God does’t impressed with mere appearances

As for those who seemed to be important–whatever they were makes no difference to me; God does not judge by external appearance–those men added nothing to my message. (Gal 2:6)

Saat membaca Galatia 2, ayat 6 ini sangat menarik perhatian. Sederhana tapi mengena. Allah tidak memandang muka. Kalimat ini mengingatkanku akan sesuatu yang seringkali hanya menjadi kata-kata yang kita ucapkan dalam keseharian dan kehidupan kita, kata-kata klise yang ternyata susah untuk diterapkan. Susah, ataukah tidak ingin kita terapkan?

Well sebelum masuk ke bagian itu, kita liat dulu isi Galatia 2 ini supaya bisa memperjelas kenapa kalimat itu muncul. Dalam Galatia 2, diceritakan mengenai Paulus yang disertai Titus dan Barnabas yang kembali ke Jerusalem dan berbicara di depan orang-orang terpandang di Jerusalem. Kedatangan Paulus pun bukan karena dia ingin datang atau karena dipanggil tapi karena mendapat penyataan dari Tuhan. Yang menarik dia tidak takut untuk berbicara dan menyatakan apa yang memang harus dinyatakan dihadapan orang-orang terpandang tersebut. Yang benar dikatakan benar, yang salah dikatakan salah. Sampai pada akhirnya Paulus menyatakan pendapatnya tentang orang-orang terpandang itu di ayat 6:

Dan mengenai mereka yang dianggap terpandang itu – bagaimana kedudukan mereka dahulu, itu tidak penting bagiku, sebab Allah tidak memandang muka – bagaimanapun juga mereka yang terpandang itu tidak memaksakan sesuatu yang lain kepadaku.

Pada akhirnya, di ayat 9 diceritakan bagaimana Yakobus, Yohanes dan Kefas yang dipandang sebagai sokoguru jemaat berjabat tangan dengan Paulus sebagai tanda persekutuan dan penerimaan. Tapi bagaimana dengan kita? Sudahkah kita tidak melihat orang dari apa yang tampak di luar?

Masih sering terdengar sebutan Pendeta besar…. apakah ada pendeta besar dan kecil di mata Tuhan? Kadang ketika kita berbicara dihadapan “orang-orang yang punya kedudukan” kita justru berbicara hal-hal yang manis didengar…. kenapa? Karena kita takut ? atau segan? Atau kita merasa diri kita lebih? Pernahkah kita berpikir bagaimana seandainya semua orang punya pekerjaan dan kedudukan yang sama? Yang muncul adalah sbeuah kepincangan. Inilah yang sering tidak kita sadari. Contoh sederhana : seandainya tidak ada satpam, cleaning service, tukang sapu jalan, tukang parkir…. apa jadinya kantor kita? Dan jalanan kita ? Tapi sayang, ego manusia sering membuat kita tidak melihat kesana.

Sadar atau tidak, kita sebagai manusia seringkali terjebak dalam realitas memandang seseorang dari apa yang terlihat. Wajah, pakaian, kedudukan, pekerjaan dan lain-lain, menjadi semcam identitas diri. Dan karena identitas yang terlihat manusia itulah, kita jadi memandang rendah orang lain, memandang rendah ornag yang tidak selevel dengan kita, atau malah jadi menganggap orang yang “level” nya lebih tinggi lebih pantas dihormati dan diagung-agungkan. Imbas lainnya kita seringkali tidak berani memperkatakan apa yang benar dan apa yang salah… kenapa? Karena takut kehilangan jabatan? Takut kehilangan relasi? Kadang kebenaran memang menyakitkan. Tapi kebenaran itu bukan sesuatu yang relatif yang bisa kita timbang-timbang.

Yang pasti Tuhan tidak melihat kita dari kedudukan, wajah, pakaian, dan semua yang tampak dari luar. Ia melihat kita sebagai biji mataNya, dan Ia mengasihi kita seutuhnya dalam seluruh kekurangan dan kelebihan kita. Kita yang penuh dosa dan kesalahan saja Ia terima, mengapa kita masih memandang seseorang dari apa yang tampak diluar?

Accept one another, then, just as Christ accepted you, in order to bring praise to God.

live by grace and mercy of the Lord. a pilgrimage in this world. astronomy communicator. food lovers. mac mania. gamers. chatters. wine and hang out lovers.

You may also like

One Comment

Leave a Reply

%d bloggers like this: