" target="_blank">Hymne KM-ITB</a> dan terus membahana hingga hari ini.</p>
<p><img class="alignright" style="float: right; margin: 10px;" src="http://farm2.static.flickr.com/1069/912691843_8d08942982.jpg?v=0" alt="http://www.flickr.com/photos/simplyvie/912691843/in/set-72157601034011969/" width="250" />Ical tak hanya pandai memetik gitar di depan banyak orang, tangannya tak pernah berhenti terulur untuk mereka yang membutuhkan. Untuk kawannya, untuk orang yang ia temui dan orang yang mendapat empatinya.</p>
<p>Dari pergerakan tahun 1998, Ical kembali ke HIMASTRON, membangun keluarga kecil terkasih yang senantiasa setia dengan alam semesta. Ia kemudian menjadi ketua HIMASTRON sambil terus berkiprah di PSIK dan juga berkiprah di tengah kuliah-kuliah yang harus dijalani di Fisika. Kalau semenjak di ITB saya tak lagi mengikuti kegiatan PMI, Ical justru menjadi salah satu yang aktif saat KSR hadir di ITB.</p>
<p>Bagi kami angkatan 97 yang dominan cewe-cewenya, para cowo selalu jadi tumbal keisengan kami. Imagenya di luaran yang gagah, macho, sangar, jantan harus terpatahkan karena berhadapan dengan kami. Ya iyalah.. Ical itu cowo yang cantik… manis, berambut lurus ala model sunsilk. Dan yang menyebalkan rambutnya lebih bagus dari rambut saya. Huh.</p>
<p>Ah… bagian kecantikannya ini masih jadi bahan godaan waktu <em>chatting</em> beberapa bulan lalu. Sampai dia meminta,” Vi lihat deh foto-foto gue di <a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=502380457&amp;ref=mf" target="_blank">facebook</a>. Di banding yang di flickr lo.. jauhhhhhhhhhhh.” terus enteng aja saya jawab..”iyah lo lebih manis dan culun di <a href="http://www.flickr.com/photos/simplyvie/" target="_blank">flickr</a> gue ”.</p>
<p>Ical bahkan pernah dilecehkan oleh Neflia yang pura-pura mau mencolek dagunya sambil tersenyum manis ala Lia. Atau pernah dibisiki lirih <em>“I love you “</em> oleh Ketut atas perintah kami. Yang langsung disambut oleh makian Ical di seberang sana. Atau Ical yang kami juluki betty di malam hari dan sering kami ledek sebagai pacarnya <a href="http://blog.menin1eastwing.com/" target="_blank">Erik</a> (FI’97).</p>
<p>Setelah berjuang melalui pintu maut ITB alias hampir DO karena kasus di kuliah Matematika dan Ruang Vektor, serta melalui perjuangan bersama rekan tercinta Ina, Ical pun menjadi sarjana Astronomi.</p>
<p><img class="alignleft" style="float: left; margin: 10px;" src="http://farm2.static.flickr.com/1398/912687493_6369086f0c.jpg?v=0" alt="http://www.flickr.com/photos/simplyvie/912687493/in/set-72157601032426648/" height="200" />Setelah lulus, Ical sempat menghilang dari peredaran dan kemudian bekerja di RAPI film, dan sering kami ledek sebagai perusak moral generasi muda. Mungkin karena memang bukan itu yang jadi idealismenya, Ical pun keluar. Dan saat terjadi Tsunami Aceh, Ical tidak hanya berdiam. Ia pergi menjadi sukarelawan dalam tim pertama yang diberangkatkan ke Aceh dari ITB. Di sana ia bahkan sempat membuat sebuah film dokumenter. Tak hanya Aceh. Saat gempa di bantul, Ical juga turun langsung mengulurkan tangannya membantu disana. Ia, sosok yang begitu dekat dengan rakyat yang ia sayangi dan ia bela. Ia tak pernah berhenti menghidupi idealisme di dalam dirinya, di saat orang-orang lain mungkin tengah sibuk mencari cara untuk mendapatkan uang dan kedudukan. Ical sosok yang memetik dawai gitar kehidupannya sendiri dalam lantunan yang indah dan penuh empati.</p>
<p>Ical kemudian bekerja di IMTV yang kemudian menjadi satu grup dengan MNC. Dan idealisme dan cita-citanya tak pernah pupus, ia masih terus bermimpi untuk memajukan bangsa lewat pendidikan dan astronomi lewat media tv. Sayang, waktu yang sering berbenturan dengan berbagai kegiatan membuat realisasi diskusi di dunia nyata tak pernah kami wujudkan. Di tengah kesibukannya, Ical masih mau mengajar kosmologi pada seorang anggota milis astronomi Indonesia.</p>
<p>Bulan puasa 2008, AS’97 seperti biasa kembali reuni. Ah kami selalu reuni kok tanpa bergantung waktu dan event. Hari itu kami berbagi cerita dan Ical menyatakan ketertarikannya untuk ikut dalam kegiatan <a href="http://astronomy2009.org/" target="_blank">International Year of Astronomy 2009</a>. Ah.. kawan kamu memang tak pernah berhenti berkarya. Lebaran hari kedua, saya, <a href="http://pengembaramalam.wordpress.com/" target="_blank">Dino</a> dan Ical berkumpul di rumah Umar.. ngobrol selama 7 jam dan ikut menikmati hidangan lebaran makan siang dan malam. Pulangnya sempat nyasar di Sarijadi dan menerobos jalan satu arah. Saat tiba di rumah saya, Ical meminta agar saya mengembalikan 2 dari 11 buku kosmologi yang pernah ia pinjamkan untuk saya saat meneruskan S2. Katanya, ”gue mo baca dan belajar lagi terus mau nulis tentang kaitan relativitas umum dengan GMC.”</p>
<p>Ah.. kawan…. andai ada banyak mahasiswa astronomi seperti dirimu….</p>
<p><img class="alignright" style="float: right; margin: 10px;" src="http://farm2.static.flickr.com/1135/912700555_59800e892a.jpg?v=0" alt="http://www.flickr.com/photos/simplyvie/912700555/in/set-72157601032426546/" height="200" />17 Oktober 2008, atas ajakan saya dengan sedikit rayuan maut, walau agak malu (katanya sih begitu), Ical datang menghadiri pertemuan IA Astronomi ITB. Di pertemuan ini ia dilibatkan dalam rencana pengadaan kongres alumni tahun 2009. Katanya, “vi gue malu udah lama ga ketemu dosen-dosen. Wah ga nyangka tadi ada bu Nana, gue ga berani nyapa.. ”(katanya sih malu dan segan karena lama tak bertemu).</p>
<p>Pulang pertemuan, akhirnya kami bersantai sambil makan di warung Pasta. Ical masih tetap sama, sosok yang cukup bawel tentang kopinya.. juga tentang sambal yang akan saya makan. Hari itu ia bersemangat sekali merencanakan ekspedisi Gerhana Matahari Cincin 2009, bahkan ia ingin pergi menikmati Gerhana Matahari Total 2009. Baginya, ia adalah bagian dari langitselatan. Langitselatan itu adalah kami dan kita bukan kamu dan kalian.</p>
<p>Hari itu setelah sempat menggodanya bahwa pertemuan itu adalah kencan saat menelpon Umar, kami pun berpisah diiringi tatapan kekesalannya saat saya meneriakinya,” Cal besok gue gosipin di milis yah kalau kita kencan.”</p>
<p>Minggu malam, sms terakhirnya berkata ,”vi, seperti dugaan gue ada yang ngambil berita u kita di spaceweek.” (tgl 18 Okt, langitselatan ikut acara spaceweek LAPAN). Yang kemudian saya balas ,”hah? Ada org MNC ngambil acara kencan kita??” dan dia jawab lagi, ”berita spaceweek oon.. hehehe”</p>
<p>Ah…. tak kusangka itulah ledekan dan keisengan terakhir padanya.</p>
<p>Hari jumat Umar mengirimkan sms. Ical sakit di RSHS … sabtu kita jenguk.</p>
<p>Sabtu siang ketemu <a href="http://sawung.blogspot.com/" target="_blank">Sawung</a> di <a href="http://www.plurk.com" target="_blank">plurk</a> dan YM, katanya Ical sudah dibawa ke Makassar. Kaget.. Makassar ngapain? Istirahat? Tak ada petunjuk apapun dari Sawung. Kalau istirahat baguslah. Tapi kalau pengobatan kenapa bukan Jakarta.</p>
<p>Kesibukan di ICMNS membuat saya lalai tidak mencari tahu, namun Jumat 31 Oktober jam 9.30 pagi berturut-turut sms dan telfon masuk mengabarkan Ical sudah meninggal dunia di Makassar. Kembali pulang dalam pelukan Sang Khalik.</p>
<p>Ah…. kawan dan saudara saya di AS’97 yang penuh idealisme itu telah kembali pada pertiwi.. membawa semua cita-cita dan idealismenya. Kawan yang sampai akhir tak pernah berubah jalan perjuangannya. Ia tetap Ical yang sama, saudara yang sama yang saya kenal saat masuk ITB, 11 tahun yang lalu. Ical yang dulu manis dan culun.. namun sekarang kaya oleh wawasan dan pengalaman, telah pergi dalam keheningan menuju keabadian.  Tapi satu yang juga tak berubah..ketulusannya, suaranya yang tegas dan lantang, keyakinannya dan… rambutnya yang panjang, lurus bak model sunsilk.</p>
<p style="text-align: center;"><img src="http://simplyvie.com/wp-content/uploads/2008/11/warung-pasta-2.jpg" alt="" width="400" height="300" /></p>
<p>Selamat jalan saudaraku.. selamat jalan kawanku…. perjuanganmu sudah selesai tapi idealisme dan cita-citamu akan terus hidup mengakar dan diwariskan pada generasi-generasi mendatang.</p>
<p>Untuk mengakhiri tulisan ini saya ingin mengutip kata-katanya, <strong>”astronomi itu ilmu sepanjang hidup..dari langit kita bisa membayangkan masa lalu dan masa depan.”</strong></p>
<p>***</p>
<p>Dari dunia blogosphere :<br />
<em><a href="http://mmlubid.blog.friendster.com/2008/11/634/" target="_blank">Si Ical, si Betty, Saudara Sepemuhriman</a><br />
<a href="http://esteenaut.wordpress.com/2008/10/31/lagu-untuk-ical-no-one-but-you-only-the-good-die-young-by-queen/" target="_blank">Lagu Untuk Ical: No One But You (Only The Good Die Young), By Queen</a><br />
<a href="http://tribas.wordpress.com/2008/11/02/remembering-ical/" target="_blank">Remembering Ical…</a><br />
<a href="http://blog.menin1eastwing.com/2008/11/06/selamat-jalan-saudaraku/" target="_blank">Selamat jalan saudaraku</a><br />
<a href="http://alamlau.blog.friendster.com/2008/11/sahabat-in-memoriam-rest-in-peace-bro/" target="_blank">Sahabat… In Memoriam… Rest In Peace Bro…</a><br />
<a href="http://daengrusle.com/2008/11/03/faisal-riza-seorang-kawan-yang-pergi-meninggalkan-senyum-di-pekarangan-hati-saya/" target="_blank">Faisal Riza &#8211; Seorang Kawan Yang Pergi Meninggalkan Senyum</a><br />
<a href="http://serbukmimpi.blogspot.com/2008/11/selamat-jalan-ical.html" target="_blank">Selamat Jalan Ical</a><br />
<a href="http://sawung.blogspot.com/2008/11/in-memoriam-faisal-riza-ical-psik-97.html" target="_blank">In-Memoriam Faisal Riza (Ical)</a><br />
<a href="http://pidonesta.multiply.com/journal/item/32/32" target="_blank">Friend</a><br />
<a href="http://lapitayu.blogspot.com/2008/11/selamat-jalan-septerra.html" target="_blank">Selamat Jalan Septerra</a><br />
<a href="http://restiadi.blogspot.com/2008/11/selamat-jalan-pejuang-in-memoriam-ical.html" target="_blank">Selamat Jalan Pejuang &#8211; In Memoriam Ical</a><br />
<a href="http://melangkahdiatasawanmelawanwaktu.blogspot.com/2008/10/in-memoriam-seorang-pejuang.html" target="_blank">In Memoriam Seorang Pejuang</a><br />
<a href="http://ayoe19.multiply.com/tag/in%20memorian" target="_blank">In Memoriam Faisal Riza &#8211; Ical</a><br />
<a href="http://haniefadrian.blog.friendster.com/2008/11/sumpah-pemuda-mati-muda/" target="_blank">Sumpah Pemuda, Mati Muda</a><br />
<a href="http://anzarra.multiply.com/journal/item/1050/Faisal_Riza_1979_-_2008" target="_blank">Faisal Riza (1979 &#8211; 2008)</a></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://simplyvie.com/2008/11/07/selamat-jalan-kawan%e2%80%a6/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
